HILMI: Bahagia Menurut Islam adalah Taat kepada Allah

MediaUmat Menanggapi hasil survey Global Flourishing Study (GFS) 2025 yang menempatkan Indonesia di posisi teratas sebagai negara yang paling flourishing (tumbuh bermakna) dengan salah satu faktornya adalah kebahagiaan dan kepuasan hidup, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai kebahagian dalam Islam adalah ketika manusia dapat senantiasa taat kepada Allah dan sistem mendukung ketaatan itu.

“Bahagia menurut Islam adalah ketika manusia dapat senantiasa taat kepada Allah dan sistem mendukung ketaatan itu,” ujar HILMI dalam Intellectual Opinion-nya yang diterima media-umat.com, Selasa (13/1/2026).

Dalam Islam, jelas HILMI, kebahagiaan (sa‘ādah) bukan terutama keadaan emosional, melainkan keadaan hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Ini berbeda secara mendasar dari pengertian kebahagiaan modern yang sering direduksi menjadi subjective feeling (kepuasan hidup sesaat). Islam memandang manusia diciptakan dengan fitrah, dan syariat diturunkan bukan untuk membatasi kebahagiaan, tetapi untuk menjaganya agar tidak rusak oleh hawa nafsu dan ketidakadilan.

Dari perspektif Islam, HILMI melihat, terdapat beberapa kelemahan mendasar dalam konsep kebahagiaan modern. Pertama, reduksi kebahagiaan menjadi perasaan. Islam, sebut HILMI, menilai seseorang bisa “merasa senang” tetapi hidupnya rusak secara moral.

Kedua, netralitas nilai. Islam, jelas HILMI, menolak kebahagiaan yang dibangun di atas yang haram, meski subjektif terasa menyenangkan. Ketiga, individualisme. Islam, ungkap HILMI, menegaskan kebahagiaan sejati selalu berdimensi sosial dan ukhrawi.

“Karena itu, Islam membedakan antara surūr (kesenangan sesaat) dengan sa‘ādah (kebahagiaan hakiki),” jelasnya.

HILMI juga menjelaskan, dalam Islam kebahagiaan tidak pernah sepenuhnya individual. Konsep amar ma‘ruf nahi mungkar menunjukkan bahwa kebahagiaan personal bergantung pada kesehatan moral masyarakat.

“Oleh karena itu jika kemunkaran dibiarkan, maka seluruh masyarakat menanggung dampaknya, Dan jika kebaikan dijaga bersama, maka seluruh masyarakat memperoleh keselamatan. Ini paralel dengan temuan modern bahwa trust, norms, dan social cohesion adalah determinan utama well-being nasional,” jelasnya.

Terakhir HILMI menegaskan, negara bahagia dalam perspektif Islam bukan negara tanpa masalah, melainkan negara yang memfasilitasi hidup halal dan bermartabat, negara yang menegakkan keadilan muamalah, negara yang menjaga moral publik, negara yang membuka ruang dakwah amar ma‘ruf nahi mungkar dan negara yang menjadikan kesejahteraan manusia sebagai amanah, bukan sekadar target ekonomi.

“Dan di titik inilah tantangan Indonesia sesungguhnya berada,” pungkas HILMI.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: