MediaUmat – Bukan sekadar persoalan teknis yang sebenarnya menjadi akar persoalan karut-marutnya pengelolaan sampah di Tangerang Selatan ataupun berbagai kota di Indonesia, akar terdalamnya menurut Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) adalah ideologi istighnā
“Akar terdalam persoalan sampah adalah ideologi istighnā,” ungkapnya kepada media-umat.com, Kamis (22/1/2025).
Istighnā, jelas HILMI, adalah perasaan cukup dan berkuasa tanpa batas, seolah manusia tidak bergantung pada Allah dan alam.
Menurutnya, sampah adalah bukti material dari hilangnya pengendalian diri.
“Ia (sampah) menandai ketika manusia tidak lagi menjadi subjek yang mengendalikan nafsu, tetapi objek yang dikendalikan hasrat,” bebernya.
Padahal, tegas HILMI, Allah berfirman, yang artinya, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup” (QS al-‘Alaq: 6–7).
Menurutnya, ketika manusia merasa cukup secara material, ia lupa batas moral.
“Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, bukan ayat-ayat Allah. Sampah adalah jejak fisik dari kesombongan epistemik: manusia merasa bebas mengonsumsi tanpa konsekuensi,” ulasnya.
Sehingga, kritiknya, solusi teknis tanpa nilai selalu gagal.
Paradigma Alternatif
Lebih lanjut, ia menyampaikan, Islam menawarkan paradigma alternatif yang utuh.
“Dalam Islam, manusia sebagai khalifah, bukan konsumen tak terbatas. Harta sebagai amanah, bukan simbol identitas. Alam sebagai titipan, bukan objek eksploitasi,” tandasnya.
Kemudian, sambungnya, dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, pengelolaan sampah berkaitan langsung dengan: ḥifẓ al-nafs (menjaga kehidupan), ḥifẓ al-māl (menjaga harta publik, dan ḥifẓ al-bi’ah (penjagaan lingkungan sebagai prasyarat kehidupan).
“Jadi, teknologi, kebijakan, dan inovasi hanya akan efektif jika berdiri di atas kerangka ini,” ulasnya.
Pada kesempatan tersebut, HILMI menyampaikan, masalah sampah sering dipahami sebagai problem teknis: tempat pembuangan akhir yang penuh, teknologi daur ulang yang belum memadai, atau perilaku masyarakat yang dianggap kurang disiplin. Namun jika persoalan ini hanya diselesaikan pada level teknis, maka problem akan terus berulang dalam skala yang semakin besar layaknya ‘gunungan sampah di Tangsel’ sampai saat ini belum teratasi dengan baik.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat