Mediaumat.id – Direktur Indonesian Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana heran, atas informasi tema pengajian Khilafah Mengakhiri Hegemoni Dolar dengan Dinar dan Dirham yang disebut meresahkan hingga dipermasalahkan kelompok tertentu di Pasuruan beberapa hari lalu.
“Poin meresahkannya di sebelah mana?” ujarnya dalam rubrik Dialogika: Pengajian Khilafah Dibubarkan; Ilegal dan Membahayakan? di kanal YouTube Peradaban Islam ID, Sabtu (24/6/2023).
Menurutnya, selama tema yang disampaikan berasal dari ajaran Islam, maka enggak perlu dipermasalahkan.
Selain itu istilah ‘meresahkan’ pun tidak disampaikan dengan jelas tolok ukurnya seperti apa. “Itu yang enggak ada ukuran yang clear, yang jelas terkait dengan makna meresahkan itu,” tandasnya.
Padahal, kata Agung, apa pun temanya, yang paling penting adalah sesuai dengan hukum Islam atau tidak. Apalagi, kegiatan semacam pengajian termasuk hak konstitusional setiap warga negara.
Sehingga, mestinya harus pula saling menghormati. Termasuk jika terdapat khilaf, dalam hal ini khilafah, misalnya, yang sebenarnya adalah bagian dari ajaran Islam. “Kalau ajaran Islam ya berarti dia hal-hal yang harus dipahami sebagai ajaran, dan harus dihormati sebagai hal yang diajarkan di tengah-tengah masyarakat,” urainya.
Tawarkan Solusi
Sementara, tema pengajian di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang dipermasalahkan sejumlah warga beberapa hari lalu, ternyata bertajuk ‘Khilafah Mengakhiri Hegemoni Dolar dengan Dinar dan Dirham’, yang menurut Agung sebagai dedolarisasi yang pembahasannya pun sudah ramai sebelumnya.
“Ruang inilah kemudian dipikirkan, bagaimana kalau dinar dan dirham sebagai solusi,” tukasnya.
Terlebih, sebagaimana telah dipahami, dinar dan dirham adalah dua mata uang yang identik dengan perkembangan Islam, pun secara fakta, nilai tukarnya relatif stabil sepanjang zaman, karena mata uang ini memiliki nilai intrinsik sendiri, sehingga tidak menimbulkan inflasi yang besar.
“Nah kan kemudian gini, siapa yang mau menerapkan dinar dan dirham? Itu kan pertanyaannya kan?” lontarnya, seraya menyebut khilafah, seperti tema pengajian tersebut sebagai salah satu sistem alternatif yang disodorkan berikut sistem moneternya yang bakal menggeser hegemoni dolar Amerika Serikat selama ini.
Artinya, pengajian ini sebagai ruang argumentatif yang harusnya, mendudukkannya pun dengan akal sehat, bukan persekusi dan intimidasi. Untuk itu ia berharap, pikiran masyarakat berada pada kondisi saling terbuka. “Masyarakat negeri ini harus berada pada posisi saling terbuka, open mind,” harapnya.
“Ayo duduk, ngopi bersama untuk berdiskusi secara renyah. Bukan kemudian dikit-dikit ada pengajian dibubarkan, sedikit beda dibubarkan,” pungkasnya.[] Zainul Krian