Hasil Pertemuan antara Presiden AS dan Mitranya dari China di Korea Selatan

Presiden AS Trump dan Presiden China Xi mengadakan pertemuan 100 menit di Korea Selatan pada tanggal 30 Oktober 2025, di sela-sela pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-32, yang menghasilkan kesepakatan tentang hal-hal yang mereka umumkan dalam pernyataan mereka.

Trump menggambarkan pertemuan itu sebagai “luar biasa”, dengan mengatakan, “Kita sudah sepakat tentang banyak hal dan kita akan sepakati lebih banyak lagi sekarang … Saya yakin bahwa kita akan memiliki hubungan yang baik untuk jangka waktu yang lama.” Setelah pertemuan tersebut, Trump berkata di pesawatnya: “Tarif yang dikenakan Amerika terhadap China akan dikurangi dari 57% menjadi 47% … Semua masalah terkait mineral tanah jarang telah diselesaikan, dan perjanjian mengenai mineral tersebut akan berlaku selama satu tahun, dengan kemungkinan perpanjangan nanti … China telah setuju untuk mulai membeli produk energi Amerika … Presiden China telah memberikan izin untuk melanjutkan pembelian kedelai, sorgum, dan produk pertanian Amerika lainnya. China juga dapat membeli minyak dan gas dalam jumlah besar dari Alaska. Trump akan mengunjungi China April mendatang, dan Xi akan mengunjungi Amerika di kemudian hari.”

Xi berkata, “Perkembangan China sejalan dengan visi Trump untuk menjadikan Amerika hebat kembali … Saya telah berulang kali menyatakan di depan umum bahwa China dan AS harus menjadi mitra dan sahabat. Inilah yang diabutuhkan oleh dunia.” Xi meminta mitranya dari Amerika untuk “menjaga saluran komunikasi antara kedua negara tetap terbuka,” seraya menambahkan, “Saya siap untuk terus bekerja sama dengan Anda guna membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan China-AS.”

Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa kesepahaman telah dicapai di antara mereka mengenai isu-isu yang mereka umumkan, yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Meskipun isu-isu ini penting secara ekonomi bagi Amerika, isu-isu ini juga krusial dalam upayanya untuk mendekatkan dan menjauhkan China dari Rusia, sebagai bagian dari kebijakan pembendungan yang sedang diperjuangkan Amerika untuk diwujudkannya. Kesepahaman ini dapat dianggap sebagai insentif bagi China untuk mencapai tujuan ini.

Trump berusaha memberi kesan bahwa tidak ada lagi perselisihan dengan China, bahwa ia telah sepakat dengan mereka dalam segala hal, sebagai bagian dari metodenya untuk meraih kemenangan dan kesuksesan cepat, untuk menunjukkan kebesarannya dan tujuannya gua menjadikan Amerika hebat kembali.

Ada isu-isu politik yang sangat penting yang tidak dibahas secara terbuka dalam pertemuan mereka, seperti hubungan Rusia-China, perang di Ukraina, isu Taiwan, perlombaan senjata, pengembangan rudal nuklir, serta isu-isu teknologi canggih dan kecerdasan buatan. Ini adalah hal-hal yang tidak dapat diselesaikan dalam 100 menit atau bahkan 100 hari.

Amerika ingin membuat perjanjian tripartit dengan Rusia dan China untuk mencegah mereka mengembangkan senjata strategis, terutama rudal nuklir hipersonik. Amerika belum mencapainya, sehingga akan berupaya menawarkan insentif kepada China, sebagaimana halnya Rusia menawarkan insentif terkait Ukraina, dengan harapan hal tersebut akan tercapai.

China tampaknya tidak rela mengorbankan hubungan dekatnya dengan Rusia demi Amerika, yang berupaya merusak hubungan ini dan mendekatkan China dengan dirinya sendiri. China memahami bahwa Amerika akan mengkhianatinya di masa depan setelah mengisolasinya, dan akan mulai menekannya di berbagai bidang. Memang, hubungan China dengan Rusia merupakan aset berharga dan alat tawar-menawar terhadap tekanan dan ancaman Amerika, yang memaksa Amerika untuk berkompromi atas tuntutannya.

China tidak ingin mendukung Amerika di Ukraina melawan Rusia karena memiliki masalah serupa: aneksasi Taiwan, yang sedang diperumit oleh Amerika untuk mencegahnya terwujud. China telah mengadopsi kebijakan “Satu Tiongkok” sejak 1979, yang secara efektif berarti aneksasi Taiwan oleh China.

China tidak ingin berkompromi dalam isu pengembangan senjata strategis, terutama rudal nuklir. Hal ini memperkuat posisinya terhadap Amerika. Tanpanya, Amerika akan dengan mudah mendominasi China bahkan hingga menginvasi wilayahnya, menyerang inti wilayahnya, dan menghancurkan persatuannya. Setiap negara yang menginginkan kemerdekaan penuh dan mempertahankan kedaulatan serta persatuannya harus memiliki senjata yang dapat membuat musuh-musuhnya takut.

Perjanjian-perjanjian ekonomi ini tidak dijamin; Amerika akan segera mengingkarinya, sebagaimana sifatnya. Amerika mengumumkan sebuah perjanjian di bidang apa pun, tetapi dengan cepat menarik diri atau melanggarnya, membenarkan pelanggarannya dan mengingkarinya jika dianggap perjanjian tersebut tidak lagi menguntungkan kepentingannya atau melanggar kedaulatannya. Inti dari kebijakannya adalah kepentingan dan kedaulatannya sendiri. Oleh karena itu, Amerika berusaha memperluas pengaruhnya di mana-mana dan melemahkan pengaruh negara lain, baik kawan maupun lawan.

Inilah mengapa Amerika menghasut negara lain untuk melawan China, berupaya membentuk aliansi untuk melawannya, dan memperkuat pangkalan militernya di sekitarnya. Pidato Presiden Trump di atas kapal induk USS George Washington, di hadapan pasukannya di Jepang pada 28 Oktober 2025, sebelum pertemuan puncaknya dengan Xi Jinping, menegaskan hal ini. Trump menyombongkan diri dengan arogannya, “Kita memiliki senjata yang tidak ada seorang yang tahu sedikit pun tentangnya. Senjata itu adalah yang terkuat di dunia dan bahkan lebih canggih daripada apa pun yang dimiliki pihak mana pun.” Trump juga mengancam, dengan angkuhnya, “Kekuatan apa pun di dunia yang mencoba melampaui kita, kita akan menghancurkannya.” Trump mengirim pesan-pesan ancaman ke China sebelum bertemu dengan presidennya.

Siapa pun yang meninggalkan senjatanya dan mempercayai janji musuhnya, berarti menyerahkan diri. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Kazakhstan menyerahkan 1.000 rudal nuklirnya karena para pemimpinnya mempercayai Rusia untuk melindunginya. Ukraina menyerahkan 1.200 rudal nuklirnya, mempercayai janji Amerika dan Rusia untuk menjaga keamanannya. Kedua negara, Kazakhstan dan Ukraina, kemudian berada dalam kesulitan yang terus mereka hadapi.

Jadi, jelaslah bahwa langkah Trump menuju kesepahaman dengan China, dan upayanya untuk menggambarkannya sebagai sebuah keberhasilan, muncul setelah kegagalannya mencapai kesepahaman dengan Rusia. Setelah pertemuan pendahuluannya dengan Presiden Rusia Putin di Alaska pada 16 Agustus 2025, untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan di antara mereka, terutama perang Ukraina, Trump ingin bertemu dengannya di Hongaria bulan lalu, sebelum bertemu dengan presiden China di Korea Selatan. Namun, Trump membatalkan pertemuan tersebut karena ia mengetahui dari para diplomatnya yang mempersiapkan diri, terutama Menteri Luar Negerinya, yang melakukan panggilan telepon yang menegangkan dengan mitranya dari Rusia, bahwa tuntutannya tidak akan dipenuhi.

Seolah-olah Trump ingin mengirim pesan kepada Rusia: “Kami telah mencapai kesepakatan dengan China, dan kami akan mampu memenangkan mereka serta menjauhkan mereka dari Anda. Sehingga Anda tidak punya pilihan selain mencapai kesepahaman dengan kami, atau Anda akan kalah.”

Namun, poin-poin utama pertikaian antara Amerika dan China masih belum terselesaikan. Inilah sebabnya Trump akan mengunjungi China April mendatang dalam upaya mencapai kesepakatan, mengingat kebuntuan yang terjadi dengan Rusia. Sebaliknya, Rusia pasti memahami intrik Trump, kecuali jika Rusia melihat China mengambil langkah-langkah yang menunjukkan adanya jarak, yang sejauh ini belum terlihat.

Begitulah, kekuatan-kekuatan jahat ini bersekongkol melawan satu sama lain dan melawan pihak lain, terutama umat Islam. Sehingga hal ini mengharuskan umat Islam agar mendirikan negara yang membawa kebaikan, negara Khilafah ‘ala minhājin nubuwah untuk melawan mereka dan membersihkan dunia dari kejahatannya. [] Ustadz As’ad Manshur

Sumber: alraiah.net, 12/11/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: