FoCUS: Kasus Epstein Cerminan Krisis Moral Akibat Sekularisme

MediaUmat Peneliti Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Iwan Januar menilai kasus Jeffrey Epstein bukan sekadar kejahatan individu, melainkan cerminan krisis moral akibat sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

“Ada tatanan budaya dan nilai yang menciptakan karakter setan. Dalam kasus Epstein, kita bisa melihat bahwa sekularisme adalah filosofi yang melahirkan karakter setan dalam kehidupan Epstein dan orang-orang sekitarnya,” ujarnya dalam Sekulerisme Lahirkan S4tanic? di laman YouTube Khilafah News, Rabu (25/2/2026).

Iwan menegaskan, sekularisme yang awalnya muncul sebagai respons atas trauma sejarah Eropa terhadap pemanfaatan agama dalam politik, justru melahirkan persoalan baru berupa kekeringan spiritual dan kekosongan nilai moral.

“Ketika agama disingkirkan, dijauhkan dari kehidupan, termasuk dari politik dan pemerintahan, faktanya yang terjadi justru kekosongan spiritual dan hilangnya kompas moral yang hakiki,” kata Iwan.

Menurutnya, dalam kondisi tersebut, hawa nafsu dan kepentingan materi menjadi standar perilaku.

Ia menilai praktik penyimpangan yang dikaitkan dengan Epstein—mulai dari eksploitasi seksual hingga dugaan ritual menyimpang—merupakan bentuk pencarian spiritual yang salah arah akibat tercerabutnya nilai agama.

“Praktik satanisme yang dilakukan oleh Epstein, sebetulnya adalah panggilan dari kosongnya nilai spiritual dalam kehidupan mereka. Lalu mereka mencari cara ibadah yang menurut mereka pas dengan kehidupan mereka. Maka muncullah berbagai macam ritual satanis dan sekte-sekte keagamaan,” ujarnya.

Iwan mencontohkan sejumlah sekte keagamaan di Amerika Serikat yang berakhir menyimpang, seperti Heaven’s Gate dan Temple Jones, sebagai bukti bahwa kebebasan tanpa landasan wahyu dapat berujung pada tindakan irasional dan destruktif.

“Seorang ulama besar, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahumullah, dalam kitabnya Nizamul Islam menyatakan bahwa di dalam beragama, tidak bisa diserahkan pada akal, apalagi pada semata-mata insting manusia. Karena berujung pada munculnya tahayyul khurafat. Persis seperti yang dilakukan oleh Epstein dan jaringannya,” tuturnya.

Iwan pun mengingatkan agar Indonesia tidak abai terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, jika nilai agama tidak dijadikan fondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bukan tidak mungkin penyimpangan serupa dapat terjadi.

“Hati-hati, Indonesia termasuk negara yang menganut filosofi sekularisme, dan bukan tidak mungkin, jaring seperti Epstein ada dalam kehidupan di masyarakat Indonesia,” pungkasnya.[] Ikbal

 Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: