FoCUS Bongkar Kedangkalan: Menikah dan Anak adalah Privilege

MediaUmat Analis Politik Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Iwan Januar membongkar kedangkalan perspektif ‘pernikahan dan punya anak adalah privilege (hak istimewa) yang sudah berada di level financial freedom (kebebasan finansial)’.

“Bau kebenaran tercium sedikit dari perspektif itu, meski sebenarnya datang dari kedangkalan berpikir,” tuturnya kepada media-umat.com, Kamis (22/1/2026).

Pasalnya, jelas Iwan, semua orang sebenarnya berada dalam ketidakpastian hidup (uncertainity of life). Baik soal kematian termasuk soal pendapatan.

“Tidak ada satu pun dari kita yang bisa memastikan kondisi ekonomi kita esok hari, pekan depan, bulan depan, apalagi sepuluh tahun mendatang,” ujarnya.

Memang, jelasnya, ada momen seseorang berada dalam kebebasan keuangan, tetapi tak pernah ada yang tahu apakah selanjutnya akan begitu. Pandemi Covid 19 yang melanda dunia menyebabkan perubahan struktur ekonomi.

“Kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan besar dari sekitar 57,33 juta pada 2019 menjadi sekitar 47,85 juta pada 2024 (turun hampir 9,5 juta jiwa) karena pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Pandemi, lanjutnya, menyebabkan gangguan ekonomi besar-besaran; banyak perusahaan tutup atau mengurangi skala usahanya karena berkurangnya permintaan pasar, akibatnya terjadi PHK massal, daya beli menurun, dan UMKM pun menjadi terpuruk.

Akibatnya, jelas Iwan, banyak penduduk yang semula hidup mapan menjadi morat-marit. Keluarga yang tadinya aman secara keuangan menjadi jatuh miskin. Banyak orang menjual murah aset-aset yang mereka punya untuk biaya hidup sehari-hari.

“Muncul istilah warga dan pengusaha banyak makan tabungan mereka untuk kebutuhan hidup,” bebernya.

Usai pandemi, sebutnya, ekonomi memang kembali menggeliat. Namun tidak semua pengusaha dan keluarga bisa keluar dari kondisi kolaps. “Sebagian tetap kolaps, sebagian masih bertahan dengan keadaan stagnan, sebagian ada yang bisa kembali pulih seperti sedia kala,” tukasnya.

Jadi, lanjutnya, tidak ada yang pasti secara finansial dalam kehidupan. Orang kaya sekalipun bisa jatuh ke jurang kemiskinan. “Maka opini belum kaya jangan menikah dan jangan punya anak jadi tidak relevan. Siapa pun bisa terancam miskin kapan saja,” tandasnya.

Belum Tentu

Iwan juga mengingatkan, orang yang mapan secara ekonomi pun, belum tentu mau menikah. “Apakah kemudian warga dengan financial freedom bisa dan mau menikah? Tidak juga. Banyak orang yang dipandang punya kebebasan finansial justru menunda pernikahan dan menunda punya anak,” sebutnya.

Faktor penyebabnya, sebut Iwan, dari soal tidak siap secara mental, tidak mau melepaskan gaya hidup hedonisme, sampai takut tidak sanggup membiayai rumah tangga.

“Mungkin banyak orang tidak percaya kalau orang dengan penghasilan dua digit pun masih merasa insecure secara finansial. Kenapa? Psikologi orang dengan uang adalah semakin bertambah penghasilan seseorang semakin naik pula gaya hidupnya,” terangnya.

Lifestyle Inflation

Naiknya gaya hidup seiring bertambahnya penghasilan disebut sebagai lifestyle inflation dan hedonisme threadmill.

“Inilah yang disebut lifestyle inflation atau hedonisme threadmill. Ketika income seseorang meningkat, maka pola konsumsinya juga meningkat; dari makan di warteg ke restoran, dari kopi saset menuju kopi di kafe-kafe. Termasuk tentang biaya pernikahan dan biaya rumah tangga juga meningkat,” paparnya.

Kalau keluarga ekonomi bawah dan menengah berpikir melahirkan anak di bidan puskesmas atau RS umum, ungkap Iwan, keluarga dengan kelas ekonomi atas memilih RS premium. Memilih sekolah swasta yang mahal, bukan swasta yang biasa apalagi sekolah negeri.

“Inilah inflasi gaya hidup yang akhirnya membuat banyak anak muda tetap takut menikah sekalipun punya penghasilan lebih tinggi dibandingkan orang lain,” ujarnya.

Lifestyle inflation makin marak. Walhasil, sebut Iwan, terjadilah fenomena inflasi pernikahan di mana-mana. Jepang, Korea Selatan, beberapa negara Eropa, termasuk Indonesia.

Keadaan ini mengancam kekuatan suatu negeri di masa depan. “Apakah tetap mau mempertahankan pandangan kalau menikah dan punya anak hanyalah privilege orang berduit?” pungkasnya.[] Ajira

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: