FIWS: Tak Cukup Berduka, Indonesia Harus Serukan Mobilisasi Nyata

 FIWS: Tak Cukup Berduka, Indonesia Harus Serukan Mobilisasi Nyata

MediaUmat Menanggapi syahidnya (insyaallah) Direktur RS Indonesia dan keluarganya yang dibom entitas penjajah Zionis Yahudi, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menuturkan, Kemenlu RI semestinya tidak cukup hanya berduka tetapi harus mengecam Amerika Serikat dan menyerukan mobilisasi nyata ke Palestina.

“Kemenlu RI tidak cukup hanya berduka. Harus mengecam Amerika dan serukan mobilisasi nyata,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (3/7/2025).

Menurutnya, sikap Kementerian Luar Negeri RI yang hanya menyampaikan duka dan kecaman terhadap Israel dinilai tidak cukup dan tidak berdampak nyata. Dalam konteks kekejaman yang terus terjadi, Kemenlu semestinya tidak hanya mengecam Israel, tetapi juga secara terbuka mengecam AS sebagai aktor utama pendukung agresi militer Israel.

“Lebih dari itu, Indonesia sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar wajib mendorong mobilisasi kekuatan militer dunia Islam, bukan di bawah komando PBB yang terbukti mandul dan tak mampu menghentikan penjajahan serta genosida yang terus berulang,” ungkapnya.

Farid menilai, diplomasi pasif dan bergantung pada mekanisme internasional justru memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.

Tujuh Catatan Penting

Dalam kesempatan tersebut, Farid pun menyampaikan tujuh catatan pentingnya. Pertama, mengutuk kekejaman Zionis Yahudi terhadap tenaga medis dan keluarganya.

Menurutnya, ini mencerminkan bahwa serangan terhadap tenaga kemanusiaan menunjukkan dehumanisasi sistematis yang dilakukan oleh Israel. Dari hukum internasional, membunuh tenaga medis dan warga sipil adalah kejahatan perang.

“Namun, kritik tajam muncul semestinya bukan hanya sebatas mengutuk karena hal itu tidak memberi efek jera atau perlindungan nyata bagi korban,” katanya.

Kedua, mengkritik Amerika Serikat sebagai pendukung utama Israel. Amerika Serikat secara historis adalah pendukung militer, ekonomi, dan politik utama Israel.

“Kritik ini menyoroti kemunafikan nilai-nilai HAM yang kerap diklaim AS. Dalam pandangan ideologis anti-imperialis atau Islam politik, AS dianggap sebagai kekuatan penjajah modern yang menopang entitas kolonial Zionis,” kata Farid.

Ketiga, kegagalan PBB dan OKI. PBB hanya berfungsi sebagai alat diplomatik yang dikendalikan oleh negara-negara besar terutama melalui veto Dewan Keamanan.

“Sementara OKI, yang terdiri dari negeri-negeri Muslim, tidak mampu bertindak efektif karena terpecah secara politik dan ideologis. Ini menunjukkan mandulnya diplomasi global dan kelemahan sistem negara-bangsa saat ini,” bebernya.

Keempat, bukti pengkhianatan penguasa Muslim yang diam. Ia menyesalkan penguasa Arab yang diam tapi tidak bertindak.

“Pengkhianatan terhadap umat Islam dan penderitaan rakyat Palestina, mencerminkan ketergantungan pada Barat dan kehilangan kedaulatan,” ungkap Farid.

Kelima, mandulnya hukum internasional. Hukum internasional sering dijadikan alat legitimasi kekuasaan negara besar, dan tak mampu mencegah pelanggaran oleh negara kuat seperti Israel. Ketika hukum tidak ditegakkan terhadap pelanggar besar, maka ia kehilangan legitimasi.

“Ini memperkuat narasi bahwa umat Islam tak bisa berharap pada sistem hukum sekuler global,” tandasnya.

Keenam, Israel hanya mengenal bahasa perang. Farid mengatakan, diplomasi tak akan membuat Israel berhenti, karena keberadaannya sendiri berdasarkan penaklukan militer.

“Maka dari itu, pandangan ideologis ini mengarah pada solusi kekuatan militer, bukan lagi diplomasi atau negosiasi,” serunya.

Terakhir, seruan mobilisasi tentara Muslim dan persatuan di bawah khilafah ala minhajin nubuwwah. Menurutnya, solusi dari semua kebuntuan ini adalah kebangkitan kembali institusi politik Islam (khilafah ala minhajin nubuwwah) yang mampu memobilisasi kekuatan militer umat secara global.

“Seruan ini sekaligus merupakan kritik terhadap sistem nasionalisme dan fragmentasi negeri-negeri Islam saat ini yang dianggap hasil warisan kolonial,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *