MediaUmat – Intervensi berupa serangan militer yang dilakukan sepihak oleh Amerika Serikat (AS) atas Venezuela dan berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026, seharusnya menjadi peringatan bagi negara-negara lain termasuk dunia Islam.
“Ini sesungguhnya menjadi warning (peringatan) bagi dunia Islam,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi dalam rubrik Sorotan Dunia Islam, Rabu pagi (7/1/2026) di Radio Dakta 107.0 FM Bekasi.
Maknanya, agar tak lagi diintervensi, secara spesifik peristiwa itu harus dijadikan pelajaran penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri dengan memperkuat kedaulatan di berbagai lini.
Adalah dengan persatuan umat, dunia Islam bakal mampu menghadapi atau minimal mengimbangi kekuatan AS. “Cuma dengan cara itulah, (dunia Islam) bisa mencegah intervensi Amerika Serikat,” sebut Farid.
Sebagaimana dipahami, sebut Farid, Islam memiliki kekuatan ideologi yaitu akidah Islam, hukum yang independen yaitu syariah Islam, serta prinsip persatuan dunia Islam seperti dipaparkan sebelumnya, yang berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an dan sunah. Inti dari perintah ini adalah agar umat Islam bersatu berdasarkan akidah dan syariat yang sama, bukan berdasarkan suku, bangsa, atau geografis.
Secara ringkas, jelasnya, persatuan dunia Islam yang diperintahkan Allah, yakni persatuan iman dan tujuan, mewajibkan umat untuk meninggalkan segala bentuk perpecahan dan bersatu sebagai satu tubuh (ummah) di bawah panji Islam.
Kata Farid, perkara ini bukanlah utopis. Sebab, pernah dicontohkan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Ketika itu, umat Islam disatukan oleh institusi negara yang disebut dengan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.
“Ini yang harus dipikirkan oleh umat Islam dengan sangat-sangat serius untuk mengimbangi kekuatan AS yang semakin rakus ini,” tandasnya, sebagaimana perintah Allah SWT di dalam QS Ali Imran ayat 103 yang berisi perintah penting tentang persatuan umat Islam.
Pula, dunia kini tengah menanti kebangkitan kembali kekuatan ideologi Islam untuk bisa mengimbangi kapitalisme pasca melemah dan runtuhnya sosialisme pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, puncaknya adalah pembubaran Uni Soviet pada 26 Desember 1991.
Seperti halnya negara-negara di Amerika Latin yang sering disebut sebagai negara kiri, semisal Bolivia, Ekuador dan Kuba, secara ekonomi terbukti tak banyak membantu Venezuela yang juga berideologikan sosialisme.
Sekilas tentang Doktrin Monroe
“Secara konsep, Amerika sering menyandarkan kebijakannya di Amerika Latin, termasuk dalam hal ini adalah Venezuela, berdasarkan apa yang disebut dengan Doktrin Monroe,” kata Farid lebih lanjut.
Pada awalnya, kebijakan politik luar negeri AS yang pertama kali diusulkan oleh Presiden AS James Monroe pada tahun 1823 ini berfokus pada penentangan terhadap pengaruh dan kolonisasi Eropa di belahan bumi barat.
Namun, sebagaimana ditegaskan di dalam kebijakan strategi keamanan nasional (NSS) AS tahun 2025, Doktrin Monroe kembali ditegakkan melalui apa yang disebut sebagai Trump Corollary (tambahan/amandemen Trump).
“Intinya, Amerika berhak mencegah dan melawan pengaruh kekuatan lain di Benua Amerika. Dalam hal ini, meluas menjadi bukan hanya Eropa tapi juga Cina, Rusia dan Iran,” terang Farid.
Sementara, AS telah melihat kerja sama ekonomi, politik dan militer yang cukup aktif antara Venezuela dengan Cina (dan juga Rusia serta Iran), sebagai ancaman terhadap dominasinya di belahan bumi barat.
“Ini yang kemudian membuat Amerika melakukan intervensi secara langsung,” kata Farid.
Tak hanya itu, terkuak motivasi utama operasi militer AS di Venezuela yaitu demi mengendalikan pasokan minyak dunia. Hal ini diklarifikasikan sendiri oleh Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dalam pernyataannya kepada Salem News Channel pada Selasa (6/1/2026).
“Ini akan menyelamatkan nyawa dan berarti harga bensin serta energi yang lebih murah bagi warga Amerika. Operasi ini memungkinkan kita memiliki kendali lebih besar atas sumber daya energi dunia, yang pada akhirnya memberikan hasil ekonomi lebih baik bagi rakyat kita,” ujar Vance.
Tak ayal, sebut Farid, serangan ini pun dipandang sebagai upaya AS untuk menegaskan kembali pengaruhnya di kawasan Amerika Selatan dan memberikan sinyal kepada investor Cina bahwa “bermain” di Amerika Latin akan menjadi lebih sulit.
Pun dilansir dari berbagai sumber, Cina sendiri telah mengecam keras intervensi militer AS di Venezuela dan menekankan prinsip kedaulatan negara harus dihormati. Sebabnya, intervensi AS berdampak langsung pada kepentingan Cina di Venezuela.
Demikian, Doktrin Monroe ditegakkan kembali untuk mengusir pengaruh ekonomi dan politik Cina (serta sekutu lainnya) dari kawasan tersebut demi mengamankan kepentingan energi dan geopolitik AS.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat