Farid Wadjdi: Pasukan PBB ke Palestina Hanya Legitimasi Penjajahan
MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai rencana pengiriman pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Palestina bukan solusi, melainkan bentuk legitimasi baru terhadap entitas penjajah Zionis Yahudi.
“Pasukan PBB itu bukan untuk menyelesaikan persoalan, tapi hanya menjaga status quo. Pengiriman pasukan ini justru akan mengokohkan kolonialisasi yang dilakukan oleh entitas penjajah Yahudi dan dilegitimasi oleh PBB,” ujarnya dalam Seberapa Efektif Pasukan Perdamaian? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (2/12/2025).
Pasalnya, jelas Farid, PBB selama ini tidak dapat dianggap sebagai lembaga netral karena dominasi negara-negara besar, khususnya lima anggota tetap Dewan Keamanan yang memiliki hak veto.
“Kita harus melihat bahwa PBB yang didominasi negara-negara besar, terutama lima negara yang memiliki hak veto, bukanlah lembaga yang terbukti netral. PBB sering kali menjadi bagian dari instrumen politik Barat, bukan bertindak untuk menyelesaikan persoalan,” ujarnya.
Farid juga menyoroti Resolusi PBB 2803 yang dinilainya mengadopsi 20 poin proposal Donald Trump.
Ia menyebut resolusi tersebut sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap desain politik Amerika Serikat atas Gaza, termasuk pembentukan pemerintahan teknokratis non-politik dan pembentukan International Stabilization Force (ISF) yang bertugas melucuti kekuatan perlawanan.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut merupakan legalisasi upaya pelucutan total terhadap kekuatan militer rakyat Gaza dan membuka jalan bagi perwalian jangka panjang atas wilayah tersebut.
Ia menilai kondisi demikian berpotensi memperkuat kontrol entitas penjajah Zionis Yahudi, alih-alih memberikan kebebasan bagi rakyat Palestina.
“Bisa kita simpulkan bahwa legalisasi ini semua merupakan legalisasi atau pelucutan total terhadap kekuatan kaum Muslimin di Gaza. Alih-alih pengiriman pasukan perdamaian ini akan menyelesaikan persoalan, justru akan mengokohkan kolonialisasi yang dilakukan oleh entitas penjajah Yahudi dan itu dilegitimasi oleh PBB,” tegasnya.
Farid menambahkan, pendekatan diplomatik, kecaman publik, maupun solidaritas internasional tidak cukup untuk mengakhiri penjajahan jika tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan agresi militer entitas Yahudi.
“Bantuan kemanusiaan bisa memperbaiki kondisi sementara, tapi tidak menghentikan penjahatnya. Penjajahan tidak akan berhenti tanpa kekuatan senjata, yaitu jihad fii sabilillah yang digerakkan oleh panglima-panglima perang, tentara-tentara kaum Muslimin,” tutupnya. [] Muhammad Ikbal
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat