MediaUmat – Eskalasi yang terjadi di perbatasan Thailand–Kamboja, dinilai Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, sebagai konflik warisan kolonial.
“Konflik warisan kolonial akibat dari kebijakan-kebijakan kolonial yang memisahkan antara kedua negara yang punya warisan kultural,” ujarnya dalam Kabar Petang: Thailand-Kamboja Makin Kacau, Aktor Eksternal Terbongkar? di kanal YouTube Khilafah News, Ahad (28/12/2025).
Hasbi melihat eskalasi ini memiliki kemiripan dengan konflik yang terjadi di dunia Islam. “Konflik-konflik perbatasan dunia Islam, misalnya konflik Kurdi dengan negara-negara Muslim yang di situ ada wilayah Kurdi ya seperti Turki, Irak, Iran, Suriah,” ujarnya.
Menurutnya, negara-negara di Timur Tengah merupakan negara modern yang dibentuk oleh kekuatan kolonial. Batas-batas wilayahnya ditentukan oleh Prancis dan Inggris tanpa mempertimbangkan faktor historis dan kultural masyarakat setempat.
“Timur Tengah itu adalah negara modern. Timur Tengah itu adalah negara yang dibuat garis petanya oleh Prancis dan Inggris. Intinya suka-suka mereka saja,” jelasnya.
Hasbi menambahkan, kebijakan kolonial tersebut turut membuka jalan bagi berdirinya Israel. “Dan itu yang pada akhirnya Inggris membawa Israel masuk ke sana, kaum Yahudi dari Eropa Timur masuk ke sana dan mendirikan negara Israel gitu menjadikan itu disebut sebagai penjajah,” ungkapnya.
Selain faktor kolonial, Hasbi menilai eskalasi Thailand–Kamboja juga tidak lepas dari kepentingan elite politik. Elite di kedua negara disebut mengeksploitasi sentimen sejarah dan kultural untuk kepentingan politik jangka pendek, terutama dalam konteks politik elektoral.
“Mereka mengangkat isu-isu nasionalisme, isu-isu kultural ya untuk kepentingan politik gitu,” imbuhnya.
Masyarakat Gampang Terperdaya Narasi Nasionalistik
Hasbi menyoroti mudahnya masyarakat terpengaruh oleh narasi nasionalistik. “Nah, kenapa masyarakat gampang sekali atau mudah sekali terperdaya oleh narasi-narasi nasionalistik seperti itu ya?” ujarnya.
Ia menilai hal tersebut berkaitan dengan rendahnya taraf berpikir masyarakat. “Dalam masyarakat itu ketika taraf berpikirnya rendah itu maka mereka akan mudah dieksploitasi untuk hal-hal yang sifatnya emosional,” paparnya.
Karena itu, Hasbi menekankan pentingnya ikatan ideologis Islam dibandingkan ikatan emosional. Ia mencontohkan ajaran Nabi Muhammad SAW yang menempatkan Islam sebagai ikatan utama karena menghasilkan aturan dan solusi kehidupan.
“Kita sering beberapa kali dulu konflik antara Malaysia dan Indonesia. Itu kan masalah-masalah yang sifatnya emosional saja. Nah, itu dalam Islam sangat tidak diperbolehkan,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat