Empat Alasan AS Sangat Bernafsu Kuasai Minyak Venezuela

 Empat Alasan AS Sangat Bernafsu Kuasai Minyak Venezuela

MediaUmat Setidaknya ada empat alasan Amerika Serikat sangat bernafsu menguasai minyak Venezuela dengan drama viral penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores oleh pasukan militer AS dalam sebuah operasi di Venezuela pada 3 Januari 2026.

Hal itu dinyatakan Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan, dalam video Terkuak Alasan AS Menyerang Venezuela dan Menangkap Presiden Maduro, Ahad (18/1/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Pertama, ingin mengalihkan ekspor minyak Venezuela yang tadinya ke Cina menjadi ke AS. Tak cukup sekadar memblokade ekspor ke Cina, Maduro pun diculik. Setelah Maduro diculik, akhirnya Washington dan Caracas mencapai kesepakatan besar di sektor energi yang memungkinkan ekspor minyak mentah Venezuela senilai hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,5 triliun ke AS pada Selasa, 6 Januari 2026.

Menurutnya, ini adalah langkah yang berpotensi mengalihkan pasokan yang sebelumnya ditujukan ke Cina, sekaligus memberikan nafas bagi perusahaan minyak negara Petrol de Venezuela S.A. (PDVSA) yang terancam pemangkasan produksi lebih dalam.

“Kesepakatan tersebut berlangsung di tengah menumpuknya jutaan barel minyak Venezuela yang terjebak di kapal tanker dan tangki penyimpanan. Minyak ini tidak bisa dikapalkan akibat blokade ekspor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sejak pertengahan Desember 2025,” bebernya.

Blokade tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari peningkatan tekanan Washington terhadap rezim Maduro.

“Situasi itu yang membuat PDVSA kesulitan menyalurkan produksinya dan memperparah krisis penyimpanan,” tuturnya.

Kedua, minyak jadi pintu masuk AS kendalikan Venezuela. Menurut Trump, Venezuela akan menyerahkan antara 30 sampai 50 juta barel minyak yang terkena sanksi untuk dikirim langsung ke pelabuhan-pelabuhan di AS.

“’Minyak ini akan dijual dengan harga pasar dan uangnya akan dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,’ tulis Trump dengan pongah di media sosialnya,” beber Riyan.

Riyan mengutip pernyataan Reuters, tentang Trump yang mengatakan Menteri Energi Amerika Chris Wright akan bertanggung jawab mengeksekusi kesepakatan tersebut dengan minyak diambil langsung dari kapal-kapal Venezuela dan dikirim ke Pelabuhan Amerika Serikat.

“Pengumuman ini langsung berdampak pada pasar dengan harga minyak mentah Amerika turun lebih dari 1,5% pada Selasa, 6 Januari 2026,” jelasnya.

Aliran minyak Venezuela ke AS saat ini, ungkapnya, sepenuhnya berada di dalam kendali perusahaan Chevron.

“Yaitu mitra usaha patungan utama perusahaan minyak Venezuela PDVSA yang beroperasi berdasarkan otoritas khusus dari pemerintah Amerika Serikat,” jelasnya.

Ketiga, pengalihan produksi minyak Venezuela akan membuat Cina gigit jari karena selama satu dekade terakhir menjadi pembeli minyak Venezuela sebesar 80 sampai 90% produksi dengan kesepakatan Cina memberikan pinjaman ke Venezuela.

“Total pinjaman Cina sejak sekitar tahun 2007 diperkirakan mencapai lebih dari 60 miliar US Dollar. Dan puncaknya utang Venezuela ke Cina dilaporkan mencapai sekitar 112,8 miliar US Dollar. Dan Cina menjadi kreditor terbesar Venezuela,” bebernya.

Maka, lanjutnya, minyak Venezuela harus dikunci. “Ini target pertama Amerika dalam jangka panjang untuk memperlambat laju perkembangan ekonomi Cina yang ditopang salah satunya dengan minyak mentah murah dari Venezuela,” tuturnya.

Keempat, target kedua AS dengan invasi ini adalah untuk memperkuat basis dolar yang dominasinya mulai mengalami penurunan akibat dedolarisasi. Hal ini karena minyak memiliki keterkaitan erat dengan mata uang.

“Karena perubahan harga minyak dapat menyebabkan reaksi positif atau negatif di negara-negara yang sangat tergantung pada ekspor atau impor minyak. Dalam perdagangan minyak dunia selama ini, US dollar memiliki posisi teratas sebagai mata uang dengan bargaining power terbesar dalam sistem jual beli global menggunakan US dollar atau dikenal dengan Petro Dolar sejak tahun 1970-an,” bebernya.

Tetapi ungkapnya, perjanjian dari Petro Dolar ini berakhir tahun 2024 dan memutuskan bahwa Cina dapat menggunakan yuan Cina untuk berdagang minyak antara lain misalnya dengan Arab Saudi. Selain itu menggunakan yuan. Arab juga menerima mata uang yang lainnya seperti euro, rubel, yen, dan sedang mempertimbangkan BTC dari BRICS sebagai alat pembayaran.

“Tentu itu dapat mengancam kekuatan dolar Amerika Serikat yang saat ini meski dominan secara global digunakan sebesar 58% sebagai cadangan uang. Euro 20%, yen Jepang 6%, poundsterling Inggris 5%, Renminbi Cina 2%,” jelasnya.

Tapi tuturnya, dominasi ini sebenarnya telah mengalami penurunan signifikan dari titik puncaknya yaitu 72% di tahun 2001.

“Penguasaan Amerika atas cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia secara brutal melalui invasi militer menjadi alarm keras atau bahkan juga perang urat saraf atau psy war terhadap negara-negara yang memiliki cadangan minyak besar untuk tidak divenezuelakan oleh Amerika karena tidak menggunakan dolar,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *