MediaUmat – Ekonom Dr. Hadi Sutjipto menilai sistem kapitalisme yang berbasis riba atau bunga menciptakan kondisi yang dapat memperburuk fiskal negara.
“Dalam sistem kapitalis, keberadaan riba atau bunga justru menimbulkan kondisi yang memperparah fiskal kita,” ujarnya dalam siniar Refleksi Ekonomi Indonesia 2025, Rabu (31/12/25), di kanal YouTube Pusat Analisis Kebijakan Strategis (Pakta Channel).
Menurut Hadi, dampak buruk lain dari sistem kapitalisme adalah ketergantungan negara yang sangat besar pada pajak. Ia menyebutkan, hampir 80 persen pendapatan negara Indonesia berasal dari pajak.
“Dalam sebuah sarasehan ekonomi, Pak Purbaya pernah ditanya apakah PPN bisa diturunkan dari 11 persen menjadi 8 persen. Beliau menjelaskan bahwa setiap penurunan 1 persen PPN berpotensi mengurangi penerimaan negara hingga hampir Rp70 triliun,” jelas Hadi.
Ketergantungan pada pajak ini terjadi karena sumber daya alam yang melimpah—seperti mineral—yang menurut pandangan Islam termasuk kepemilikan umum dan seharusnya dikelola negara, justru diserahkan kepada pihak swasta dalam sistem kapitalisme. Akibatnya, pendapatan negara dari sektor nonpajak menjadi sangat rendah.
“Dari potensi mineral yang nilainya hampir Rp2.000 triliun, pendapatan negara yang diperoleh hanya sekitar Rp400 triliun,” ungkapnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan pemberian izin deforestasi secara berlebihan, salah satunya untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius, sementara kompensasi yang diterima negara tidak sebanding dengan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Dampaknya dapat dilihat dari meningkatnya bencana alam setelah hutan beralih fungsi menjadi perkebunan.
“Jika kebijakan terus mengedepankan investasi yang merusak lingkungan dengan alasan meningkatkan pendapatan, faktanya pendapatan tersebut tidak sebanding dengan kerusakan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat