MediaUmat – Setidaknya ada tiga poin regulasi Islam dalam menyejahterakan masyarakat. Hal itu dinyatakan Ekonom Nida Saadah dalam video Ketika Kesejahteraan Hanya Mimpi, Senin (9/3/2026) di kanal YouTube Mutiara Islam Kafah.
Pertama, distribusi dijalankan secara terstruktur, tersistematis dengan regulasi yang telah diberikan oleh Allah SWT. “Ada perintah untuk berzakat. Dengan zakat maka harta dipaksa dialirkan ke masyarakat yang membutuhkan,” bebernya
Ia meyakini, jurang kesenjangan kekayaan bisa semakin ditutup ketika zakat dijalankan dalam regulasi negara.
Kedua, aset kepemilikan umum yang ada di muka bumi dikelola oleh negara. Hasilnya, jelas Nida, digunakan untuk kebutuhan masyarakat luas, dialokasikan untuk belanja pendidikan, belanja kesehatan, aspek keamanan, sehingga setiap masyarakat tidak harus terpangkas pendapatannya karena memang difasilitasi dari pembelanjaan Baitul mal sebagai sistem keuangan negara,” bebernya.
Ketiga, dilarang keras praktik riba, ditimbunnya harta kekayaan dengan sistem ribawi, maupun mekanisme sektor nonrill lainnya. Jadi, jelasnya, yang dikembangkan hanyalah sektor riil.
Namun, menurutnya, semua mekanisme di atas membutuhkan sistem politik Islam, karena regulasi tidak akan tegak tanpa diterapkannya hukum secara formal.
Nida mencontohkan, zakat misalnya, bisa berjalan secara efektif jika diundangkan menjadi regulasi negara.
Menurutnya, penerapan regulasi Islam dalam sistem politik Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menegakkan Daulah Islam di Madinah, yang kemudian dilanjutkan oleh para khalifah.
“Dengan regulasi Islam, kesejahteraan bisa diwujudkan secara merata, keadilan bisa ditegakkan, kemakmuran bisa dirasakan masyarakat,” yakinnya.
Ini, ucapnya, jelas berbeda dengan kesejahteraan dalam sistem peradaban kapitalisme sekuler yang hanya diukur dari perkembangan angka, grafik, namun tidak melihat bagaimana kehidupan riil di tengah-tengah masyarakat yang kesenjangannya semakin tinggi.
Oleh karena itu, kata Nida, penting bagi umat kembali mengambil sistem politik Islam sehingga kesejahteraan terwujud.
“Dan tentu yang lebih penting lagi, di atas semuanya adalah kebahagiaan, keamanan, pertanggungjawaban di yaumul hisab, bisa kita berikan kepada Allah sebagai bentuk ketaatan kita, ketakwaan kita. Kita berharap Ramadhan ini menjadi momen untuk melatih kemampuan kita bertakwa kepada Allah secara kaffah,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat