Duka di Balik Puing Gaza: Saat Ribuan Korban Hilang Tanpa Jejak

MediaUmat – Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengungkapkan, data resmi korban tewas di Gaza yang telah menyentuh angka 73.000 jiwa belum mencakup ribuan jasad lainnya yang masih tertimbun reruntuhan bangunan, membuat jumlah korban sebenarnya jauh melebihi angka yang tercatat.

“ICRC telah menerima lebih dari 5.000 permintaan pencarian orang hilang yang kemungkinan masih terkubur di tengah puing-puing kehancuran,” demikian laporan ICRC yang dikutip media-umat.com, Senin (24/8/2026).

Krisis ini merupakan buntut panjang dari agresi militer yang meletus pasca-Operasi Badai al- Aqsha pada 7 Oktober 2023. Perang berkepanjangan selama hampir tiga tahun tersebut meluluhlantakkan kawasan permukiman di seluruh penjuru Gaza serta melumpuhkan total sarana kehidupan warga sipil.

ICRC menyebutkan, pembatasan masuknya alat berat seperti buldoser hingga minimnya fasilitas uji DNA menjadi penyebab utama lambatnya penanganan. Padahal, penemuan jasad warga masih terus terjadi hampir setiap hari di berbagai titik reruntuhan.

Otoritas Pertahanan Sipil Gaza bahkan memperkirakan sedikitnya 8.000 jasad masih terjebak di balik puing-puing beton. Kondisi ini membuat data resmi kementerian kesehatan tak mampu merekam jumlah pasti korban jiwa secara menyeluruh.

Kondisi tersebut menyisakan duka mendalam bagi warga setempat. Salah satunya dirasakan oleh Majdiya, ibu dari Ahmed al-Madhoun—pemuda 21 tahun penyandang Down syndrome yang menghilang sejak pertempuran berkecamuk di dekat rumahnya.

“Saya belum kehilangan harapan. Namun, apakah dia ditemukan dalam keadaan hidup atau meninggal, terkubur di bawah reruntuhan sekalipun, hanya saat itulah saya bisa merasakan ketenangan,” tutur Majdiya.

Bagi banyak keluarga lain di Gaza, duka ini makin membesar akibat ketidakpastian tentang apakah kerabat mereka yang hilang tertimbun reruntuhan atau justru ditahan militer tanpa pemberitahuan resmi. Kondisi pelik ini disuarakan oleh Tal Steiner, pengacara dari HaMoked—organisasi hak asasi manusia di Israel—yang aktif membantu melacak keberadaan warga Palestina yang hilang.

“Ini seperti luka terbuka. Lukanya tidak pernah sembuh. Mereka tidak pernah bisa tenang karena bahkan tidak mengetahui apakah anggota keluarga mereka masih hidup atau sudah meninggal,” ungkap Steiner.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: