Televisi pemerintah Suriah, mengutip sumber keamanan, melaporkan bahwa sebuah drone milik kelompok pemberontak menyerang kendaraan keamanan di kota al-Mazraa di Sweida, Suriah selatan. Sumber tersebut menambahkan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan berjanji akan memberikan tanggapan tegas terhadap pelanggaran tersebut.
Bulan lalu, sebuah sumber keamanan Suriah mengumumkan bahwa faksi-faksi bersenjata telah melancarkan serangan terhadap pos-pos keamanan di Sweida, dan menggambarkannya sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di provinsi tersebut.
Provinsi Suwaida yang mayoritas penduduknya beragama Druze telah berada di bawah gencatan senjata yang rapuh sejak 19 Juli, menyusul bentrokan bersenjata selama seminggu antara kelompok Druze dan suku Badui yang menyebabkan ratusan orang tewas dan terluka.
Entitas Yahudi secara terbuka memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok Druze di Suwaida dan menjalin hubungan dengan pemimpin pemberontak al-Hajri setelah entitas tersebut menyatakan diri sebagai pelindung sekte Druze di Suriah dan melancarkan serangan udara di pedesaan Damaskus dan Suwaida, bahkan membom markas-markas penting seperti markas besar militer di Damaskus sebagai bentuk perlindungan terhadap sekte Druze.
Entitas Yahudi menuntut agar rezim Suriah membuka koridor darat untuknya yang mencapai Suwaida melalui Quneitra dan Daraa, serta menuntut agar rezim tidak mengerahkan pasukan militer apa pun di seluruh wilayah selatan, dimulai dari Damaskus sendiri. Hal ini meningkatkan kelemahan rezim baru di Damaskus, yang belum menemukan cara untuk membela diri terhadap ancaman Yahudi kecuali dengan meminta bantuan PBB dengan cara yang menyedihkan (hizb-ut-tahrir.info, 14/12/2025).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat