Dr. Ahmad Sastra: Dakwah Dinilai dari Proses, Niat, dan Kesungguhan

 Dr. Ahmad Sastra: Dakwah Dinilai dari Proses, Niat, dan Kesungguhan

MediaUmat Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menuturkan, dakwah dinilai dari proses, niat, dan kesungguhan pengembannya dalam menyampaikan kebenaran.

“Dakwah itu yang dinilai adalah proses, niat, dan kesungguhan dalam menyampaikan kebenaran” tuturnya kepada media-umat.com, Selasa (26/8/2025).

Maka, jelas Ahmad, dalam pandangan Islam keberhasilan dakwah tidak lantas semata-mata diukur dari banyaknya pengikut atau tercapainya tujuan duniawi.

Ia mencontohkan, dakwah Rasulullah SAW di Makkah, serta perjuangan nabi-nabi terdahulu yang tetap berdakwah meski hasilnya tampak kecil secara manusiawi.

“Apakah berarti Rasulullah telah gagal saat dakwah di Makkah? Padahal periode Makkah adalah suatu proses. Apakah Nabi Nuh as dikatakan gagal, hanya karena pengikutnya sedikit? Apakah Nabi Musa as dikatakan gagal, hanya karena gerakan dakwahnya dilarang oleh Fir’aun? Bukan, bukan begitu cara membacanya, jika cara membacanya seperti itu, betapa dangkalnya cara berpikirnya,” jelasnya.

Ahmad menegaskan, banyak nabi yang tidak memiliki banyak pengikut, tetapi tetap disebut berhasil karena telah menunaikan amanah dengan benar.

“Nabi Nuh as berdakwah selama 950 tahun, tetapi hanya sedikit yang mengikuti beliau. Nabi Luth as dan Nabi Shu’aib as juga tidak berhasil mengubah sistem sosial kaumnya. Namun dalam Al-Qur’an, mereka tetap disebut sebagai nabi-nabi yang berhasil karena mereka menyampaikan amanah dengan benar, walaupun hasilnya tidak sesuai harapan manusiawi,” paparnya.

Ia mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan bahwa tugas para rasul hanyalah menyampaikan risalah.

Allah sendiri, jelas Ahmad, menyampaikan kepada Rasulullah SAW untuk hanya menyampaikan, bukan memberikan hidayah kepada manusia. Allah berfirman: “Tidak ada kewajiban atasmu (Muhammad) selain menyampaikan (risalah)” (QS asy-Syura: 48) dan “Tugas Rasul hanyalah menyampaikan dengan jelas” (QS an-Nahl: 82).

Lebih lanjut, ia menegaskan, kemenangan hakikatnya adalah pertolongan dari Allah SWT, bukan hasil rekayasa manusia.

“Kemenangan adalah pertolongan Allah semata. Allah berfirman: ‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat,” terangnya mengutip QS an Nashr: 1-5.

Dengan demikian, ia menekankan bahwa dakwah bukanlah proyek politik pragmatis yang diukur dari hasil duniawi.

“Keberhasilannya di sisi Allah tergantung pada keikhlasan dan ketaatan dalam mengikuti metode yang benar, bukan pada tercapainya kekuasaan. Sebab kemenangan adalah hak Allah,” tandasnya.

Ia pun mengkritik pihak-pihak yang mengklaim kegagalan dalam proses dakwah.

Karena menurut Ahmad, yang disebut gagal adalah jika tidak mendakwahkan tegaknya Islam, apalagi menghalangi dakwah, mengikuti jejak Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Namrud.

“Gagal itu ketika menjadi penghalang Islam dan menjadi budak musuh-musuh Islam demi mendapatkan seonggok nasi basi. Hal ini berlaku bagi siapa pun, apakah Muslim, kafir atau munafik,” tegasnya.

Sedangkan, terang Ahmad, kemenangan adalah pertolongan Allah, sementara seorang Muslim hanya harus menjalankan prosesnya sejalan dengan perintah Allah.

“Jika ada sebagian orang yang mengeklaim kegagalan proses dakwah, seolah mereka sudah mendahului ketetapan Allah. Lancang!!” tandasnya.[] Muhar

 Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *