Di Mana Mereka, Para Saksi Palsu yang Menjamin Rencana Trump?!

Militer entitas Yahudi mengumumkan pada hari Senin (24/11/2025) bahwa dua warga Palestina lainnya tewas setelah melintasi garis kuning yang menandai penarikan militer dari Gaza utara, sehingga jumlah korban tewas menjadi lima. Militer menyatakan bahwa sebelumnya pada hari itu, “pesawat tempur menyerang tiga ‘anggota teroris’ yang melintasi garis kuning dan mendekati pasukan di Gaza selatan.” Petugas medis Palestina mengatakan kepada Reuters bahwa insiden hari Senin termasuk sebuah pesawat tanpa awak milik entitas Yahudi yang menembakkan rudal ke sekelompok orang di timur Khan Younis, menewaskan dua orang dan melukai satu orang lagi. Satu orang lainnya tewas akibat tembakan tank di sisi timur Kota Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pada hari Senin bahwa setidaknya 342 warga Palestina telah tewas akibat tembakan Israel sejak perjanjian gencatan senjata diberlakukan. Entitas Yahudi menyatakan tiga tentaranya telah tewas di tangan militan Palestina dalam periode yang sama. Pekan lalu, Dewan Keamanan PBB secara resmi menyetujui rencana Trump, yang menyerukan pembentukan pemerintahan teknokratis sementara Palestina di Gaza yang diawasi oleh “Dewan Perdamaian” internasional dan didukung oleh pasukan keamanan internasional (aawsat.com, 24/11/2025).

Setelah Hamas menyerahkan semua tahanan Yahudi yang ditahannya dan jenazah mereka diserahkan dengan bantuan besar dari Mesir yang mengirimkan mesin modern untuk menggali tanah dan mengibarkan bendera Mesir, entitas Yahudi yang dipimpin oleh pusat perang yang dikelola Amerika di dekat Gaza, melanjutkan pengeboman dan pembunuhan rakyat Gaza. Pengeboman pertama terjadi di atas perjanjian yang disepakati antara Hamas dan entitas Yahudi, yang dikenal sebagai perjanjian dua puluh poin Trump, di mana para pemimpin dunia dan banyak rezim ruwaibidhah (boneka) yang ada di negeri-negeri Islam bertemu, diselenggarakan oleh Trump dan diatur oleh agennya Sisi di Sharm El Sheikh pada hari Senin, 13 Oktober 2025, dan para pemimpin lebih dari 20 negara turut berpartisipasi. Proses penghitungan jumlah syahid dan korban luka kembali dilanjutkan, kesepakatan Trump pun menguap, menegaskan untuk keseribu kalinya bahwa salibis Amerika dan Yahudi tidak memiliki perjanjian atau pakta, dan tidak ada seorang pun yang dapat mempercayai mereka. Dengan demikian, yang akan tergigit dari lubang mereka hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikat mereka, yang telah diberitahukan Allah kepada kita sejak wahyu diturunkan kepada sebaik-baik manusia.

﴿أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْداً نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾

Mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan, sebagian besar mereka tidak beriman.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 100).

Telah menjadi jelas bagi semua orang bahwa para saksi palsu yang menghadiri perjanjian Trump di Sharm El-Sheikh, terutama penguasa Mesir, Pakistan, Indonesia, Yordania, Turki, dan lainnya, bahwa mereka ini hadir hanya untuk memberikan kesaksian palsu atas perjanjian penyerahan tahanan Yahudi oleh para pejuang perlawanan, bukan untuk menjamin kepatuhan entitas Yahudi terhadap perjanjian gencatan senjata. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa para penguasa Muslim dan Barat yang dipimpin oleh sang penjahat Trump, semuanya bersatu dalam pelanggaran perjanjian mereka. Mereka hanyalah penjamin pembebasan tahanan Yahudi, yang memendam kebencian dan kedengkian serta berniat untuk melanjutkan pembunuhan terhadap kaum Muslim setelah mereka menerima tahanan mereka.

Kami belum mendengar dari para saksi palsu tersebut adanya kecaman atau paksaan terhadap entitas Yahudi untuk mematuhi perjanjian yang mereka saksikan, setelah beberapa negara, termasuk Pakistan dan Yordania, bergegas mengirimkan pasukan mereka guna melindungi keselamatan orang-orang Yahudi dalam apa yang dikenal sebagai “Pasukan Stabilisasi Internasional, International Stabilization Force (ISF)” yang misinya juga mencakup memastikan pelucutan senjata perlawanan, menghancurkan infrastruktur militer, dan mencegah pembangunannya kembali. Setelah pelanggaran perjanjian ini, Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, keluar dan mengatakan bahwa Yordania tidak akan mengirimkan pasukan ke Gaza, dan negara Yahudi telah melanggar perjanjian lebih dari 500 kali, sehingga pepatah “Sakata dahr[an] wa nathaqa kufr[an], dia diam lama hanya untuk mengucapkan kata-kata tiada guna” adalah benar baginya dan para saksi palsu lainnya. Asim Munir dan Syahbaz Syarif telah melancarkan kampanye penganiayaan, penangkapan, dan penghilangan paksa terhadap para syabab (anggota) Hizbut Tahrir karena mengorganisir kampanye yang mengecam niat rezim Pakistan untuk berpartisipasi dalam ISF dan pengkhianatan mereka terhadap darah para syahid Gaza, yang telah mereka kecewakan bersama rezim-rezim penindas lainnya di negeri-negeri Islam selama lebih dari dua tahun berdarah, yang mengakibatkan lebih dari 70.000 syahid.

Masalah Palestina akan tetap ada dalam konflik antara umat dengan negara-negara Barat, dan entitas ilegal Yahudi, hingga datangnya janji terakhir, yaitu di saat kaum Muslim akan memerangi orang-orang Yahudi dan membunuh mereka. Barangsiapa yang beranggapan bahwa masalah Palestina dapat dituntaskan, maka ia tidak memahami makna nash syariah yang menegaskan bahwa pembunuhan terhadap kaum Yahudi tidak dapat dielakkan, dan pembunuhan terhadap mereka akan dilakukan oleh Khilafah, yang akan menghimpun berbagai umat yang tercerai-berai, menyatukan pasukannya, dan bergerak menuju tanah yang diberkahi, menyucikannya dan Masjidil Aqsa dari kaum Yahudi najis dan kotor. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda:

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ، حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ»

Hari kiamat tidak akan terjadi hingga kaum Muslim memerangi orang-orang Yahudi dan membunuh mereka, hingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, lalu batu atau pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini ada seorang Yahudi di belakangku, maka kemarilah dan bunuhlah dia,’ kecuali pohon gharqad (semak nitre), karena ia termasuk pohon Yahudi.” (HR. Bukhari dan Muslim). [] Bilal al-Muhajir – Wilayah Pakistan

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 28/11/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: