Eskalasi tekanan Amerika Serikat terhadap Iran mengingat penanganan Iran atas aksi protes baru-baru ini yang telah menewaskan ratusan orang. Sementara itu pihak berwenang di Teheran menegaskan bahwa mereka telah menguasai kembali jalanan setelah beberapa malam diwarnai dengan aksi demonstrasi besar-besaran.
Setelah Washington berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer sebagai tanggapan atas tindakan keras Iran dalam menangani aksi. Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka opsi untuk melancarkan serangan udara terhadap Iran, sambil mempertahankan saluran diplomatik terbuka dengan Teheran. Trump telah mengindikasikan pada hari Ahad (11/1) bahwa militer AS sedang mempertimbangkan “opsi yang sangat kuat”.
Trump mengumumkan pemberlakuan tarif terhadap semua mitra dagang Iran, dan mengatakan dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya bahwa “negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran, mulai berlaku segera, akan membayar tarif 25% untuk semua perdagangannya dengan Amerika Serikat. Ini bersifat final dan tidak dapat dibatalkan.” (aljazeera.net, 13/1/2026).
**** **** ****
Kesombongan dan intimidasi bukanlah hal baru bagi Amerika. Sebelumnya, Amerika pernah menduduki Afghanistan, Irak, dan negara-negara lain, tetapi dulu selalu memberikan pembenaran kepada media, mencari perlindungan internasional, dan mengklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia. Namun tindakan baru yang dilakukannya dapat disebutnya sebagai demoralisasi politik. Trump tidak memiliki pembenaran selain kepentingan pribadi dan keinginan untuk mengontrol, dalam hal ini dia sama sekali tidak peduli dengan perlindungan internasional. Bahkan, dia menarik pendanaan dari puluhan organisasi internasional yang dulunya didukung dan disumbangkan oleh Amerika, agar Amerika dibiarkan melakukan intervensi (campur tangan) dalam urusan dalam negeri sejumlah negara berdaulat.
Iran, yang diancam oleh Trump dengan melakukan operasi militer, bukanlah satu-satunya contoh demoralisasi politik. Sebelumnya, ia telah menangkap presiden Venezuela. Ia bahkan memulai masa jabatannya sebagai presiden dengan mengancam akan mencaplok Kanada, serta mengancam Meksiko, Panama, Kuba, dan Kolombia. Trump mengancam akan merebut Greenland, dengan alasan bahwa jika Amerika tidak merebutnya, Rusia dan China akan melakukannya.
Ada yang berpendapat bahwa jika Trump mendapat balasan yang setimpal dari negara-negara yang menjadi sasaran, maka ia tidak akan berani melakukan apa yang sedang dilakukannya, yaitu demoralisasi politik. Yang lain berpendapat bahwa balasan militer apa pun dari Rusia atau China akan menyebabkan perang dunia atau perang nuklir. Jawabannya adalah bahwa balasannya tidak harus berupa militer, karena diketahui bahwa perang adalah jalan terakhir bagi seorang politisi. Negara-negara lain, terutama negara-negara besar, dapat melakukan tindakan politik yang berpengaruh yang membuat Trump dan orang-orang yang sepertinya akan berpikir dua kali sebelum mengucapkan kata-kata kasar terhadap negara lain dan kedaulatannya.
Jika kita menelusuri kamus-kamus politik dan glosarium istilah politik, maka kita tidak akan menemukan istilah “demoralisasi politik”. Mungkin alasannya adalah karena ini merupakan realitas baru yang sebelumnya tidak menonjol dan jarang terjadi, apalagi hal itu diketahui bertentangan dengan norma internasional; sehingga tidak sampai menjadi istilah politik. Namun, pada masa jabatan kedua Trump, realitas ini berulang kali terjadi dalam waktu kurang dari setahun masa jabatannya, oleh karena itu kita mungkin akan melihat istilah ini dalam kamus politik baru, atau dalam edisi baru kamus-kamus sebelumnya! [] Khalifah Muhammad – Wilayah Yordania
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 15/1/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat