MediaUmat – Merespons bencana alam yang terjadi di Sumatra dan Aceh, Pengamat Ekonomi Dr. Arim Nasim menyatakan bahwa dalam pandangan Islam, eksploitasi sumber daya alam itu adalah dalam rangka untuk ibadah, bukan untuk memuaskan keserakahan yang mendatangkan bencana.
“Dalam pandangan Islam, Allah menciptakan manusia untuk beribadah, maka turunannya yakni eksploitasi sumber daya alam itu adalah dalam rangka untuk menjadikan sebagai sarana ibadah. Jadi bukan kekayaan alam itu dijadikan alat dan tujuan untuk memuaskan keserakahan dan nafsu manusia,” ujarnya dalam Special Interview: Bencana Sumatra, Ulah Siapa? di kanal YouTube Rayah TV Sabtu (6/12/2025).
Politik ekonomi dalam Islam, lanjut Arim, memang benar untuk menjamin setiap individu bisa terpenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Termasuk juga terpenuhinya kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan yang sering disebut kebutuhan pokok barang dan kebutuhan pokok jasa.
Namun, jelasnya karena dalam Islam semua itu dalam rangka ibadah, dan manusia diciptakan oleh Allah itu adalah untuk memakmurkan bumi, sehingga ketika mengeksploitasi sumber daya alam, maka yang pertama menjadi pertimbangan itu adalah apa manfaat dan madaratnya bagi kepentingan manusia.
“Karena eksploitasi sumber daya alam itu untuk kepentingan manusia, bukan untuk keserakahan individu,” terangnya.
Oleh karena itu, kata Arim, paradigma Islam ini bisa menjadi penuntun atau panduan bagi pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam rangka mengeksploitasi sumber daya alam, yakni yang menjadi tujuannya adalah kemaslahatan umat, kemaslahatan rakyat. Buat apa tambang dieksplorasi, hutan dibabat tapi ternyata justru malah menyengsarakan dan membahayakan rakyat dengan datangnya bencana.
Arim menegaskan, ketika aturan Islam diterapkan maka akan muncul keberkahan/rahmatan lil alamin.
Maka, menurutnya, aturan ekonomi dan politik itu harus sejalan dengan aturan Islam karena aturan Islam diturunkan oleh Allah untuk kemaslahatan manusia. Sementara dalam sistem kapitalis, eksploitasi sumber daya alam itu adalah untuk kepentingan keserakahan individu dan kelompok tertentu dalam memuaskan hasrat keserakahannya, tak peduli lingkungan rusak yang penting untung.
“Jadi ketika kemudian Islam diterapkan dalam konteks ekonomi dan politik, saya yakin akan menurunkan keberkahan dan tidak terjadi kerusakan yang seperti sekarang ini. Karena tadi paradigma pengelolaan sumber daya alam, sumber daya ekonomi itu untuk kemaslahatan manusia, kesejahteraan umat bukan untuk keserakahan kelompok. atau golongan tertentu,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat