Bukan Sekadar Perjalanan Ruhani: Isra Mi’raj dan Strategi Penguasaan Langit
MediaUmat – Pembina Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Prof. Dr.-Ing Fahmi Amhar menegaskan, peristiwa besar Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan bagian dari keimanan terhadap akidah Islam yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi sekaligus menyingkap ajaran dan hikmah mendasar yang relevan bagi umat, termasuk pesan strategis peradaban tentang pentingnya penguasaan sains dan teknologi, khususnya wilayah langit.
“Ini bukan sekadar perjalanan ruhani, tapi penyingkapan bahwa domain langit adalah wilayah kekuasaan Allah yang relevan bagi kehidupan manusia di bumi,” ujarnya dalam kajian Ngaji Subuh “Sains dan Teknologi Langit: Hikmah Isra Mi’raj untuk Menjaga Kedaulatan” yang ditayangkan kanal YouTube NGAJI SUBUH, Ahad (18/1/2026).
Pada masa Nabi Muhammad SAW, jelasnya, langit dipahami sebagai wilayah metafisik yang berada di luar jangkauan manusia. Namun seiring perkembangan zaman, langit justru berubah menjadi ruang strategis yang menentukan kekuatan dan kedaulatan sebuah negara.
“Hari ini negara modern itu berfungsi melalui infrastruktur yang sebagian besar berada di langit. Siapa yang menguasai langit, dia menguasai bumi,” tegasnya.
Menurut Prof. Fahmi, penguasaan wilayah langit menjelma menjadi faktor penentu dalam relasi antarnegara. Negara yang tidak menguasai infrastruktur strategis tersebut berisiko dilumpuhkan tanpa harus melalui invasi militer atau peperangan terbuka.
“Sebuah negara tidak perlu dijajah secara fisik untuk dilumpuhkan. Cukup dengan mematikan radar atau membuat sistem navigasinya buta,” jelasnya.
Ia mencontohkan Venezuela sebagai gambaran nyata penundukan tanpa perang, ketika sistem pertahanan dan komunikasi negara itu dilumpuhkan hingga presidennya dapat ditangkap tanpa perlawanan berarti.
“Presidennya diculik, tapi tentaranya tidak bisa berbuat apa-apa karena radar dan komunikasinya dibuat buta,” ungkapnya.
Prof. Fahmi menilai ketergantungan banyak negeri Muslim terhadap teknologi asing bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cermin rapuhnya kedaulatan yang sesungguhnya.
“Secara hukum mungkin merdeka, tapi secara operasional urat nadinya dikendalikan asing. Saklar kedaulatannya ada di luar negeri dan bisa dimatikan kapan saja,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Iran yang dinilainya berhasil menjaga kedaulatan digital karena menguasai infrastruktur teknologinya sendiri.
“Ketika Iran mematikan internet, itu karena infrastrukturnya dikuasai negara. Bahkan Starlink tidak bisa bekerja karena GPS-nya di-jam (ganggu),” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk menyiapkan kekuatan secara maksimal dan berkelanjutan sesuai tuntutan zaman.
“Wa a’iddû [persiapkanlah!] itu perintah aktif dan berkelanjutan. Hari ini kekuatan itu bernama teknologi dan penguasaan langit,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, puncak peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah shalat, yang tidak boleh direduksi menjadi ritual privat semata tanpa implikasi sistemik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Jika shalat hanya dimaknai sebagai ritual privat, ia tidak akan mampu mencegah kemungkaran yang sistemik dan terlembaga,” ujarnya.
Menurut Prof. Fahmi, negara yang benar-benar menegakkan shalat bukan sekadar negara dengan masyarakat yang rajin beribadah, melainkan negara yang menjadikan hukum Allah sebagai rujukan keadilan.
“Negara yang menegakkan shalat adalah negara yang menjadikan hukum Allah sebagai rujukan keadilan, melindungi rakyat dari kezaliman internal maupun eksternal,” tegasnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa Isra Mi’raj menyatukan dua pilar utama peradaban yang tidak boleh dipisahkan, yakni ilmu dan iman.
“Ilmu tanpa iman akan melahirkan kezaliman, dan iman tanpa kekuatan akan melahirkan ketertindasan. Isra Mi’raj datang untuk mencegah keduanya,” pungkas Prof. Fahmi Amhar.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat