Bukan Sekadar Kejahatan Kemanusiaan, Tragedi di Gaza adalah Genosida

MediaUmat – Masih tentang pentingnya menunjukkan solidaritas kuat dan memberikan dukungan nyata kepada rakyat Palestina, Koordinator Aksi Abu Izzuddin mengungkapkan bahwa tragedi di Bumi Palestina bukan lagi sekadar kejahatan kemanusiaan tetapi lebih ke upaya genosida.

“Ini bukan lagi sekadar kejahatan kemanusiaan, tetapi genosida terbesar abad ini,” paparnya di depan ribuan warga Kota Kendari dan sekitarnya, Ahad (23/11/2025), dalam acara Aksi Bela Palestina yang dikemas dalam bentuk Pawai Akbar mulai dari Masjid Raya Al-Kautsar dan berakhir di Eks MTQ Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Seperti halnya definisi menurut Konvensi PBB tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida tahun 1948, misalnya, genosida dimaknai sebagai tindakan tertentu yang dilakukan dengan “niat untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras, atau agama”.

Sementara, bukti kuat mengenai mens rea, yaitu niat spesifik untuk memusnahkan dimaksud, telah terpenuhi dengan banyak bukti. Sebutlah tingkat kematian dan target sipil yang jumlahnya sangat tinggi, termasuk perempuan dan anak-anak yang bisa digunakan sebagai indikasi niat atau setidaknya pengabaian yang disengaja terhadap kehidupan sipil.

Angka terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dilaporkan pada November 2025 menyebutkan total korban genosida Israel mencapai 240.750 jiwa, terdiri dari 69.785 korban tewas dan 170.965 korban luka-luka.

Bukti berikutnya terdapat beberapa pernyataan yang dibuat oleh pejabat tinggi militer atau politik yang mendeskripsikan warga Palestina secara kolektif (misalnya, menyebut mereka ‘hewan’ atau ‘target yang sah’) dikutip sebagai bukti adanya niat genosida atau setidaknya dehumanisasi yang ekstrem.

Belum lagi blokade yang diberlakukan oleh Israel secara signifikan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza. Di antaranya pembatasan ketat terhadap bantuan kemanusiaan, pemadaman listrik total, maupun minimnya akses terhadap air bersih dan medis di Gaza.

Selain itu, langkah hukum yang diambil Mahkamah Internasional (International Court of Justice), yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda, juga secara resmi mengharuskan Israel mengambil semua tindakan dalam kekuatannya untuk mencegah tindakan yang dapat dianggap genosida.

Maka terkait upaya penghancuran etnis tersebut, kembali Izzuddin menyerukan agar seluruh umat Islam memperkuat persatuan dan solidaritas dengan membangun kekuatan kolektif.

Sebab, menurutnya, persatuan umat merupakan langkah penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dengan kata lain, pembelaan terhadap Palestina akan jauh lebih efektif dan berdampak jika umat Islam bertindak sebagai satu kesatuan yang terorganisir, bukan sebagai individu atau kelompok dalam hal ini lebih dari 50 negara bangsa yang terpisah oleh sekat nasionalisme.

Ia juga menyoroti sikap dunia internasional, termasuk sebagian pemimpin negeri-negeri Muslim, yang dinilai masih kurang memberikan tindakan nyata dalam membantu Palestina. Meski di saat yang sama, dukungan dalam bentuk bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan, makanan, minuman, dan pakaian yang selama ini diberikan patut diapresiasi.

Kirim Tentara Muslim, Tolak Solusi Dua Negara

Karenanya, Izzuddin juga menyerukan agar kekuatan militer negeri-negeri kaum Muslim segera membantu rakyat Palestina dari upaya genosida, serta menolak ‘Solusi Dua Negara’ yang kini banyak digaungkan berbagai pihak atas penjajahan yang dilakukan zionis Israel.

Pasalnya, meski solusi ini kerap dianggap jalan damai, namun secara tidak langsung justru melegitimasi penjajahan dan terus mempersempit tanah Palestina.

Karenanya pula, dunia harus mendukung pembebasan secara total dengan mengusir sepenuhnya zionis Israel dari tanah Palestina melalui kekuatan dunia Islam dengan menegakkan kembali konstitusi negara Islam, yakni Khilafah Islamiah.

“Hanya dengan khilafah, seruan jihad untuk mengirim pasukan militer membantu seluruh umat yang dijajah saat ini bisa dilakukan dengan totalitas,” tandasnya.

Sekadar ditambahkan, Aksi Bela Palestina yang mengangkat tema ‘Tolak Solusi Dua Negara, Kirim Tentara Bebaskan Palestina’ tersebut diwarnai dengan kibaran bendera hitam-putih bertuliskan kalimat tauhid, liwa dan rayah, sebagai simbol persatuan umat Islam dalam menyuarakan dukungan untuk Palestina.

Pula tak sedikit dari para peserta aksi memegang poster-poster seruan di antaranya ‘Jihad dan Khilafah Solusi Tuntas Masalah Palestina’, ‘Kirim Tentara Bebaskan Palestina’, ‘Solusi Dua Negara, Haram & Khianat’, ‘Khilafah Islam Pelindung Umat’, hingga ‘Hentikan Genosida, Kirim Tentara Bebaskan Al-Aqsa & Palestina’.

Bahkan selama aksi yang berlangsung damai dari pukul 07.00 hingga 10.00 Wita tersebut, spanduk raksasa bertuliskan kalimat tauhid yang terpampang di depan panggung utama aksi seakan menguatkan pesan penolakan solusi dua negara dan seruan pembebasan total Palestina.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: