Budaya Ketakutan!

 Budaya Ketakutan!

Saya ingat ketika saya masih kecil, bahwa menciptakan ketakutan adalah budaya di masyarakat dan di rumah.

Orang tua menakut-nakuti anaknya dengan hantu, pencuri, bahkan jin agar mereka dapat menundukkan dan mengendalikannya.

Dalam masyarakat, geng-geng premanisme penguasa mempraktikkan kebijakan ketakutan melalui aparat keamanannya agar mampu menundukkan dan mengendalikan masyarakat.

Memang benar bahwa ketika seorang anak beranjak dewasa, maka ia akan menyadari mitos hantu tersebut dan tidak lagi memiliki alasan rasa takut yang biasa digunakan orang tuanya, namun tidak mudah untuk menghilangkan rasa takut tersebut setelah sudah menjadi kecenderungan yang mendarah daging dalam dirinya.

Pola asuh seperti ini merusak umat manusia dan bangsa, sebab hal ini menyebarkan budaya ketakutan yang menguasai bangsa dan menjadikannya tunduk terhadap rezim korup dan terkutuk yang menzaliminya, melanggar martabatnya, menyia-nyiakan kekayaannya, merusak agamanya, dan mengabaikan permasalahannya.

Hal yang paling berbahaya dalam jiwa manusia adalah ketika kecenderungan membentuk kepribadiannya.

Menanamkan kecenderungan rasa takut pada diri anak, akan menjadikan rasa takut itu sebagai bagian penting dari kepribadiannya, sehingga menjadikannya lemah, takut pada bayangannya sendiri, dan bahkan rela bangsanya direndahkan.

Anak harus dibesarkan untuk memiliki keberanian, ketegasan, dan rasa percaya diri, serta hanya takut kepada Allah saja.

Memang benar bahwa rasa takut itu adalah fitrah, bawaan dalam diri manusia, namun tidak boleh dieksploitasi secara negatif, melainkan harus dijadikan sebagai rasa takut yang positif, seperti rasa takut kepada Allah, sehingga akan menguatkan jiwanya, bukan melemahkannya, yakni menguatkan keberanian dan ketegasan, bukan melemahkannya.

Barangsiapa yang takut kepada Allah saja, karena Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa, maka tidak ada yang ditakutinya kecuali Dia.

Ketika umat berada dalam keadaan seperti ini, maka mereka tidak akan pernah takut pada para tiran, justru para tiran itu yang takut padanya. Sebaliknya “jika umat takut berkata pada seorang penindas, ‘wahai penindas’, maka ia akan menggilasnya.”

Jika umat takutnya hanya pada Allah saja, maka bangsa-bangsa lain tidak akan berani macam-macan, apalagi melawannya, sebab mereka akan kalah sebelum berperang, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ»

Aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka dari jarak sebulan perjalanan.” (HR. Bukhari).

Untuk itu, marilah kita didik dan besarkan anak-anak kita dengan baik, jauhkan mereka dari rasa takut kecuali hanya takut pada Allah, jika kita berharap masa depan mereka dan umat menjadi lebih baik. [] Munzer Abdullah

Sumber: https://twitter.com/monzerabdullah1/status/1727636054981656795?t=aidjXLw7Ra4WquEviBhMeA&s=08

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *