Blokade Hormuz, Sinyal Kuat Persatuan Dunia Islam Lumpuhkan Barat

MediaUmat Ketidakberdayaan Amerika Serikat menghadapi blokade Iran di Selat Hormuz, dinilai Politisi Muslimah Sulistiawati Ummu Salamah sebagai sinyal kuat bahwa persatuan politik dunia Islam mampu melumpuhkan dominasi Barat sekaligus mendikte arah ekonomi dunia.

“Ini menunjukkan bahwa kekuatan geopolitik negeri-negeri Muslim sesungguhnya sangat besar apabila disatukan dalam visi dan kepentingan politik yang sama,” tegasnya kepada media-umat.com, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, tindakan satu negeri Muslim saja, yaitu Iran, terbukti mampu mengguncang stabilitas energi global, memicu inflasi dunia, dan memaksa Amerika Serikat berulang kali membuka jalur negosiasi. Realitas ini sekaligus membantah anggapan bahwa umat Islam akan selalu tidak berdaya di hadapan tekanan AS.

“Selama ini ketakutan terhadap dominasi militer dan ekonomi Amerika sering dijadikan alasan untuk menolak persatuan dunia Islam. Namun realitas justru menunjukkan sebaliknya,” ungkapnya.

Guncangan Ekonomi Global dan Kerapuhan Dominasi Barat

Sebelumnya, Ummu Salamah memaparkan bahwa ketegangan ini bermula dari serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari 2026, yang kemudian direspons Teheran dengan menutup jalur distribusi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Dampaknya, Presiden Donald Trump terpaksa menghentikan sementara Project Freedom hanya dua hari setelah peluncuran pada 3 Mei 2026. Langkah ini diambil Washington demi mengejar kesepakatan diplomatik akibat tekanan inflasi yang kian mencekik.

Ummu Salamah menyoroti bahwa peran Iran di Selat Hormuz menunjukkan posisi geografis dan kekuatan militer di kawasan Teluk adalah elemen strategis. Ia berargumen, jika seluruh negara Teluk bersatu mengendalikan akses energi, hal itu akan menjadi pukulan telak bagi hegemoni AS dan melemahkan posisi Israel.

Lebih jauh, ia menegaskan, persatuan dunia Islam adalah perintah Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam QS. Ali ‘Imran: 103 dan QS. Al-Anbiya: 107.

Menurutnya, kasus blokade Hormuz membuktikan bahwa kekuatan Barat rapuh saat berhadapan dengan posisi tawar negeri Muslim yang solid.

Kekuatan utama dunia Islam, sambungnya, sejatinya bukan hanya terletak pada jumlah penduduk atau kekayaan sumber daya alamnya, melainkan pada persatuan politiknya.

Karena itu, ia menyerukan agar umat Islam segera melepaskan diri dari strategi pecah belah Barat. “Sudah saatnya umat Islam meraih kemenangan dengan membaiat seorang khalifah agar tegak kembali kekuatan riil melalui institusi khilafah islamiah yang berjalan di atas manhaj kenabian,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: