Bentrok Maut di Morowali, Pemerintah Ini Masih Milik Rakyat Indonesia atau Cina?

Mediaumat.id – Pengamat Kebijakan Publik dari Indonesian Justice Monitor (IJM) Dr. Erwin Permana mengkritik pernyataan Bupati Morowali Utara yang justru terkesan memojokkan pihak tenaga kerja lokal dalam bentrokan maut di pabrik pengolahan nikel PT Gunbuster Nickel Industri atau GNI Morowali Utara tempo hari.

“Pemerintah ini masih pemerintah rakyat Indonesia atau sudah (menjadi) pemerintah rakyat Cina ini?” ujarnya kepada Mediaumat.id, Ahad (22/1/2023).

Menurutnya, bagaimana mungkin warga negara asing bekerja di negara ini kemudian terjadi bentrok dengan tenaga kerja lokal, lantas bupati setempat malah terkesan tidak membela (baca: menyalahkan) rakyat pribumi tersebut.

“Tolong diluruskan informasinya ya. TKA yang diserang duluan, lalu terjadi bentrok. Di tengah bentrok ini, ada oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan perusakan dan penjarahan di asrama karyawan putri TKI,” ujar Bupati Delis Julkasson Hehi usai bertemu Kapolda Sulteng Irjen Pol Rudy Sufahriadi di kediaman Kapolda Sulteng di Kota Palu, Ahad (15/1/2023), dikutip dari Antara.

Padahal sebelumnya, ia mengatakan telah menyerahkan sepenuhnya penanganan peristiwa ini kepada jajaran kepolisian dan aparat keamanan lainnya untuk menangani secara hukum siapa pun yang terkait kericuhan yang telah menewaskan dua orang (masing-masing dari pihak pekerja lokal dan asing) pada Sabtu (14/1) lalu.

Lebih lanjut Erwin pun mengibaratkannya dengan keluarga. “Ada orang lain bekerja di rumah kita, berantem sama anak kita, matilah anak kita. Lantas yang disalahkan adalah abang-abangnya. Ini logikanya di mana?” cetusnya.

Maksud Erwin, kalau memang pemerintah ini milik masyarakat Indonesia, harusnya membela rakyatnya. Sebab, mereka dipilih dan digaji dari pajak yang berasal dari rakyat.

“Memang aneh. Pemerintahan Cina membela rakyatnya kentara sekali, justru Indonesia malah enggak tampak pembelaan itu terhadap rakyatnya,” singgungnya, berkenaan dengan kecaman Kedutaan Besar Cina di Jakarta atas bentrokan yang juga menewaskan satu warga mereka.

Oleh karena itu, kata Erwin, patut diduga ada ‘main mata’ di antara rezim saat ini dengan Cina. “Kita patut menduga jangan-jangan betul-betul ada main mata antara rezim ini dengan rezim Cina,” tandasnya.

Oleh karena itu pula, ia menilai sudut pandang para penguasa negeri ini saat ini amat sempit. Pasalnya, yang justru menguras kekayaan alam khususnya nikel di daerah Morowali Utara adalah warga Cina.

“Di Indonesia ini secara keseluruhan menghasilkan 52 persen nikel dunia dan itu sebagian besarnya ada di Sulawesi, dikeruk perusahaan Cina, orang Indonesia enggak dapat apa-apa,” urai Erwin dengan tegas.

Bertambah celaka, tenaga kerja maupun peralatan yang ternyata juga didatangkan dari sana. “Mereka bawa industri ke sini, mereka bawa alat ke sini, mereka bawa truk mengeruk kekayaan alam kita, untungnya untuk mereka semua,” sambungnya.

Hakikat Investasi

Bukan menolak investasi, kata Erwin, tetapi hakikat dari setiap kerja sama dimaksud diharapkan ada transfer ilmu pengetahuan, dsb. “Yang kita harapkan ada transfer knowledge, ada peningkatan pengetahuan kita, ada peningkatan kapabilitas, kapasitas kita dalam membangun industri,” terangnya.

Makanya, ia memandang kericuhan seperti ini berpotensi bakal terus terjadi kecuali diterapkannya sistem atau cara Islam diterapkan secara kaffah. “Hanya Islam, dengan penerapan Islam pemimpin-pemimpinnya itu akan membela masyarakat dan memperbaiki kehidupan mereka,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Share artikel ini: