MediaUmat – Bencana ekologis yang terjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara dan Sumatra Barat di penghujung tahun 2025, dinilai sebagai dampak buruk yang nyata akibat penerapan sistem sekuler kapitalistik.
“Inilah dampak buruk nyata dari sistem sekuler kapitalistik,” demikian bunyi Pernyataan Sikap dari Forum Ulama, Tokoh dan Advokat (FUTA) Jawa Barat, yang diterima media-umat.com, Rabu (31/12/2025).
Pasalnya, aturan maupun kebijakan di dalam sistem yang tidak menjadikan agama sebagai dasar utama dalam pemerintahan tersebut, bisa dengan sangat mudah diubah sesuai selera penguasa. Sekalipun di dalamnya dirancang mekanisme pengawasan dan keseimbangan (checks and balances) yang dianggap kuat.
Adalah sebagaimana laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 24 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia meningkat menjadi 1.129 jiwa dan korban hilang menjadi 174 orang akibat banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut.
Data ini mencakup korban yang ditemukan dalam pencarian aktif, dengan 496.293 jiwa masih mengungsi. Terbanyak di Aceh, yakni ada 473.323 orang, disusul Sumut sebanyak 13.262 orang, dan Sumbar 9.708 orang. Sementara, 47.149 rumah mengalami rusak berat.
Lantas kerugian ekonomi dari bencana akibat eksploitasi sumber daya alam berlebihan, deforestasi dan alih fungsi lahan ini, diprediksi mencapai Rp68,67 triliun. Angka ini setara dengan 0,29% dari total pendapatan domestik bruto atau PDB nasional.
Karena itu, selain menyampaikan rasa prihatin yang mendalam, FUTA Jabar juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bahu-membahu memberikan pertolongan kepada para korban selamat agar segera hidup normal seperti sediakala.
Pula, menjadi penting bagi negara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh atas pengelolaan, termasuk peninjauan kembali berbagai izin di sektor kegiatan ekstraktif dan eksploitatif hulu, untuk meminimalisir kerugian di masa depan. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip kehati-hatian dalam manajemen sumber daya alam dan keberlanjutan lingkungan.
Namun sangat disayangkan, praktik transaksionalisme di kalangan elite politik Indonesia merupakan isu yang sering dibahas secara luas dan diakui oleh berbagai pihak, termasuk institusi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan akademisi.
Analisis dan diskusi publik juga sering menyoroti adanya pola keputusan politik dan alokasi sumber daya dipengaruhi oleh kepentingan timbal balik daripada pertimbangan kesejahteraan publik.
Tak ayal, FUTA Jabar menyebut hal ini sebagai bukti bahwa kedaulatan negeri saat ini bukanlah di tangan rakyat secara umum, tetapi di tangan segelintir pemilik modal.
Solusi Islam
Karenanya, FUTA Jabar menyerukan sistem Islam sebagai solusi paripurna atas persoalan yang menggerus kepentingan publik tersebut. Pasalnya, selain sebagai ujian dari Allah SWT, Islam juga memandang bencana sebagai konsekuensi dari tindakan manusia (kemaksiatan).
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” demikian firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum: 41.
Untuk itu, bencana yang bisa jadi merupakan ujian ataupun teguran ini mestinya mampu menyadarkan umat untuk segera kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT melalui penerapan syariah secara kaffah di dalam seluruh aspek kehidupan, terutama pengelolaan sumber daya alam yang hakikatnya milik umum, dan merupakan kewajiban bagi negara untuk mengelola demi kesejahteraan rakyat tanpa kecuali.
Artinya, meskipun ada penekanan kuat respons praktis seperti memberikan bantuan kemanusiaan dan mengambil langkah-langkah mitigasi bencana secara fisik, Islam juga menekankan pentingnya memperbaiki moralitas (pembenahan) dan bertobat dengan kembali ke Islam sebagai respons terhadap bencana.
Namun untuk menuju ke sana, diperlukan peran serta seluruh umat, terlebih pihak-pihak yang memiliki kekuatan dalam hal menolong agama Allah SWT.
“Diperlukan perjuangan oleh seluruh umat, dukungan oleh pihak yang memiliki kekuatan demi tegaknya syariah secara kaffah yang akan memberikan rahmat bagi sekalian umat manusia atau rahmatan lil alamin,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat