Di sebuah ruangan tertutup di ibu kota Barat, tiga pria duduk mengelilingi meja bundar: seorang syeikh Muslim berjanggut rapi, seorang pendeta Kristen memegang Alkitab, dan seorang rabi Yahudi bersandar pada tongkatnya. Di belakang mereka terbentang peta tanpa batas yang jelas … hanya sungai yang mengalir dan langit yang terbuka.
Sang rabi berkata dengan tenang, dan dengan sedikit kelicikan, “Waktunya telah tiba untuk kembali pada janji Israel dari Efrat hingga Nil.”
Sementara sang imam (pendeta) tersenyum, menepuk bahu sang syeikh. “Atas nama perdamaian Abraham, kita akan membangun surga bagi tiga agama. Tidak akan ada lagi perang.”
Sedang sang syeikh menatap tangannya, lalu berkata, “Selama negeri ini dibangun di atas monoteisme, biarlah …”
Di luar, peta-peta digambar ulang, tidak hanya melalui peperangan, tetapi juga melalui teks-teks suci yang ditafsirkan, yang digunakan untuk meloloskan sebuah proyek yang tidak memiliki kesucian selain namanya, sementara orang-orang dituntun menuju sebuah “mimpi” yang tidak pernah mereka impikan.
Pemahaman kita tentang bungkus keagamaan untuk proyek “Israel Raya” adalah kunci untuk memahami hakikat konflik kontemporer.
Sekilas tentang awal mula gerakan Zionis, kita menemukan bahwa gagasan “Tanah Perjanjian” di kalangan orang Yahudi dikaitkan dengan Nabi kita Ibrahim ‘alaihis salam, sebagaimana tercantum dalam Kitab Kejadian (Genesis), “Firman Tuhan datang kepada Abraham: Kepadamu dan keturunanmu Aku telah memberikan tanah ini, dari sungai Mesir (Nil) sampai ke sungai besar, Sungai Efrat.” Kemudian gagasan ini berubah menjadi proyek politik yang berupaya mencapai janji ini dengan memperluas pengaruh dan memecah belah negara-negara di Timur Tengah, yang didukung oleh Zionisme Kristen—di mana mereka meyakini bahwa berdirinya Negara Israel membuka jalan bagi kedatangan Kristus yang kedua, dan terjadinya Pertempuran Armagedon di Timur Tengah mengharuskan Israel berada dalam posisi yang kuat—sebagai pemenuhan perjanjian (ilahi) ini.
Dan di sinilah kita hari ini berada di tengah seruan untuk agama Abrahamik yang digunakan sebagai kedok moral untuk membenarkan proyek ekspansionis yang dikaitkan dengan teks-teks yang menghubungkan Nabi kita Ibrahim ‘alaihis salam dengan bumi (tanah), untuk melemahkan kritik internal maupun regional terhadap proyek ini. Hal ini juga digunakan sebagai wacana perdamaian global yang didasarkan pada penggabungan agama-agama samawi di bawah payung monoteistik yang berpusat pada al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota kesatuan entitas Yahudi, sebagai persiapan untuk melegitimasi aneksasinya dan menerima gagasan untuk menghancukan Masjidil Aqsa demi Bait Suci Pertama (Haikal Sulaiman), yaitu merumuskan Timur Tengah baru di mana entitas Yahudi menjadi jantungnya, baik secara agama maupun ekonomi, sebagaimana ditunjukkan Netanyahu dalam semua pidatonya.
Saat ini kita menghadapi agama Abrahamik baru yang menghapus identitas dan membuka jalan atas nama perdamaian melalui normalisasi dengan entitas Yahudi. Kita memiliki contoh nyata di Uni Emirat Arab, di mana “Rumah Keluarga Abrahamik” didirikan setelah penandatanganan Perjanjian Abraham, yang kini Trump minta agar ditandatangani oleh negara-negara Arab.
Artikel ini tidak dapat menjelaskan sepenuhnya bagaimana agama ini menarik para korbannya, tetapi perlu dicatat bahwa hal itu terjadi secara bertahap, melalui penyembunyian nilai-nilai dan manipulasi konsep dengan mengubah kurikulum dan wacana keagamaan di satu sisi, dan dengan menanamkan rasa takut terhadap Islam politik di sisi lain. Akibatnya, mereka tidak merasa kehilangan apa pun dari agama mereka … padahal kenyataannya, mereka telah meninggalkan aspek terpentingnya! Allah SWT berfirman:
﴿إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ﴾
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (TQS. Ali Imran [3] : 19).
Allah SWT juga berfirman:
﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (TQS. Ali Imran [3] : 85).
Bahaya dari apa yang disebut agama Abrahamik tidak hanya terletak pada kenyataan bahwa ia merupakan wacana politik yang dibungkus dengan agama, tetapi juga pada kemampuannya untuk mereproduksi kolonialisme dalam bahasa spiritual yang lembut yang melucuti umat dari alat penolakan dan perlawanan atas nama toleransi dan keterbukaan.
Ia tidak hanya memalsukan konsep, tetapi secara bertahap membentuk kembali kesadaran untuk menjadikan normalisasi sebagai takdir, konsesi sebagai kebajikan, dan pendudukan sebagai mitra dalam kesucian. Dengan demikian, konflik tersebut berubah dari pertikaian eksistensi menjadi perbedaan pandangan, dan dari isu nasional menjadi dialog agama. Inilah hal paling berbahaya yang dapat dihadapi masyarakat ketika standar hak direnggut dari mereka dan digantikan dengan logika “konsensus internasional” di bawah slogan perdamaian.
Perang hari ini adalah perang agama dan identitas, tetapi mereka mengabaikan atau mengingkari bahwa agama kita memiliki segel, kitab suci yang tak tergoyahkan, nabi yang tak terlupakan, dan umat yang tak pernah tunduk kepada siapa pun selain Allah. Sekalipun roboh diterjang badai, namun ia tidak mati atau lenyap. Sebaliknya, ia memiliki proyek Islam yang tak tergoyahkan, tak berkompromi, dan tak menukar kebenaran dengan ilusi, karena ia berasal dari sisi Allah. Dan ketika ia kembali, ia tidak kembali dengan kedok “penerimaan global” atau “toleransi imitasi”, melainkan dengan timbangan keadilan, suara kebenaran, dan panji “Lā Ilaha Illallah Muhammad Rasūlullah, Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah.”
Biarkanlah mereka merancang dan menyusun tipu daya sesuka mereka, karena tipu daya mereka tidak akan berhasil, ia akan lenyap tertelan bumi. Sementara janji Allah itu benar:
﴿وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan merupakan hak (tanggung jawab) Kami menolong orang-orang mukmin.” (TQS. Ar-Rum [30] : 47). [] Manal Umm Ubaidah
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 25/11/2025.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat