AS Serang Venezuela, Dino Patti Djalal: Era Hukum Rimba Telah Tiba

MediaUmat Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang juga disertai dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro, dinilai Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal, sebagai bukti hukum rimba telah tiba dan menggantikan hukum internasional.

“Invasi militer dan penangkapan atau penculikan Presiden Venezuela Maduro, oleh AS, menandakan bahwa hukum rimba telah menggantikan hukum internasional,” kata Dino melalui akun X resminya, @dinopattidjalal, dikutip media-umat.com, Ahad (4/1/2026).

Dengan kata lain, invasi dan penangkapan ini menandakan bahwa negara yang menganggap dirinya kuat merasa berhak melakukan hal semaunya secara otoriter, tidak adil, atau tanpa merujuk pada prinsip dasar keadilan dan kesetaraan terhadap negara lain.

Dalam hal ini, betapa AS merasa berhak menggunakan kekuatan militer secara sepihak tanpa mengindahkan prinsip kedaulatan dan mekanisme hukum internasional. “Negara yang kuat merasa berhak melakukan aksi ‘semau gue’ terhadap negara lain,” sambung Dino.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026) pagi oleh anggota Delta Force, pasukan elite untuk unit misi khusus militer AS. Pengumuman ini ia sampaikan dalam sebuah konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya di Florida.

Trump menyebut operasi tersebut sebagai puncak dari kampanye panjang AS yang bertujuan menghadapi ancaman narkoba, migrasi ilegal, dan narko-terorisme.

Bahkan Trump mengklaim, Venezuela sebagai asal dari gelombang migran yang memadati perbatasan selatan AS dalam beberapa tahun terakhir.

Minyak Venezuela

Padahal, di sisi lain, meski dibantah keras oleh Departemen Luar Negeri AS, telah terkuak dari laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think thank terkemuka di AS, ternyata Trump juga menyatakan ke depan bahwa AS akan ikut membangun Venezuela dengan fokus pada sektor minyak. csis.org (3/1),

Untuk diketahui, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah sebesar 303 miliar barel, sekitar seperlima cadangan dunia, namun produksinya merosot drastis dari 3,5 juta barel per hari pada 1990-an menjadi sekitar 1 juta barel saat ini. Sanksi internasional, krisis ekonomi, dan minimnya investasi membuat infrastruktur energi negara itu terpuruk.

Minyak Venezuela yang didominasi crude berat dan asam membutuhkan teknologi tinggi yang biasanya dikuasai perusahaan internasional. Namun, aktivitas perusahaan tersebut dibatasi oleh kondisi geopolitik dan sanksi.

Meskipun AS adalah produsen minyak terbesar dunia, negara itu tetap mengimpor minyak berat, termasuk dari Venezuela, karena penting untuk produksi diesel, aspal, dan bahan bakar industri. Sebagian besar kilang AS dirancang untuk memproses minyak Venezuela, yang menurut analis Phil Flynn, membuatnya lebih efisien dibandingkan menggunakan minyak domestik (cnn.com [3/12]).

Makanya, kata Dino lebih lanjut, motivasi utama operasi perubahan rezim oleh Trump terhadap Presiden Maduro, bisa disebut untuk kepentingan keamanan energi AS, bukan faktor lain seperti demokrasi maupun isu bahaya narkoba.

“Jelaslah, motivasi utama operasi regime change Trump terhadap Presiden Maduro adalah untuk keamanan energi AS, bukan faktor lain (demokrasi + narkoba),” tulis Dino, masih di akun X resminya.

Tak ayal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia, sekaligus sebagai mantan Duta Besar Indonesia untuk AS periode 2010–2013, itu pun mempertanyakan sikap Dewan Keamanan PBB hingga G7 dalam penangkapan Maduro.

“Bagaimana sikap DK PBB? Sikap G7? Bagaimana sikap Amerika Latin?” lontarnya.

Ditambah, ia juga mempersoalkan di mana posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang kian tidak menentu. Sebab, menurutnya, situasi ini menjadi ujian nyata bagi politik luar negeri Indonesia yang selama ini berpegang pada prinsip bebas aktif.

“Bagaimana sikap Indonesia? Ini ujian bagi politik luar negeri bebas aktif yang berlandaskan pada prinsip,” pungkasnya, tak habis pikir.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: