AS Membajak Kapal Minyak Venezuela, Hizbut Tahrir: Ini Kejahatan Imperialis Terbuka

 AS Membajak Kapal Minyak Venezuela, Hizbut Tahrir: Ini Kejahatan Imperialis Terbuka

MediaUmat Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak Skipper di perairan internasional lepas pantai Venezuela pada 10 Desember 2025. Kapal tersebut membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Venezuela yang kemudian dialihkan ke dalam penguasaan AS dengan dalih penegakan sanksi.

Pemerintah Venezuela dan Kuba mengecam keras tindakan tersebut. Caracas menyebutnya sebagai pembajakan dan pencurian terang-terangan, sementara Kuba menilai aksi AS sebagai terorisme maritim yang berdampak langsung pada pasokan energi kawasan.

Akibat penyitaan ini, lebih dari 11 juta barel minyak Venezuela tertahan di laut, karena perusahaan tanker dan pedagang internasional menilai ulang risiko mengangkut minyak Venezuela. Situasi tersebut memaksa Venezuela memberikan diskon besar dan menegosiasikan ulang kontrak dengan pembeli utama seperti Tiongkok.

Menanggapi hal ini, Dr. Abdullah Robin, penulis dan pengamat politik internasional dari Hizbut Tahrir, menegaskan bahwa tindakan AS tersebut bukan penegakan hukum, melainkan kejahatan imperialis yang disengaja.

“Apa yang dilakukan Amerika Serikat terhadap kapal Skipper bukanlah penegakan hukum internasional, melainkan pembajakan terang-terangan di laut lepas. Sanksi hanyalah kedok untuk menguasai urat nadi ekonomi Venezuela dan menundukkannya secara politik,” tegas Dr. Robin.

Ia menjelaskan bahwa tekanan AS terhadap Venezuela telah berlangsung lama, terutama sejak sanksi luas diberlakukan pada 2019 terhadap perusahaan minyak negara PDVSA. Menurutnya, penyitaan kapal ini menandai eskalasi berbahaya, karena AS kini menggunakan kekuatan militer secara langsung untuk menghalangi ekspor minyak negara berdaulat.

“Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Ketika negara ini tidak tunduk dan justru bermitra dengan Cina, Rusia, dan Kuba, Amerika memilih jalur kekerasan. Inilah wajah asli imperialisme modern,” tambahnya.

Dr. Robin juga menegaskan bahwa rakyat Venezuela adalah pihak yang paling dirugikan.

“Rakyat dipaksa menanggung penderitaan ekonomi, sementara kekayaan alam mereka dijadikan alat tawar geopolitik. Ini menunjukkan bahwa sistem internasional hari ini melindungi kepentingan negara kuat, bukan keadilan,” ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa pembajakan di Karibia ini merupakan bagian dari pola global AS.

“Amerika memperlakukan bangsa-bangsa lain sebagai ladang eksploitasi. Selama sistem global ini dipertahankan, kezaliman semacam ini akan terus berulang.” []af

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *