Amerika, Iran, dan Senjata Nuklir

 Amerika, Iran, dan Senjata Nuklir

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Trump mengatakan, “Iran harus berhenti mengejar senjata nuklir. Amerika Serikat akan memantau rencana Iran terkait program nuklirnya.”

Pernyataan ini muncul di saat berita global terfokus pada keresahan di Iran, yang telah terkait erat dengan tuntutan perbaikan kondisi ekonomi dan pergeseran menuju sistem yang lebih terbuka, yang kurang bergantung pada kekuasaan Pemimpin Tertinggi dan doktrin Syiah. Protes telah melanda kota-kota besar Iran sejak awal Januari 2016, dipicu oleh runtuhnya mata uang dan melonjaknya biaya hidup.

Iran telah berulang kali menyatakan bahwa demonstrasi, yang dimulai sebagai protes damai yang sah untuk menuntut hak-hak rakyat, dieksploitasi oleh Mossad. Menteri luar negerinya menyatakan bahwa ia telah memberikan bukti kepada Amerika Serikat tentang keterlibatan Mossad dalam demonstrasi tersebut, mengubahnya menjadi kerusuhan dan mengakibatkan pembunuhan personel keamanan. Ia menambahkan, “Sekarang jelas bagi Trump ke mana harus mengarahkan senjatanya untuk menekan kerusuhan dan pembunuhan di jalan-jalan Teheran,” merujuk pada entitas Yahudi.

Kemudian muncullah pernyataan Trump, yang mengalihkan fokus dari kerusuhan di jalanan dan tindakan sewenang-wenang ke isu nuklir Iran, yang sebenarnya merupakan inti dari konflik dan pokok permasalahan. Isu nuklir Iran sangat penting bagi pertanyaan tentang stabilitas geopolitik di Timur Tengah yang baru. Terutama karena Amerika Serikat secara efektif telah menarik Iran ke wilayah yang bergejolak ini, menggunakannya selama beberapa dekade melalui pembentukan dan dukungan berkelanjutan terhadap proksinya, Hizbullah, di Lebanon, serta pengelolaannya di balik layar atau upayanya untuk memperkuat rezim Basyar al-Asad dan menghancurkan infrastruktur serta tatanan sosial Suriah, atau bantuannya kepada AS di Irak, untuk membantunya mencapai tingkat stabilitas yang memungkinkannya berfungsi sebagai negara yang stabil dan efektif di bawah kendali Amerika. Lebih lanjut, Iran memainkan peran penting dalam memperkuat pengaruh Amerika di Afghanistan setelah penarikan Soviet pada tahun 1989.

Jadi, Iran merupakan pemain utama di kawasan Timur Tengah, dan Amerika mampu mengeksploitasinya secara kuat dan efektif sejak revolusi Khomeini pada tahun 1979 hingga sekarang. Amerika Serikat telah berhasil meyakinkan negara-negara Teluk Arab, khususnya Arab Saudi, bahwa Iran akan menjadi kekuatan penstabil di kawasan tersebut dan tidak akan menimbulkan ancaman terhadap stabilitas regional secara umum atau terhadap Teluk secara khusus. Namun, Amerika Serikat sejauh ini gagal meredakan kekhawatiran entitas Yahudi dan meyakinkannya tentang perlunya melibatkan Iran dalam upaya menstabilkan isu-isu yang bergejolak di Timur Tengah. Entitas Yahudi meyakini bahwa Iran tidak boleh memiliki kekuatan pencegah atau penyerang yang setara atau melebihinya, dan menganggap ini sebagai masalah serius bukan sekedar strategi, yang berarti bahwa keberadaan entitas Yahudi akan terancam secara fundamental jika ada negara di kawasan itu yang memiliki senjata strategis yang setara atau melebihinya dalam hal kekuatan.

Inilah inti permasalahan yang terus menjadi hambatan utama bagi proyek utama Amerika untuk Timur Tengah yang stabil, yang berarti bahwa sumber daya wilayah ini tidak terputus dari denyut nadi Barat secara umum dan Amerika secara khusus, bahwa jalur perairan tidak akan pernah ditutup untuk perdagangan internasional, dan sistem Islam politik tidak akan pernah kembali ke wilayah ini. Masalahnya di sini adalah bahwa stabilitas internal kawasan ini membutuhkan keseimbangan kekuatan, yang dijamin secara eksternal oleh Amerika Serikat. Keseimbangan kekuatan internal ini mengharuskan tidak ada satu negara pun di kawasan ini yang memiliki keunggulan strategis absolut, seperti kepemilikan eksklusif senjata nuklir. Jadi, kepemilikan senjata nuklir oleh Iran adalah murni masalah strategis, yang melayani agenda masa depan Amerika tanpa bertentangan dengannya. Namun, pada saat yang sama, hal itu sangat mengkhawatirkan entitas Yahudi.

Selama perang genosida di Gaza, kita menyaksikan bagaimana entitas Yahudi berupaya menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Kita juga melihat bagaimana Amerika menahannya melalui serangan udara terbatas, setelah itu Amerika menyatakan penghapusan kemampuan nuklir Iran, meskipun ada laporan politik dan teknis spesifik dari Badan Energi Atom Internasional yang menunjukkan bahwa Iran tidak kehilangan kapasitas pengayaan uraniumnya, dan tidak ada uranium yang telah diperkaya sebelumnya yang dihancurkan.

Oleh karena itu, entitas Yahudi mencari cara lain untuk mencegah Iran menjadi penyeimbang baginya di Timur Tengah. Mereka menggunakan informan dan agennya di Iran untuk menghasut kekerasan dan pertumpahan darah, dengan harapan dapat menjatuhkan rezim tersebut dan dengan demikian mencegah munculnya kekuatan nuklir lain di kawasan itu.

Oleh karena itu, pernyataan Trump kepada CNBC, pada 22 Januari 2026, mengulang ancamannya terhadap Iran terkait program nuklirnya. Pernyataan ini tidak ditujukan kepada Iran, karena Amerika sepenuhnya menyadari apa yang terjadi di sana. Trump sendirilah yang menghentikan pelaksanaan perjanjian untuk memantau program nuklir Iran pada Mei 2018, yang ditandatangani dan disetujui oleh Dewan Keamanan PBB setelah ditandatangani oleh kelompok 5+1, yang dibentuk pada tahun 2015, di dalamnya ada Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China, termasuk juga Iran. Ketika Trump menghentikan pemantauan dengan perjanjian ini, maka dia membuka pintu bagi Iran untuk melakukan apa pun yang dianggapnya pantas tanpa pengawasan internasional atas aktivitasnya.

Pernyataan Trump sebenarnya merupakan pengungkapan kebenaran tentang apa yang terjadi di Iran, yaitu penargetan terus-menerus terhadap kemampuan Iran oleh entitas Yahudi agar Iran tidak mencapai tingkat kekuatan yang setara atau sejajar dengan kekuatannya. Amerika mungkin akan mengulangi tindakannya dengan serangan pendahuluan, sekali lagi mengumumkan penghancuran fasilitas nuklir Iran. Hal ini sekaligus akan memberikan rezim Iran peluang signifikan untuk menenangkan publik Iran dengan meningkatkan sentimen nasionalis dan semangat patriotik terhadap serangan asing yang dianggap sebagai ancaman bagi publik Iran.

Sampai Allah menetapkan berdirinya Khilafah ‘ala minhājin nubuwah, maka kawasan Timur Tengah, yang merupakan jantung negeri-negeri Islam, akan tetap menjadi panggung bagi aktivitas musuh-musuh umat Islam, yang akan terus membunuh dan menggusur rakyatnya, menjarah dan menyia-nyiakan sumber dayanya, serta menikam dan menghancurkan nilai-nilainya.

﴿وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ﴾

Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (TQS. Al-Qashash [28] : 5). [] Dr. Muhammad Jilani

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 24/1/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *