Alil Towew Bantah Narasi Gorengan: Kebijakan Sawit Akar Deforestasi

 Alil Towew Bantah Narasi Gorengan: Kebijakan Sawit Akar Deforestasi

MediaUmat Menyanggah pernyataan mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi yang menyebut ‘kebiasaan masyarakat minum kopi dan makan gorengan dapat memicu penebangan hutan atau deforestasi’ Matematikawan dan Komunikator Sains Alif Hijriah (yang popular dipanggil Alil Towew) menyatakan persoalan deforestasi di Indonesia berkaitan dengan kebijakan ekspansi sawit, bukan konsumsi masyarakat.

“Jadi sebenarnya menyalahkan orang yang makan gorengan ini kurang tepat karena akar masalahnya itu adalah dari kebijakan yang kurang tepat,” ujarnya dalam siniar Viral! Penebangan Hutan Terjadi Karena Kita Makan Gorengan & Kopi. Apakah Betul? Yuk Kita Hitung, Sabtu (12/12/2025) di YouTube Short Alil Towew.

Magister matematika jalur fast track ITB (2018) yang lulus cum laude tersebut pun mengajak audiens menghitung bersama seberapa signifikan gorengan khususnya ataupun konsumsi minyak sawit dalam negeri umumnya dibanding total produksi sawit.

“Yang katanya kita jangan protes penebangan hutan kalau masih makan gorengan. Apakah betul salah yang makan gorengan? Yuk kita hitung,” ujar Alil.

Alil pun memulai dengan menghitung kebutuhan riil minyak goreng nasional. Menurutnya, konsumsi minyak goreng ditentukan oleh dua variabel utama, yakni konsumsi per kapita dan jumlah penduduk.

“Konsumsi minyak itu 9,5 kilo per tahun per orang,” jelasnya. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 278 juta jiwa, konsumsi nasional minyak goreng hanya mencapai sekitar 2,66 juta ton per tahun, terangnya.

Besaran konsumsi tersebut kemudian dibandingkan dengan kapasitas produksi sawit nasional untuk mengetahui kebutuhan lahan yang sebenarnya. Perhitungan dilakukan dengan melihat produktivitas lahan sawit per hektare per tahun.

“Produktivitas pembuatan minyak itu sekitar 3,14 ton per hektare per tahun,” ungkapnya. Dengan produktivitas tersebut, kebutuhan lahan sawit untuk konsumsi minyak goreng nasional hanya sekitar 847 ribu hektare.

Hasil perhitungan itu menunjukkan ketimpangan yang signifikan jika dibandingkan dengan kondisi faktual di lapangan. Saat ini, luas kebun sawit di Indonesia tercatat jauh melampaui kebutuhan konsumsi minyak goreng domestik.

“Sedangkan luas sawit di Indonesia itu sekitar 16 juta hektare. Ini 19 kali lebih banyak dari kebutuhan konsumsi minyak goreng,” tegas Alil Towew.

Berdasarkan perbandingan tersebut, Alil Towew menilai narasi yang menyalahkan konsumsi gorengan sebagai penyebab deforestasi tidak memiliki dasar yang kuat.

“Jadi pernyataannya kurang tepat ya menyalahkan yang mengkonsumsi gorengan,” tegasnya.

Perhitungan kemudian diperluas dengan memasukkan kebutuhan sawit untuk sektor pangan, biodiesel, dan industri kimia domestik. Namun, hasilnya tetap menunjukkan kelebihan lahan sawit yang sangat besar.

“Kalau untuk pangan, biodiesel, dan oil kimia, kita butuh 22,23 juta ton. Berarti luas sawit yang dibutuhkan sekitar 7 juta hektare,” jelasnya.

Dengan luas sawit nasional yang mencapai sekitar 16 juta hektare, terdapat kelebihan lahan yang cukup signifikan dibandingkan kebutuhan domestik.

“Artinya ada kelebihan 9 juta hektare. Nah, ini kayaknya untuk kebutuhan ekspor kita,” ungkap Alil Towew.

Di sisi lain, pembenaran terhadap ekspansi sawit kerap disandarkan pada klaim bahwa kondisi hutan nasional masih berada pada batas aman. Namun, menurut Alil Towew, angka nasional tidak mencerminkan kondisi ekologis di tingkat daerah.

“Hutan kita tuh sekarang sekitar 95 juta hektare atau sekitar 51 persen. Ini masih aman ya karena di atas 30 persen,” jelasnya.

Persoalan muncul ketika distribusi tutupan hutan tidak merata antar wilayah. Sejumlah provinsi justru telah berada di bawah batas minimum tutupan hutan.

“Tapi penyebarannya ini yang tidak merata. Provinsi-provinsi seperti Riau, Sumatra Selatan, Lampung, dan lainnya ini ada yang sudah di bawah 30 persen,” tegasnya.

Rangkaian data tersebut, menurut Alil Towew, menunjukkan bahwa deforestasi tidak dapat disederhanakan sebagai akibat perilaku konsumsi masyarakat.

Ia pun mengingatkan agar pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara rasional dan terukur.

“Intinya jangan serakah karena semua itu ada hitungannya supaya semua aman dan bisa dimanfaatkan dengan optimal,” tutupnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *