Kantor kepresidenan Suriah mengumumkan bahwa Presiden Ahmad al-Syara’ menerima Utusan Khusus AS untuk Suriah, Thomas Barrack, pada hari Ahad (18/1) di Istana Rakyat di Damaskus, didampingi Menteri Luar Negerinya, As’ad Hassan al-Syaibani.
Kantor kepresidenan menyatakan melalui saluran Telegramnya bahwa al-Syara’ menekankan selama pertemuan tersebut terkait persatuan dan kedaulatan Suriah atas seluruh wilayahnya, pentingnya dialog pada tahap saat ini, dan upaya untuk membangun kembali Suriah dengan partisipasi seluruh rakyat Suriah, di samping terus mengoordinasikan upaya dalam memerangi terorisme.
Kantor kepresidenan menambahkan bahwa pertemuan tersebut membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara Suriah dan Amerika Serikat, serta membahas perkembangan regional terkini.
Pertemuan Al-Julani dengan utusan AS bertepatan dengan bentrokan yang sedang berlangsung antara tentara Suriah dan suku-suku Arab di satu sisi, dan SDF di sisi lain, di kedua sisi Sungai Eufrat. Kunjungan tersebut juga bertepatan dengan pertempuran sengit yang terus berlanjut di timur dan timur laut negara itu, di mana pasukan tentara dan suku-suku Arab menghadapi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di berbagai front.
Sungguh menyedihkan dan menyakitkan bahwa seseorang yang pernah mengaku sedang melakukan jihad melawan penjajah dan jagal tiran Asad di Irak dan Suriah kini telah menjadi boneka tulen di tangan kekuatan yang justru ia klaim sedang dilawannya. Presiden Suriah yang baru telah menjadi alat Amerika, berupaya menerapkan rencana dan perintah Amerika.
Namun, Amerika, yang bahkan tidak mempercayai bonekanya sendiri, tetap memiliki alat-alat tekanan untuk memaksa mereka kembali patuh jika mereka menyimpang dari perintahnya; di antara alat-alat ini adalah kelompok-kelompok Kurdi di Suriah (SDF dan Unit Perlindungan Rakyat), yang sepenuhnya dikendalikan oleh Amerika.
Penentangan atau persetujuan mereka terhadap rezim Suriah yang baru hanyalah pelaksanaan perintah Amerika. Kelompok-kelompok ini, yang dikelilingi oleh para antek dari segala sisi, tidak memiliki sarana untuk bertahan hidup atau melanjutkan keberadaannya tanpa dukungan Amerika; oleh karena itu, Amerika menggunakan mereka sebagai alat tawar-menawar dan alat untuk menundukkan kawasan tersebut demi kepentingan Amerika sendiri (hizb-ut-tahrir.info, 19/1/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat