Agama Abrahamik dan Reproduksi Kolonialisme
Bahaya dari apa yang disebut agama Abrahamik tidak hanya terletak pada kenyataan bahwa itu adalah wacana politik yang dibungkus dalam agama, tetapi juga pada kemampuannya untuk mereproduksi kolonialisme dalam bahasa spiritual yang lembut yang melucuti umat dari alat-alat penolakan dan perlawanan atas nama toleransi dan keterbukaan.
Hal ini tidak hanya memalsukan konsep, tetapi secara bertahap membentuk kembali kesadaran untuk menjadikan normalisasi sebagai takdir, konsesi sebagai kebajikan, dan pendudukan sebagai mitra dalam kesucian. Dengan demikian, konflik berubah dari pertempuran eksistensi menjadi perbedaan sudut pandang, dan dari masalah nasional menjadi dialog antar agama. Inilah hal paling berbahaya yang dapat dihadapi suatu bangsa ketika standar kebenaran diambil darinya dan digantikan dengan logika “konsensus internasional” di bawah slogan perdamaian.
Perang saat ini adalah perang agama dan identitas, tetapi mereka mengabaikan atau melupakan bahwa agama kita memiliki stempel, sebuah kitab yang tidak dapat diputarbalikkan, seorang nabi yang tidak dilupakan, dan sebuah umat yang tidak pernah tunduk kepada siapa pun selain Allah. Sekalipun tertunduk karena badai, ia tidak mati atau lenyap. Sebaliknya, ia memiliki proyek Islam yang tidak akan luntur, tidak akan berkompromi, dan tidak akan menukar kebenaran dengan ilusi, karena itu berasal dari Allah. Dan ketika ia kembali, ia tidak kembali dengan balutan “penerimaan global” atau “toleransi imitasi”, tetapi dengan timbangan keadilan, suara kebenaran, dan panji “Lā Ilāha Ilallāh Muhammad Rasūlullāh, Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah”.
Biarkanlah mereka merancang dan menyusun tipu daya sesuka mereka, karena tipu daya mereka tidak akan berhasil, ia akan lenyap tertelan bumi. Sementara janji Allah itu benar:
﴿وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan merupakan hak (tanggung jawab) Kami menolong orang-orang mukmin.” (TQS. Ar-Rum [30] : 47).
Sumber: alraiah.net, 10/12/2025.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat