Matinya Sang Iblis
Kantor Senator AS Lindsey Graham, salah satu sekutu terdekat Presiden Trump di Kongres, mengumumkan kematiannya pada Sabtu malam (11/7) setelah “sakit mendadak”. Kematian Graham memicu gelombang reaksi, terutama di entitas Yahudi, di mana ia dikenal karena sikapnya yang mendukung dan hubungan dekatnya dengan para pemimpinnya. Para pejabat entitas Yahudi berduka atas kepergiannya, dengan memuji perannya dalam membela negara mereka dan dukungannya yang tak tergoyahkan.
Komentar:
Lindsey Graham merupakan salah satu pendukung Amerika paling menonjol bagi entitas Yahudi (Israel), dan termasuk orang yang menuntut untuk membekalinya dengan segala hal yang diperlukan demi meraih kemenangan dalam perang yang dilancarkannya di Jalur Gaza setelah operasi Thufan Al-Aqsa. Pada saat itu, ia bahkan menuntut agar mereka diberikan bom nuklir yang diperlukan untuk mengakhiri perang di Gaza, karena menurutnya, mereka tidak dapat menanggung kerugian.
Pada awal agresi Yahudi di Gaza, Graham menulis: “Kita sedang berada dalam perang agama di sini, saya bersama Israel, lakukan apa pun yang harus Anda lakukan untuk membela diri, ratakan tempat itu.”
Ia juga mengatakan dalam sebuah video yang dipublikasikan: “Ini adalah perang agama, para pengikut Islam ekstrem, baik Sunni maupun Syiah, ingin kita semua tunduk pada kehendak mereka. Mereka semua mabuk oleh agama mereka; mereka akan membunuh atas nama Tuhan.”
Sejumlah komentator dan penulis Amerika meluncurkan serangan tajam terhadap Graham. Komentator politik Jackson Hinkle menggambarkannya sebagai “setan” dan mengunggah kembali potongan video lama yang berbicara tentang sikap Graham terhadap Iran, serta menganggap bahwa Graham merayakan kematian siswi-siswi Iran, merujuk pada serangan yang menargetkan sebuah sekolah di sana.
Di entitas Yahudi, Anda dapat melihat ratapan para politisi atas kepergiannya, karena mereka telah kehilangan orang yang sangat berharga bagi mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan menyampaikan belasungkawa dan menyayangkan kehilangannya, sama halnya dengan Trump yang menggambarkannya sebagai teman setianya.
Hari ini, telah mati setan lainnya untuk menerima balasan di sisi (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Namun, masih banyak setan yang tersisa di dunia ini, yang mana Allah memberi mereka tangguh tetapi tidak pernah melupakan mereka, dan Dia membiarkan mereka dalam kesesatan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya yang lihai padahal di sisi Allah-lah (balasan) tipu daya mereka itu. Dan sesungguhnya tipu daya mereka itu tidak akan sanggup melenyapkan gunung-gunung. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, mempunyai pembalasan (yang kejam).” (QS. Ibrahim: 46-47). []Husamuddin Mustafa