Perang AS-Iran dan Realitas Iran
Soal:
Serangan AS terhadap Iran dan balasan Iran terhadap serangan tersebut telah berlanjut selama lebih dari tiga bulan. “Komando militer AS menyatakan bahwa mereka melakukan serangan presisi yang menargetkan stasiun kendali darat Iran di Pulau Qasymun. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa mereka menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut…” (al-Jazeera, 3 Juni 2026). Demikian pula, serangan oleh entitas Yahudi terhadap Lebanon selatan terus berlanjut. “Bentrokan berlanjut semalaman antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan, meskipun Trump mengumumkan bahwa kedua pihak telah menyetujui gencatan senjata sebelum putaran baru negosiasi antara Lebanon dan Israel, yang dijadwalkan berlangsung hari ini di Washington…” (BBC, 2 Juni 2026). Pada 28 Februari 2026, AS, bersama dengan anak asuhnya, entitas Yahudi, melancarkan agresi terhadap Iran yang berlangsung sekitar 40 hari, menewaskan sekitar 40 orang pejabat politik dan militer senior, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Rencananya adalah untuk menggulingkan rezim atau mengubahnya dari negara satelit menjadi negara pengikut. Namun, semisal hal itu tidak terjadi. Kemudian terjadilah negosiasi tidak langsung di Pakistan antara Iran dan Amerika Serikat, yang diwarnai oleh usulan dari kedua belah pihak, saling balas antara Amerika dan anak asuhnya, entitas Zionis Yahudi, serta tanggapan Iran. Belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai usulan apa pun. Jadi, bagaimana posisi Iran saat ini? Apakah Iran telah menjadi negara independen, tetap menjadi negara satelit, ataukah terombang-ambing di antara keduanya? Semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda.
Jawab:
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kami meninjau hal-hal berikut:
- Ketika Amerika, bersama dengan entitas Yahudi, melancarkan agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dan membunuh sekitar 40 orang pemimpin politik dan militer Iran, yang tertinggi adalah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang merupakan pejabat tertinggi di negara tersebut, tindakan ini menunjukkan bahwa Amerika tidak puas dengan kepemimpinan Iran dan kebijakannya, dan ingin menyingkirkan kepemimpinan ini serta mengubah kebijakan tersebut, karena Amerika menyadari bahwa kepemimpinan ini memiliki kecenderungan independen, dan karena alasan ini Amerika ingin mendatangkan pemimpin yang akan mengikutinya. Kami katakan di Jawab Soal tertanggal 4 April 2026, berjudul “Agresi Terhadap Iran” : “Tampaknya perhitungan Amerika dan entitas Yahudi keliru. Ketika mereka melancarkan agresi terhadap Iran, mereka menetapkan jangka waktu singkat untuk perang itu, diperkirakan empat hari, dengan serangan skala besar dan cepat yang menargetkan pimpinan tertinggi, fasilitas nuklir, dan pabrik serta lokasi peluncuran rudal. Mereka beranggapan bahwa hanya dengan serangan terhadap kepala rezim dan para pemimpin pada barisan pertama saja, maka barisan kedua akan menyerah kepada syarat-syarat mereka, seperti yang terjadi di Venezuela ketika pasukan Amerika menculik presidennya, lalu wakil presiden dan orang-orang yang bersamanya pun menyerah kepada Amerika. Namun, hal itu tidak terjadi di Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, dan beberapa pemimpin rezim. Garda Revolusi tetap teguh dan bertekad untuk menghadapi agresi ini dan menyerang musuh… Hal itu menunjukkan bahwa Amerika bertujuan untuk mengubah kebijakan rezim dari negara satelit menjadi negara pengikut, sehingga Amerika dapat mendiktekan persyaratannya dalam negosiasi dengan Iran. Dan karena ahal itu tidak terjadi, mereka memutuskan untuk melanjutkan perang”. Situasi saat ini di Iran adalah benar-benar putus dengan Amerika, kecuali beberapa kontak telepon antara pejabat di kementerian luar negeri kedua negara dan komunikasi tidak langsung melalui pihak ketiga, seperti Pakistan.
- Balasan Iran sangat berpengaruh, karena mereka menolak untuk mundur atau memberikan konsesi terkait masalah nuklir atau Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa tanggapannya menyerukan diakhirinya perang di semua lini, termasuk Lebanon, pencabutan blokade angkatan laut Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan jaminan pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri berdasarkan sanksi yang diberlakukan bertahun-tahun lalu (al-‘Arabiya, 12 Mei 2026)… Semua itu menunjukkan bahwa cara-cara yang digunakan oleh pemerintahan Amerika untuk menangani masalah Iran dan mengubahnya menjadi negara pengikut telah gagal, satu hal yang membuat keluarnya pernyataan-pernyataan para pejabat Amerika yang memberikan isyarat untuk lebih sabar terhadap masalah Iran.
- Ketika Trump gagal mencapai tujuan yang ditentukannya terkait Iran melalui agresi 40 hari dan pembunuhan sejumlah pemimpin tingkat pertama dan kedua, ia mengumumkan rencana 15 poin… Jelas dari poin-poin rencana ini bahwa itu adalah rencana penyerahan diri! Rencana itu berarti melucuti Iran dari kemampuannya sendiri, baik rudal maupun nuklir… Hal ini menyebabkan reaksi keras dari Garda Revolusi, yang menolak untuk menyerah pada persyaratan Trump… Ketika Iran menolak untuk menyerah dan bersikeras pada sikapnya dan siap untuk berperang, Amerika mengumumkan dilanjutkannya negosiasi untuk menandatangani perjanjian dengan Iran. Maka, AS mengirim pejabat tertinggi kedua mereka, Wakil Presiden Vance, ke Pakistan untuk bernegosiasi dengan Iran pada 11 April 2026. Vance mengatakan, “Para negosiator Iran ingin membuat kesepakatan. Tetapi Presiden Trump tidak menginginkan kesepakatan terbatas dengan Iran, tetapi dia menginginkan kesepakatan besar yang mengakhiri konflik sepenuhnya… Kami membuat kemajuan luar biasa dalam negosiasi dengan Pakistan. Pertemuan kami dengan para pemimpin Iran sangat bersejarah, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam 49 tahun di pemerintahan sebelumnya. Saya duduk berhadapan langsung dengan orang yang benar-benar bertanggung jawab atas urusan Iran, dan kami merasakan keinginan untuk membuat kesepakatan…” (Fox News, 14 April 2026). Tampak bahwa presiden AS sangat menginginkan lebih banyak ketika dia melihat Iran menerima sebagian persyaratannya. Wakil Presiden AS mengatakan, “Tetapi Presiden Trump tidak menginginkan kesepakatan terbatas dengan Iran; dia menginginkan kesepakatan besar”…
- Setelah itu, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu dengan Iran hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata yang telah ia umumkan sekitar dua minggu sebelumnya akan berakhir. Perpanjangan itu, menurutnya “untuk memungkinkan kedua negara melanjutkan pembicaraan perdamaian” (al-Jazeera, 22 April 2026). Namun, Iran menyatakan penolakannya untuk bernegosiasi di bawah tekanan, menuntut pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Pada 20 April 2026, Trump menulis di platform Truth Social miliknya, “Operasi Midnight Hammer (perangnya dengan Israel pada tahun 2025) merupakan penghancuran total situs-situs debu nuklir (yang dia maksudkan adalah uranium yang diperkaya) di Iran, dan oleh karena itu, mengeluarkannya akan menjadi proses yang panjang dan sulit”. Hal itu untuk melunakkan syaratnya agar Iran menyerahkan uranium yang diperkaya kepadanya atau pihak ketiga. Ia sekarang merajihkan pencapaian tujuan negaranya melalui negosiasi, karena ia memandang bahwa mencapainya melalui perang bukanlah hal yang mudah. Karena ini tampak pelunakan dalam sikapnya. Sehingga gencatan senjata tersebut tidak dibatasi waktu.. dan kesulitan mengeluarkan sekitar 441 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%.
- Pada 13 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengungkapkan di platform X tentang jalannya negosiasi dengan Amerika Serikat di Pakistan, yang mana ia merupakan bagian dari delegasi negaranya. Ia menyatakan, “Tim negosiasi Iran di Islamabad, ketika hampir mencapai kesepakatan, menghadapi tuntutan yang berlebihan, tujuan yang terus berubah, dan ancaman-ancaman sanksi”. Hal ini sejalan dengan pernyataan wakil presiden Trump bahwa segala sesuatunya hampir mencapai kesepakatan, tetapi Trump menginginkan lebih! Ia ingin Iran menyerah dan menjadi negara pengikut seperti negara-negara lain di kawasan itu. Ia menambahkan, “Kepemimpinan Iran bingung… Jika mereka ingin berbicara, mereka cukup menghubungi kami” (Fox News, 25 April 2026).
- Iran memahami sejauhmana kebutuhan Amerika untuk meredakan ketegangan tanpa perang besar-besaran, karena situasi domestik Trump supaya partainya tidak mengalami kekalahan dalam pemilihan kongres paruh waktu November mendatang. Jika partainya mengalami kekalahan, hal itu akan berdampak negatif terhadapnya sebagai presiden untuk mendapatkan persetujuan kongres dalam berbagai isu, termasuk melancarkan perang, dan juga akan memengaruhi pemilihan presiden dua tahun kemudian. Lebih jauh lagi, Trump menyadari Amerika akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, yang dimulai pada 11 Juni 2026. Akibatnya, Iran telah memperkuat posisinya dan menyatakan kesiapannya untuk kembali berperang melawan Amerika dan anak asuhnya, entitas Yahudi. Di sini tampak bahwa faksi dalam rezim Iran (Garda Revolusi) kini bertindak menurut kehendak dan keputusannya, berupaya untuk independen dari Amerika. Berkebalikan dengan faksi politik yang ingin membuat kesepamahan dengan Amerika dan bekerja bersamanya sebagai negara satelit setidaknya, dan bukan sebagai negara pengikut.
- Trump menggunakan taktik lain dalam upaya menekan Iran. Pada 4 Mei 2026, ia mengumumkan operasi yang disebut “Proyek Kebebasan”, dengan dalih membantu kapal-kapal dari negara-negara yang ia gambarkan sebagai netral yang terjebak di selat Hormuz dan tidak terkait dengan krisis Timur Tengah untuk melewati Selat Hormuz. Ketika upaya ini gagal, ia menghentikan operasi tersebut. Pada pagi hari tanggal 6 Mei 2026, di platform Truth Social miliknya ia mengumumkan penangguhan operasi tersebut, dengan mengatakan, “Atas permintaan Pakistan dan negara-negara lain, dan mengingat keberhasilan militer yang luar biasa yang telah kita capai dalam operasi yang kita lakukan terhadap Iran, serta untuk membuat kemajuan besar menuju tercapainya kesepakatan komprehensif dan final dengan perwakilan Iran, kami memutuskan secara timbal balik untuk menangguhkan Proyek Kebebasan untuk jangka waktu singkat, sementara blokade tetap berlaku sepenuhnya. Hal itu untuk melihat apakah kesepakatan final dengan Iran dapat tercapai”.
- Pada 6 Mei 2026, situs berita Amerika Axios mengutip sebuah sumber Pakistan yang mengatakan, “AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan mengenai memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang. Kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk menangguhkan pengayaan uranium, persetujuan AS untuk mencabut sanksi, pelepasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan, dan pencabutan pembatasan oleh kedua belah pihak atas lalu lintas melalui Selat Hormuz”. Ini menegaskan bahwa Trump terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran karena melanjutkan perang membutuhkan persetujuan Kongres, dan ini tidak terjamin, dan karena melanjutkan perang juga tidak dapat dijamin hasilnya, karena ia telah mencoba dan gagal. Demikian pula, proyeknya untuk menyelamatkan kapal-kapal yang terdampar di Teluk dengan Operasi Freedom, akan membutuhkan waktu lama untuk berhasil dan penuh dengan risiko, karena Iran mengancam pembalasan yang membahayakan kapal-kapal yang ingin diselamatkannya. Patut dicatat bahwa Trump, sang taipan properti, ingin mencapai kesepakatan politik yang menguntungkan dengan cepat, jadi ia menganalogikan politik terhadap transaksi bisnis!
- “Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada hari Ahad tentang penolakannya terhadap tanggapan yang diajukan Iran melalui mediator Pakistan atas usulannya untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut. Trump menulis dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya: “Baru saja membaca tanggapan dari yang disebut perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya. Sama sekali tidak dapat diterima”. Dalam komentar pertama tentang penolakan Trump terhadap tanggapan Iran, televisi Iran mengatakan, “Tanggapan Teheran terhadap usulan Amerika untuk mengakhiri perang, yang digambarkan Trump sebagai tidak dapat diterima, mengandung penegasan hak-hak fundamental rakyat Iran”. Televisi Iran menambahkan bahwa “Teheran menolak usulan Amerika karena menerimanya berarti penyerahan diri…” Televisi tersebut menunjukkan bahwa tanggapan Iran juga menekankan perlunya Amerika Serikat untuk membayar ganti rugi atas perang dan menegaskan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz… (al-Araby al-Jadeed, 11/5/2026).
- Tanggapan ini membuat Presiden AS Trump marah. Ia mengatakan pada 12 Mei 2026: “Gencatan senjata sedang dalam kondisi kritis, seperti seorang dokter yang masuk ke ruangan dan mengatakan pasien “Anda hanya memiliki sekitar 1% kemungkinan untuk bertahan hidup”. Iran mengira saya akan lelah dengan ini. Saya akan jenuh atau sedikit tertekan”. Ia menambahkan: “Setelah membaca omong kosong ini (tanggapan Iran) yang mereka kirimkan kepada kami, saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya…” (ash-Sharq al-Awsath, 12 Mei 2026). Namun, ia kemudian kembali dan mengatakan: “Kami akan melihat apa yang terjadi dengan Iran. Kami hanya berusaha membuat kesepakatan yang baik. Saya tidak yakin bahwa kami membutuhkan bantuan apa pun mengenai Iran. Kami akan menang dengan satu atau lain cara. Satu-satunya hal yang penting bagi Iran adalah mereka tidak boleh diizinkan untuk memperoleh senjata nuklir…” (al-Jazeera, 12 Mei 2026).
- Kemudian mereka kembali membahas amandemen atau perbaikan untuk kesepakatan tersebut. Situs berita Axios, seperti yang dilaporkan oleh an-Najah News pada 24 Mei 2026, mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa “Amerika Serikat dan Iran hampir menandatangani kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, di mana Selat Hormuz akan dibuka kembali. Kesepakatan tersebut juga menyatakan bahwa Iran akan dapat menjual minyak secara bebas dan mengadakan negosiasi tentang pembatasan program nuklirnya. Selat Hormuz akan dibuka selama periode 60 hari tanpa biaya tol, dan Iran akan setuju untuk menghilangkan ranjau yang telah ditanamnya di selat tersebut untuk memungkinkan jalur bebas bagi kapal”. Laporan tersebut menambahkan bahwa, sebagai imbalannya, dan sebagai bagian dari kesepakatan yang diusulkan, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengeluarkan beberapa pengecualian sanksi untuk memungkinkan Iran menjual minyak secara bebas. Laporan tersebut menyatakan bahwa draf kesepakatan tersebut juga mencakup komitmen dari Iran untuk tidak pernah berusaha memilliki senjata nuklir dan untuk menegosiasikan penangguhan program pengayaan uraniumnya dan penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya… Laporan Axios tersebut juga menyebutkan bahwa AS akan setuju untuk menegosiasikan pencabutan sanksi-sanksi dan penghapusan pembekuan dana Iran selama periode 60 hari tersebut. Gedung Putih belum menanggapi laporan tersebut ..”.
- Al-Arabiya melansir pada 29 Mei 2026, mengutip Reuter, “bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata, mengizinkan pencabutan pembatasan navigasi melalui Selat Hormuz, mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan mencabut beberapa sanksi yang dikenakan pada Iran. Namun, kesepakatan tersebut belum difinalisasi… Mencapai kesepakatan akan menjadi langkah besar menuju pengakhiran perang yang telah mendorong dunia ke dalam krisis energi, tetapi perbedaan mendasar mengenai program nuklir Iran hanya akan dibahas dalam pembicaraan beberapa minggu mendatang. Wakil Presiden Trump, Vance mengatakan pada hari Kamis, “Kami belum mencapainya, tetapi kami sangat dekat, dan kami akan terus berupaya untuk perkara tersebut”. Iran belum memberikan komentar resmi sama sekali. Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim mengutip dari sumber yang dekat dengan tim negosiasi yang mengatakan bahwa teks kesepakatan tersebut belum difinalisasi dan belum dikonfirmasi… Butuh bertahun-tahun negosiasi antara tim besar ahli dan spesialis untuk mencapai kesepakatan seputar program nuklir Iran pada tahun 2015. Dan Trump menarik diri dari kesepakatan ini selama masa jabatan presiden pertamanya pada tahun 2018… (al-Arabiya, 29 Mei 2026).
- Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Trump tidak akan menyelesaikan kesepakatan dengan Teheran kecuali semua syarat terpenuhi. Situs Axios mengutip seorang pejabat pemerintahan AS bahwa pengumuman kesepakatan dengan Iran dapat memakan waktu beberapa hari atau lebih dari seminggu hingga Presiden Trump mendapatkan apa yang diinginkannya… Menurut web site tersebut… Keberatan Trump mencakup beberapa poin yang ia inginkan diubah dalam kesepakatan tersebut, seperti: pembukaan Selat Hormuz, perolehan AS atas uranium yang diperkaya, dan amandemen terhadap rancangan program nuklir Iran. Surat kabar The New York Times melaporkan bahwa amandemen baru Trump, dengan partisipasi mediator Pakistan, dikembalikan ke Teheran untuk diperhatikan oleh kepemimpinan Iran, yang menunjukkan penundaan lebih lanjut yang diharapkan untuk pengumuman resmi kesepakatan karena kesulitan komunikasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei… Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) terus memperketat blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran… (al-Jazeera, 31 Mei 2026).
- Sementara itu, ketika kesepakatan antara Trump dan Iran masih belum pasti, entitas Yahudi terus melanjutkan agresinya terhadap Lebanon selatan:
- Militer Israel mengatakan telah menguasai Kastil Beaufort setelah baku tembak yang didukung oleh tembakan gencar dari pasukan darat dan udara, bertepatan dengan eskalasi luas yang mencakup wilayah Nabatieh, Wadi as-Salouqi dan Wadi al-Hujair, sebagai bagian dari konfrontasi yang meletus dengan Hizbullah Lebanon dalam konteks perang Amerika-Israel-Iran pada akhir Februari 2026… (al-Jazeera, 6/1/2026).
- Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada penduduk pinggiran Beirut selatan beberapa jam setelah Perdana Menteri Netanyahu mengumumkan arahan untuk eskalasi secara militer. Militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan sore ini, Senin, bahwa jika Hizbullah terus menembakkan roket ke arah kota-kota Israel, kami akan membalas dengan menyerang target di pinggiran selatan Beirut… (al-Jazeera, 1/6/2026).
- Meskipun al-Arabiya Net menerbitkan pada 2 Juni 2026 bahwa Presiden AS Trump “mengindikasikan dalam panggilan telepon bahwa telah terjadi masalah kecil, tetapi ia menekankan bahwa ia telah mengatasinya dengan sangat cepat, menjelaskan bahwa itu terkait dengan ketidakpuasan Iran atas serangan Israel terhadap Lebanon. Ia menambahkan, “Saya berbicara dengan Hizbullah dan saya katakan “tidak boleh ada tembakan”, dan saya berbicara dengan Netanyahu dan saya “tidak boleh ada tembakan”, dan kedua pihak berhenti saling menembak… (al-Arabiya Net, 2 Juni 2026). Namun entitas Yahudi tidak mengambil hal ini untuk seluruh Lebanon, tetapi hanya untuk pinggiran selatan Beirut, dan melanjutkan agresinya terhadap lebanon selatan, dan tentu saja dengan lampu hijau dari Trump, sebab Netanyahu tidak dapat menyalahinya. Entitas Yahudi melanjutkan serangannya atas Lebanon selatan: “Di bawah judul “Sikap kami tidak akan berubah di Israel”, Netanyahu mengatakan bahwa ia telah memberi tahu Trump bahwa pasukannya akan menyerang Beirut jika Hizbullah tidak berhenti menyerang Israel. Ia menambahkan, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya, “Sikap kami dalam masalah ini tidak berubah, dan pada saat yang sama, tentara Israel akan terus beroperasi sesuai rencana di Lebanon selatan…” (The Independent berbahasa arab, 2 Juni 2026). “Bentrokan berlanjut semalaman antara “Israel” dan Hizbullah di Lebanon selatan, meskipun Trump mengumumkan bahwa kedua pihak telah menyetujui gencatan senjata sebelum putaran baru negosiasi antara Lebanon dan Israel yang diadakan hari ini di Washington…” (BBC, 6/2/2026).
- Dari rangkaian peristiwa dan konsekuensinya, menjadi jelas hal-hal berikut:
- Masih ada keterputusan antara Iran dan Amerika, dan saat ini tidak ada koordinasi di antara mereka untuk bekerja bersama di kawasan sebagai negara satelit seperti yang terjadi di masa lalu, terutama karena mereka yang mengendalikan pemerintahan di Iran saat ini adalah orang-orang dari Garda Revolusi, dan mereka mendorong ke arah independensi, yaitu tidak kembali ke orbit Amerika. Kemungkinan besar mereka akan terus mengendalikan pemerintahan. Hal itu karena mereka memimpin dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei… Dan dalam hal-hal penting pemerintahan, seperti perang dan penindasan pemberontakan internal, Pemimpin Tertinggi yang baru mengandalkan mereka dalam mempertahankan kekuasaannya… Meskipun (kelas politik) masih ada di Iran, seperti Presiden Republik, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Parlemen, dan orang-orang ini, paling jauh yang mereka usahakan adalah agar Iran kembali ke beredar di orbit Amerika, tetapi pengaruh riil mereka tidak dapat bertahan di depan Garda Revolusi.
- Sebaliknya, Amerika sejauh ini gagal membuat rezim di Iran tunduk menjadi pengikutnya, seperti rezim agen lainnya di negeri-negeri kaum Muslim. Meskipun demikian, Trump tetap bersikeras agar rezim di Iran tunduk menjadi pengikutnya, dan bukan beredar di orbitnya seperti dulu, terlepas dari kegagalannya dalam upaya ini. Dia menginginkan segalanya dari Iran. Artinya 100% dari tuntutannya, bukan 90% atau 95%, seperti yang dia katakan: “Saya tidak menginginkan 90%, saya tidak menginginkan 95%. Saya katakan kepada mereka bahwa saya menginginkan semuanya…” (TV Lebanon, 12 April 2026). Dan pada hari ini, Rabu, 3 Juni 2026, dia mengatakan: “Situasi mengenai Iran berkembang dengan cepat dan akan sangat baik”, menunjukkan bahwa Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir… (al-Arabiya, 3 Juni 2026). Meskipun pernyataan Trump tidak sepenuhnya akurat, namun ini adalah sikap yang dia nyatakan. Yakni bahwa Trump ingin Iran menjadi negara yang tunduk menjadi pengikutnya dan tidak menyalahinya, terlepas dari kegagalannya dalam mencapai hal itu! Untuk menutupi kegagalan ini, dia memanipulasi kata-kata, mengulang draf kesepakatan, lalu kembali dan menentangnya… dan begitu seterusnya!
- Adapun apa yang akan mematahkan punggung Trump dan kaum kafir penjajah lainnya seperti dia, semata karena mereka memikirkan agresi terhadap negeri kaum Muslim, dan akan mengembalikan setiap orang kafir ke rumahnya sendiri, jika dia masih memilikinya, yang akan merealisasi itu adalah kembalinya al-Khilafah ar-rasyidah. Dan itu akan kembali, dengan izin Allah, sebagai janji dari Allah SWT:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ﴾
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi “ (TQS an-Nur [24]: 55).
Dan sebagai kabar gembira dari Rasul-Nya saw setelah pemerintahan diktator yang sedang kita alami ini. Imam Ahmad telah mengeluarkan dari Hudzaifah, ia berkata… :
«… ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَت»..
“… kemudian akan ada kekuasaan diktator. Dan akan ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”. Kemudian beliau diam”..
Begitulah, ada seorang khalifah yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung padanya, sehingga Islam dan kaum Muslim akan mulia dan kekafiran serta orang-orang kafir akan hina dina.
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾
“Dan pada hari itu, orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (TQS ar-Rum [30]: 4-5).
17 Dzul Hijjah 1447 H
03 Juni 2026 M
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat