Menanggapi Yusril, Om Joy: Krisis Terbesar Kita adalah Krisis Peradaban

 Menanggapi Yusril, Om Joy: Krisis Terbesar Kita adalah Krisis Peradaban

MediaUmat – Pernyataan Menko Yusril mengenai rapuhnya pertahanan militer Indonesia menuai kritik karena dinilai bukan sekadar akibat minimnya alutsista, melainkan lantaran hilangnya arah dan visi peradaban yang mandiri dari para pemimpin negara.

“Masalah utama bangsa ini sebenarnya bukan sekadar kita kekurangan senjata atau teknologi militer. Masalah terbesar kita saat ini justru terletak pada kemiskinan visi peradaban,” ujar Jurnalis Joko Prasetyo, yang akrab disapa Om Joy, kepada media-umat.com, Jumat (29/5/2026).

Tanggapan tersebut mencuat sebagai respons atas pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, dalam sebuah seminar nasional di Universitas Negeri Surabaya pada Selasa (19/5/2026) lalu. Dalam forum itu, Yusril memperingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam membuat Indonesia rawan menjadi target ambisi geopolitik Amerika Serikat (AS).

Yusril juga menyoroti posisi pangkalan militer AS di Guam yang hanya berjarak enam jam dari Papua, seraya mengakui ketidaksiapan militer domestik jika konflik pecah. “Kita dalam kondisi tidak siap perang, hitung berapa kekuatan militer kita, kalau kita perang paling cuma bisa 4 hari,” kata Yusril saat itu.

Kritik Atas Cara Pandang Materialistis

Menurut Om Joy, pernyataan Menko Yusril memang potret riil dari ketimpangan militer global saat ini. Namun, ia menyayangkan cara pandang pemerintah yang dinilai terlalu lama dididik dalam ekosistem kapitalisme global sehingga terjebak menjadi bangsa konsumen dan kehilangan arah politik yang berdaulat.

Padahal, Indonesia memiliki modal material yang luar biasa besar, mulai dari cadangan nikel terbesar di dunia, emas, batu bara, jalur laut strategis, hingga bonus demografi dengan populasi Muslim terbesar.

“Kekayaan alam kita melimpah, tetapi kita miskin arah. Akibatnya, kekayaan materi itu tidak otomatis melahirkan kemandirian, karena teknologi strategis kita masih bergantung pada pihak asing,” jelas Om Joy.

Ia kemudian menyandarkan argumennya pada pendahuluan kitab Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam (Sistem Ekonomi Islam) karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1953). Dalam kitab tersebut dijelaskan, kebangkitan hakiki suatu umat bukan dibangun pertama-tama oleh kekayaan materi, melainkan oleh kekayaan pemikiran yang melahirkan arah hidup, sistem, dan peradaban.

“Oleh karena itu, negeri yang kaya sumber daya alam tetapi miskin pemikiran peradaban akan tetap mudah didominasi oleh kekuatan asing,” tegasnya.

Kekuatan Ruhiah dalam Pandangan Islam

Lebih lanjut, Om Joy memaparkan, kekuatan sebuah bangsa tidak melulu diukur dari kecanggihan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), drone, atau misil presisi semata. Merujuk pada pemikiran Islam, kekuatan material justru berada pada level paling rendah jika dibandingkan dengan kekuatan moral dan kekuatan ruhiah (ideologis).

“Islam sama sekali tidak menolak kekuatan materi. Kita justru diwajibkan oleh syariat untuk menguasai teknologi informasi, keamanan siber, hingga AI pertahanan guna menjaga keamanan negara dari musuh, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat al-Anfal ayat 60,” urainya.

Namun, ia menegaskan kembali, mesin dan teknologi hanyalah alat. Faktor penentu utama kekuatan yang sesungguhnya adalah kejelasan ideologi, persatuan politik umat, dan ikatan ruhiah kepada Allah SWT.

Ia mencontohkan bagaimana Negara Madinah pada masa Rasulullah SAW dan Khilafah Rasyidah dahulu berani menghadapi imperium besar seperti Romawi dan Persia meski kalah secara jumlah pasukan dan materi.

“Sejarah mencatat peradaban Islam pernah memimpin dunia berabad-abad karena disatukan oleh akidah, bukan oleh sekat nasionalisme sempit. Jika arah peradaban dan persatuan politik itu yang hilang, maka bangsa yang kaya sekadar menjadi objek perebutan pengaruh geopolitik dunia,” pungkas Om Joy.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *