HILMI: Kemandirian Teknologi Bukan Sekadar Isu Pembangunan Ekonomi
MediaUmat – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai, kemandirian teknologi bukan lagi sekadar isu pembangunan ekonomi tetapi telah menjadi pilar kedaulatan nasional.
“Diskusi tentang kemandirian teknologi bukan lagi sekadar isu pembangunan ekonomi. Ia telah menjadi pilar kedaulatan nasional,” ulasnya dalam Intellectual Opinion: Kemandirian Teknologi dan Masa Depan Kedaulatan Indonesia yang dirilis pada Senin (20/4/2026).
Sejarah, lanjut HILMI, menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak selalu melemahkan suatu negara. Dalam beberapa kasus, tekanan justru mempercepat pembangunan kapasitas domestik.
“Contoh yang sering dibahas adalah Iran, yang selama lebih dari empat dekade menghadapi sanksi internasional. Terlepas dari berbagai kontroversi politiknya, negara ini mampu mengembangkan sejumlah teknologi strategis secara mandiri, termasuk dalam bidang misil, drone, dan satelit,” bebernya.
Namun, lanjutnya, tekanan eksternal tak otomatis menghasilkan kemajuan teknologi. Banyak negara yang terkena sanksi justru mengalami stagnasi ekonomi.
“Ini menunjukkan bahwa tekanan geopolitik hanyalah katalis, bukan penyebab utama kemandirian,” cetusnya.
HILMI mengingatkan, kemajuan teknologi suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran riset. Yang lebih penting, ujarnya, adalah ekosistem ilmu pengetahuan yang menghubungkan berbagai aktor dalam proses inovasi.
“Aktornya adalah universitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan SDM, lembaga riset yang mengembangkan teknologi, industri yang mengubah inovasi menjadi produk, dan pemerintah yang menentukan arah strategis,” paparnya.
Di banyak negara berkembang, ungkapnya, ekosistem tersebut masih relatif terfragmentasi yang berakibat sistem pengetahuan nasional berada dalam posisi yang sering disebut sebagai semi-peripheral knowledge system: tidak sepenuhnya menjadi produsen teknologi, tetapi juga tidak sepenuhnya mandiri.
“Untuk memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan, beberapa langkah strategis diperlukan seperti: peningkatan investasi riset nasional, integrasi universitas dengan industri, pembangunan infrastruktur komputasi dan data, serta orientasi riset yang lebih mission-oriented,” sarannya.
HILMI mengingatkan, dalam geopolitik abad ke-21, teknologi telah menjadi instrumen utama kekuasaan global.
“Ini menjadikan negara yang menguasai teknologi strategis biasanya memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dalam sistem internasional dan kemampuan untuk membentuk aturan permainan global,” imbuhnya.
Potensi dan Tantangan Indonesia
Melihat potensi Indonesia, urainya, sering disebut sebagai negara dengan potensi yang sangat besar dari sisi populasi lebih dari 270 juta jiwa, sumber daya alam yang melimpah, dan posisi geografis strategis di perdagangan global.
“Namun potensi besar tidak otomatis menjadi kekuatan nyata. Dalam banyak kasus, negara dengan sumber daya alam melimpah justru mengalami apa yang disebut resource trap, yaitu ketergantungan pada ekspor bahan mentah,” tandasnya.
HILMI menyarankan, untuk keluar dari situasi ini, Indonesia perlu membangun strategi transformasi ekonomi yang jelas serta memiliki roadmap menuju kemandirian teknologi,” ujarnya.
“Roadmap menuju kemandirian teknologi untuk Indonesia dapat dibayangkan dalam tiga tahap besar yaitu tahap membangun fondasi (2025-2030), memperkuat kapasitas (2030-2040), dan konsolidasi kedaulatan (2040–2050),” bebernya.
HILMI menyimpulkan, jika seluruh diskusi ini dirangkum dalam satu kalimat, maka inti persoalannya adalah Pertarungan utama abad ke-21 tak lagi pertarungan wilayah, melainkan pertarungan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Negara yang mampu membangun ekosistem riset yang kuat, industri teknologi domestik, sumber daya manusia ilmiah, serta strategi nasional yang konsisten, akan memiliki kedaulatan geopolitik yang jauh lebih besar. Sebaliknya, negara yang gagal membangun fondasi teknologi akan tetap dalam posisi sebagai pasar dan pemasok bahan mentah dalam sistem global,” tukasnya.
HILMI melihat, Indonesia berada di persimpangan jalan antara dua kemungkinan tersebut. Dengan sumber daya alam yang besar, populasi yang besar, dan potensi ilmiah yang berkembang, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi salah satu kekuatan teknologi penting di dunia.
“Namun, peluang tersebut hanya dapat terwujud jika ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar ditempatkan sebagai strategi peradaban nasional, bukan sekadar aktivitas akademik atau proyek pembangunan jangka pendek,” tutupnya.[] Erlina
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat