Trump Tampilkan Kebrutalan AS yang Selama Ini Disamarkan

 Trump Tampilkan Kebrutalan AS yang Selama Ini Disamarkan

MediaUmat Pemerintahan Donald Trump tidak mengubah watak politik luar negeri Amerika Serikat (AS), melainkan hanya menampilkan kebrutalan yang selama ini disamarkan oleh presiden-presiden sebelumnya. Benang merah tersebut terungkap dalam penjelasan Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan dalam video Dunia di Bawah Kaki Trump, Senin (26/1/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Pertama, AS adalah negara ideologis sekuler kapitalisme demokrasi. Pemerintahan AS, jelasnya, ditegakkan atas paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Menurut Riyan, AS menegakkan demokrasi yang ilusif. Pemerintahan dikuasai segelintir oligarki bukan oleh rakyat, ekonomi yang kapitalistik, jahat, dan serakah.

“Cara atau metode untuk menyebarkan dan mempertahankan ideologi kapitalistik ini adalah dengan penjajahan, imperialisme, baik imperialisme lama ataupun imperialisme baru,” imbuhnya.

Kedua, Trump sebagai presiden dari Partai Republik pada 5 Desember 2025 mengumumkan ke publik tentang dokumen strategi keamanan nasional AS yang baru, terdiri dari 33 halaman.

“Apakah ada perbedaan antara dokumen ini dengan dokumen sebelumnya seperti strategi Presiden Joe Biden dan presiden sebelumnya yang lain? Faktanya, garis besar dalam politik Amerika tidak berbeda antara Partai Republik dan Partai Demokrat,” bebernya.

Yang berbeda, ucapnya, hanya teknis saja.

“Partai Republik tidak terlalu memedulikan tampil dengan pakaian demokrasi tetapi didominasi oleh perilaku koboi yang dipenuhi kesombongan. Mereka tidak peduli dengan pembunuhan orang-orang tak bersalah, karena kejahatan semacam itu merajalela di negara mereka.  Adapun orang-orang Partai Demokrat mereka didominasi oleh penipuan. Tampil dengan baju demokrasi yang palsu dan meniru cara Inggris, menawarkan racun yang disebut dengan gula,” urainya.

Ia mencontohkan, “Orang-orang Partai Demokrat melakukan pembunuhan dan dia tersenyum, sementara orang-orang Partai Republik menawarkan racun murni. Jadi dia membunuh Anda dengan menggertakkan gigi.”

Oleh karena itu, sambungnya, para presiden Partai Demokrat lebih mampu melakukan tipu daya dan meraih kecintaan orang-orang yang terperdaya.

“Sementara para presiden Partai Republik tidak menipu siapa pun, sebab permusuhan mereka terbuka dan terang-terangan. Bush [presiden AS dari Partai Republik) bicara tentang Perang Salib, sedangkan Obama [presiden AS dari Partai Demokrat] mengutip ayat Al-Qur’an di Kairo. Namun keduanya dengki melawan Islam,” jelasnya.

Thomas Nast

Ryan menjelaskan, kartunis Amerika keturunan Jerman Thomas Nast pada 1860 dan 1874 menerbitkan karikatur di Harvard Magazine.

“Ia menunjukkan gambar seekor keledai yang berpakaian seperti singa untuk menakut-nakuti sekelompok hewan, termasuk seekor gajah besar yang mengamuk dan menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Kemudian keledai menjadi simbol Partai Demokrat dan gajah menjadi simbol Partai Republik. Kedua simbol ini mencerminkan citra kedua partai tersebut,” terangnya.

Dengan karakter dua partai tersebut, Ryan menyimpulkan, esensi dari dokumen strategi keamanan nasional yang diumumkan oleh presiden-presiden Amerika sejak Perang Dunia II  sampai masa Trump tetap konstan, tidak berubah, yang berubah adalah cara implementasinya.

“Kebencian dan tirani personal dalam memaksakan, melindungi, dan melanggengkan hegemoni AS, memerangi Islam dan umat Islam, serta mengerahkan upaya untuk mencegah berdirinya Daulah Islam Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian,” ucap Ryan menjelaskan esensi dokumen itu.

Ia menambahkan, Direktur Intelegensi Nasional (DNI) AS Tulsi Gabbard beberapa hari lalu menyebutkan, ideologi Islam menjadi ancaman langsung untuk kebebasan AS, karena esensinya merupakan ideologi politik yang berusaha menegakkan Khilafah global.

“Matilah kamu karena kemarahanmu itu!” geram Ryan mengomentari Tulsi dengan mengutip Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 119.

Terakhir ia menegaskan, “Sungguh umat Islam akan bangkit dan menegakkan negara Daulah Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian dengan izin Allah, setelah kekuasaan diktator (mulkan jabriyan) yang sedang kita alami.” [] Irianti Aminatun

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *