105 Tahun Tanpa Khilafah, Abnormalnya Kehidupan Umat Islam

 105 Tahun Tanpa Khilafah, Abnormalnya Kehidupan Umat Islam

MediaUmat Cendekiawan Muslim Dr. Hakim Abdurrahman menegaskan, kehidupan umat Islam berada dalam kondisi abnormal selama 105 tahun terakhir sejak runtuhnya Khilafah pada 27 Rajab 1342 Hijriah atau bertepatan dengan 3 Maret 1924.

“Kehidupan umat Islam berada dalam kondisi abnormal selama 105 tahun terakhir sejak runtuhnya Khilafah,” tegasnya dalam acara Special Interview: 105 Tahun Tanpa Khilafah yang ditayangkan kanal YouTube Rayah TV, Selasa (28/1/2026).

Pasalnya, sebut Hakim, sejak saat itu, kaum Muslim hidup tanpa kepemimpinan umum yang menyatukan, melindungi, dan menerapkan Islam secara kaffah sebagai sistem kehidupan.

Dalam rentang panjang sejarah Islam, jelas Hakim, ketiadaan Khilafah hampir selalu dipandang sebagai keadaan darurat yang harus segera diakhiri. Absennya kepemimpinan Islam tidak pernah dianggap sebagai kondisi normal bagi umat. Bahkan ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, umat Islam tidak berlama-lama hidup tanpa Khilafah.

“Dulu kita pernah tanpa Khilafah, tapi hanya hitungan hari dan hitungan tahun. Para ulama saat itu sadar betul bahwa Khilafah adalah pelindung umat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia yang bertugas menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke penjuru alam. Karena itu, ketiadaannya berarti hilangnya kesatuan politik umat serta terputusnya penerapan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.

“Khilafah itu adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia dalam rangka menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke penjuru alam,” katanya.

Tanpa Khilafah, tegas Hakim, umat Islam hidup tercerai-berai dalam batas-batas negara nasional yang memecah kekuatan mereka. Sekat-sekat politik tersebut menjadikan umat lemah dan mudah didominasi. Islam pun direduksi menjadi ajaran ritual semata dan kehilangan fungsinya sebagai sistem kehidupan.

“Tanpa Khilafah, kita hidup tercerai-berai dan tidak bisa berislam secara kaffah,” tandasnya.

Dalam pandangannya, ketercerai-beraian umat ini tidak bisa dilepaskan dari konfigurasi politik global saat ini.

Ia menambahkan, dampak ketiadaan Khilafah tidak hanya dirasakan umat Islam, tetapi juga memengaruhi tatanan global. Dunia internasional, kini berada di bawah hegemoni negara-negara kapitalis yang bertindak sebagai pengatur dan polisi dunia.

“Ketidakadaan Khilafah ini bukan hanya berdampak kepada kaum Muslim, tetapi juga kepada dunia internasional global. Negara-negara kapitalis semakin merasa menjadi polisi dunia,” ujarnya.

Hakim menilai, berbagai kezaliman global—mulai dari penjajahan, eksploitasi sumber daya, hingga kesenjangan ekstrem antara kaya dan miskin—merupakan konsekuensi langsung dari ketiadaan kepemimpinan Islam yang adil, yang seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

“Segala bentuk penderitaan dan ketidaknyamanan yang terjadi saat ini pangkalnya adalah kita tidak hidup dalam naungan Khilafah,” katanya.

Ia menegaskan, Khilafah bukan konsep asing bagi bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya, Nusantara memiliki hubungan erat dengan Khilafah, baik pada masa Abbasiyah maupun Utsmaniyah, bahkan sebelum konsep negara-bangsa diperkenalkan oleh kolonialisme Barat.

“Sejarah negeri kita ini sebenarnya sejarah Khilafah. Nusantara berkiblat kepada para khalifah, bahkan Utsmaniyah mengirim pasukan terbaiknya untuk membantu kaum Muslim di wilayah ini,” ungkapnya.

Karena itu, Hakim menilai tudingan bahwa Khilafah adalah ancaman bagi persatuan atau kecintaan terhadap tanah air sebagai narasi keliru yang lahir dari cara pandang sekuler dan kolonial yang secara sistematis menjauhkan umat dari identitas politik Islamnya.

“Kaum Muslim itu tidak boleh hidup tanpa khalifah. Ini adalah perkara agama yang dipahami para ulama sebagaimana kewajiban shalat,” tegasnya.[] Zainard

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *