MSPI: Penggelandangan Maduro Ada Indikasi Pengkhianatan Orang Dalam
MediaUmat – Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan menilai dalam penggelandangan Maduro ada indikasi pengkhianatan orang dalam.
“Penggelandangan Maduro awal Januari 2026 menunjukkan bahwa adanya indikasi pengkhianatan orang dalam,” tuturnya dalam video Tatanan Dunia Runtuh! Ambisi Trump Ambil Alih Venezuela Mulai Picu Ketegangan Global, Senin (19/1/2026) di kanal YouTube Khilafah News.
Mata publik tidak perlu mencari lebih jauh, kata Riyan, selain pria yang berbagi masa kecilnya, dan lingkaran terdekatnya yaitu Jenderal Javier Tabata atau Marcano Tabata.
“Dia sudah diberhentikan dan menghadapi tuduhan tidak kurang dari sebuah pengkhianatan,” ujarnya.
Karena, jelas Riyan, menerima suap CIA, menukar kedaulatan nasional dengan mata uang asing dan memberikan koordinat Presiden Maduro kepada pasukan khusus Amerika Serikat.
“Mengubah pelindung menjadi arsitek target secara sistematis, menotaktifkan protokol pertahanan antipesawat yang membiarkan langit negara rentan secara sengaja,” terangnya.
Selanjutnya, kata Riyan, tanggung jawab langsung atas kematian tiga puluh dua personel keamanan yang ditugaskan untuk mengawal presiden, darah mereka ada di tangan mantan komandan mereka.
Di sisi lain, imbuhnya, penggelandangan Maduro oleh Trump tetap membuat rakyat Venezuela hidup dalam ketakutan.
“Warga enggan merayakan pergantian kekuasaan secara terbuka. Karena mesin penindas yang dibangun rezim lama dinilai masih beroperasi penuh di bawah pemerintahan yang baru,” bebernya.
Delcy Rodriguez, sebagai presiden sementara, jelas Riyan, memiliki rekam jejak yang membuat warga waspada.
“Ia pernah memegang kendali atas badan intelijen nasional,” ungkapnya.
Menurut Riyan, kecemasan publik juga semakin memuncak setelah Rodriguez menunjuk Gustavo Gonzalezlopez, mantan Direktur Sebin yang dituduh melakukan penyiksaan oleh PBB sebagai kepala baru Direktorat Jenderal Kontra Intelejen Militer.
“Inilah kebobrokan kedua belah pihak, baik Amerika Serikat dan Venezuela khususnya di bawah rezim Maduro. Rakyat tetap jadi objek penindasan,” kritiknya.
Terakhir, ia menekankan urgensi keberadaan kekuatan negara adidaya baru, yang mumpuni dari segi kekuatan ideologis, kekuatan politik, ekonomi dan militer, yang akan menghentikan kepongahan, kebiadaban dan kejahatan Amerika Serikat serta antek-anteknya.
“Jawaban itu sesungguhnya ada dalam khilafah Islam dan kebangkitan kaum Muslimin.” tandasnya.[] Nur Salamah
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat