Ma’al Hadīts Al-Syarīf: Siapakah Ummatan Wasatha itu?

 Ma’al Hadīts Al-Syarīf: Siapakah Ummatan Wasatha itu?

Disebutkan dalam “Tuhfah al-Ahwadzī Syarh Jāmi’ al-Tirmidzi”, dengan beberapa modifikasi, pada bab “Dari Surah al-Baqarah”.

Ahmad bin Mani’ meriwayatkan kepada kami, Abu Mu’awiyah meriwayatkan kepada kami, Al-A’masy meriwayatkan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id, dari Nabi saw, mengenai firman-Nya:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا﴾

Dan seperti itulah Kami jadikan kalian ummat[an] wasthā.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 143).

Beliau saw berkata:

«عَدْلاً»

Adil (umat yang adil).” Abu ‘Isa berkata: Ini adalah Hadīts Hasan Shahīh.

Firman-Nya: “Dan seperti itulah Kami jadikan kalian ummat[an] wasthā.” “Kāf” dalam firman-Nya “wa Kadzalika” adalah “kāf” untuk penyerupaan (al-tasybīh), yang kemudian (umat Islam) diserupakan dengannya. “Dan seperti itulah Kami jadikan kalian ummat[an] wasthā,” artinya umat yang adil dan pilihan. Ketika beliau bersabda: ‘adl[an] (adil), yakni bahwa Nabi Muhammad saw bersabda dalam menjelaskan firman Allah: wasathā adalah ‘adl[an]. Jadi, ummat[an] wasthā itu artinya adalah umat yang adil dan terbaik (pilihan).

Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini secara panjang lebar dalam kitab Shahīh-nya, dan Imam Tirmidzi juga melakukan hal yang sama setelahnya, dimana di bagian akhir hadits mereka berkata bahwa kata wasthā sama dengan ‘adl[an], adil dan terbaik (pilihan).

Imam Ath-Thabari berkata: Dalam bahasa Arab, “al-wasath” adalah “al-khiyār”, yang terbaik atau pilihan. Mereka mengatakan, “Fulān wasth[un] fī qaumihi wa wāsith, si fulan menjadi yang terbaik (pilihan) di tengah-tengah kaumnya, dan ia orang yang terbaik (pilihan)”, ketika mereka ingin meninggikan garis keturunannya. Dia berkata:  Ada orang yang berpendapat bahwa makna “al-wasath” dalam ayat tersebut adalah bagian yang berada di antara dua kutub ekstrem dalam beragama, yaitu antara sikap berlebihan (ghuluw) orang Kristen dan kelalaian (taqshīr) orang Yahudi. Jadi, “al-wasath” dalam ayat tersebut bukan moderasi, yakni bukan sikap, pandangan, atau perilaku yang memilih jalan tengah antara Islam dan kekafiran, atau antara kebenaran dan kebatilan.

Inilah penjelasan (penafsiran) kata “wasthā” yang disebutkan dalam Ayat Suci Al-Qur’an. Jika seseorang datang dan menafsirkan kata ini dengan cara yang tidak sesuai dengan Islam dan bertentangan dengan penafsiran Rasulullah kita yang mulia saw, namun disesuaikan dengan kenyataan buruk yang dialami umat ini, maka ini adalah kekeliruan dan kesalahan besar dalam penafsiran. Hal ini karena Islam tidak menerima pemisahan dan pembelahan (jalan tengah); tidak ada jalan tengah antara satu hukum Islam dengan hukum Islam lainnya. Lalu bagaimana mungkin ada jalan tengah (moderasi) antara Islam dan kekafiran? Islam tidak dapat mentolerir sedikit pun kekafiran. Jadi, pilihannya beriman yang murni, tanpa kekafiran di dalamnya, atau tidak beriman sama sekali. Sekali lagi, tidak ada jalan tengah antara kita dan kekafiran, demikian pula tidak ada jalan tengah antara kaum Muslim dan Amerika serta Eropa yang telah menenggelamkan kaum Muslim dalam penghinaan, pembunuhan, dan penindasan selama bertahun-tahun.

Kepada mereka yang menganjurkan gagasan asing ini, kepada para pendukung program-program moderasi ini, kami katakan: Cukup sudah kezaliman yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri dan umat kalian. Umat ini sekarang sudah lebih sadar dan terlalu besar untuk ditipu. Umat ini tidak membutuhkan moderasi atau demokrasi kalian. Untuk itu, maka kalian harus segera menyadari dan memperbaiki diri, serta merangkul umat kalian, sebelum terlambat, atau umat ini–insya Allah– akan segera melabrak kalian dan meminta pertanggungjawaban kalian atas apa yang telah kalian abaikan terkait hak-hak umat. []

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 20/1/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *