Bukan Sekadar Minyak, Intervensi AS di Venezuela adalah Nafsu Hegemoni
MediaUmat – Intervensi Amerika Serikat (AS) di Venezuela dinilai Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D. tidak hanya berfokus pada kekayaan minyak, tetapi juga merupakan ambisi geopolitik untuk mengamankan wilayah yang dianggap sebagai ‘halaman belakang’ atau zona pengaruh utamanya di Amerika Latin.
“(Intervensi ini) bukan hanya bicara mengenai minyak, tapi juga bicara mengenai Amerika ingin mengamankan wilayahnyalah, wilayah sekitarnya khususnya di wilayah Amerika Latin,” ujarnya dalam Special Interview: Amerika Tangkap Presiden Venezuela, Siapa Berikutnya? di kanal YouTube Rayah TV, Kamis (22/1/2026).
Sebab, menurut Hasbi, kehadiran pemerintahan yang anti-AS dalam hal ini Venezuela di bawah rezim Maduro, dianggap ancaman langsung terhadap dominasi keamanan dan politik AS di belahan bumi barat.
“Jelas sekali bahwa Amerika itu pengin Western Hemisphere (Belahan Bumi Barat). Jadi, Western Hemisphere itu adalah wilayah bagian barat bumi, Amerika Latin atau benua Amerika, Amerika Utara, Amerika Selatan,” sambungnya, didasarkan pada Strategi Keamanan Nasional AS (rilis awal Desember 2025) yang sering disebut sebagai Tambahan Trump terhadap Doktrin Monroe.
Ringkasnya, AS berupaya membendung rival geopolitiknya dengan salah satu alasan utama intervensi adalah ketakutan negara adidaya tersebut terhadap semakin dekatnya hubungan Venezuela dengan negara-negara asing semisal Rusia dan Cina, baik secara politik atau melalui penguasaan aset-aset strategis secara ekonomi.
Selain itu, kata Hasbi menambahkan, langkah-langkah AS termasuk sanksi ekonomi dan operasi militer (seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal 2026), bertujuan untuk memaksa perubahan kepemimpinan dan menempatkan pemerintahan yang lebih patuh kepada Washington.
Maka tak heran pasca penangkapan Maduro, yang berhaluan kiri sosialis (Chavismo), AS kemudian menekan pemerintahan baru untuk melepaskan oposisi yang pro-Liberal dan pro-Demokrasi.
“Pas Maduro itu ditangkap kemudian wakilnya jadi presiden, Amerika menekan pemerintahan baru untuk melepaskan oposisi yang pro-Liberal dan pro-Amerika. Walaupun dalam bahasa mereka, pro-Demokrasi,” ulasnya.
Demikian, serangan sepihak AS ke Venezuela bisa disebut perpaduan antara motivasi ekonomi (minyak) dan kepentingan geopolitik kuat untuk memastikan kawasan Amerika Selatan tetap berada di bawah pengaruhnya, sekaligus membatasi gerak rival globalnya di wilayah tersebut.
Islam vs Kapitalisme
“Kalau dalam konsep Islam, dalam konsep Khilafah Islam tidak seperti itu,” sebut Hasbi, berkenaan konsep Khilafah yang memiliki paradigma berbeda dengan sistem kapitalisme, terutama dalam konteks hubungan luar negeri dan tujuannya.
Artinya, walaupun Islam menyebar secara geografis dan ideologis, pada faktanya umat tak bakal menemukan adanya penjajahan maupun intervensi ala Amerika di sana.
“Kita tidak melihat ada penjajahan di sana, tidak ada eksploitasi antar-ras, tidak ada genosida seperti yang terjadi saat sekarang. Yang ada adalah pemerataan kesejahteraan, keadilan, dan toleransi,” jelas Hasbi.
Sebab, sambungnya, Khilafah memiliki fokus utama hubungan internasional berupa menyebarkan Islam ke seluruh dunia agar rahmat Islam dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia, bukan terbatas pada Muslim saja.
“Itulah yang dicita-citakan oleh Nabi SAW, Khulafaur Rasyidin, para khalifah setelahnya. Dan akhirnya di bawah Kekhilafahan Islam, dunia Arab, Afrika, Eropa itu menjadi pusat peradaban dunia waktu itu” kata Hasbi, sedikit mengungkap sejarah kejayaan Islam.
Sementara kapitalisme, jelas Hasbi, umumnya didorong oleh kepentingan ekonomi, seperti perluasan pasar, eksploitasi sumber daya, dan keuntungan material (profit), semata untuk kejayaan Amerika Serikat sendiri.
“Yang ada adalah setelah negara dikuasai, dieksploitasi, kemudian akhirnya jadi, hanya untuk kekayaan Amerika Serikat,” singgungnya.
Karena itu, ia pun berharap, di masa depan AS serta negara-negara pragmatis-sekuler lainnya seperti Cina dan Rusia, bisa runtuh. Dan di saat yang sama menyaksikan kebangkitan kembali kekuatan Islam global.
“Ketika itu terjadi, maka cahaya Islam akan menyebar kembali seperti di masa-masa yang lalu,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat