Pada Peringatan ke-105 Keruntuhan Khilafah: Tekad yang Diperbarui dan Harapan yang Kian Menguat
Surat Kabar Al-Rayah – Edisi 582 – 14/01/2026
Oleh: Insinyur Salah Eddine Adada*
Siapa pun yang mencermati perkembangan global, termasuk yang berkaitan dengan negeri-negeri kaum Muslim, akan melihat bahwa dunia sedang menyaksikan transformasi besar yang menyingkap perubahan-perubahan yang pasti akan datang. Keadaan stagnasi, atau hampir stagnan, tidak lagi ada. Sebaliknya, dunia nyaris mendidih oleh berbagai perkembangan ini, terutama yang berkaitan dengan umat Islam dan konflik antara mereka dengan kolonialisme.
Kampanye Barat dan kaum kafir terhadap Islam dan kaum Muslim, yang semakin menguat dan menampakkan wajahnya yang paling buruk dalam perang di Jalur Gaza—setelah kaum penjajah menampakkan taringnya dan bersatu melawan umat—justru dihadapi oleh umat Islam dengan keteguhan dan perlawanan yang semakin meningkat, hingga membingungkan mereka dan hampir menghancurkan mimpi-mimpi mereka.
Patut dicatat bahwa Amerika Serikat tidak lagi berpikir seperti dahulu, setelah pemerintahan barunya menyadari sia-sianya bertindak sebagai polisi atau pemimpin dunia. Amerika mulai memikirkan kepentingannya dari sudut pandang seorang “orang kuat” yang ingin meraih sebanyak mungkin keuntungan, sembari menarik diri ke dalam negeri di bawah slogan “America First” dan “Make America Great Again”. Bahkan, mantan Presiden AS Joe Biden pada 15 Desember 2025 menyerukan agar Amerika Serikat tetap memainkan peran kepemimpinannya di panggung internasional, seraya memperingatkan dampak dari kemunduran peran tersebut, dan mempertanyakan siapa yang akan mengisi kekosongan jika Washington menarik diri dari kepemimpinan global, dengan mengatakan, “Jika kita tidak memimpin dunia, siapa yang akan memimpin dunia?”
Perasaan takut dan ngeri terhadap kebangkitan Islam yang akan datang kini mendominasi para pemimpin pemerintahan baru Amerika. Perasaan ini dapat kita tangkap dari pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancaranya dengan Sean Hannity di Fox News pada 2 Desember 2025. Ia mengatakan bahwa “semua gerakan Islam radikal di dunia mengidentifikasi Barat secara umum, namun khususnya Amerika Serikat, sebagai kejahatan terbesar di muka bumi.” Ia juga menyatakan bahwa anggapan seolah-olah Islam radikal akan merasa puas hanya dengan menguasai satu provinsi di Irak atau Suriah “tidak terbukti dalam sejarah.” Ia menegaskan, “Islam radikal telah menunjukkan bahwa keinginan mereka bukan sekadar menduduki satu bagian dunia dan puas dengan kekhalifahan kecil mereka.” Menurutnya, “mereka ingin terus meluas. Sifatnya revolusioner. Ia berupaya memperluas dan menguasai wilayah serta manusia yang lebih banyak.”
Inilah obsesi atau mimpi buruk yang sama yang menghantui Perdana Menteri entitas Yahudi, Netanyahu. Pada 21 April 2025, ia menyatakan, “Saya telah berulang kali mengatakan bahwa kami akan mengubah wajah Timur Tengah, dan inilah yang benar-benar kami lakukan sekarang. Berkat keberanian para pejuang kami dan keputusan yang tegas serta matang dari pemerintah di bawah kepemimpinan saya, kami telah mematahkan poros kejahatan—kami mematahkannya di Gaza, kami mematahkannya di Lebanon, kami mematahkannya di Suriah, dan kami mematahkannya di tempat-tempat lain. Kami melihat binatang-binatang buas ini, dan kami tidak akan menerima klaim ini di sini, di pesisir Mediterania. Hanya beberapa kilometer dari sini, kami tidak akan menerima khilafah ini—tidak di sini dan tidak pula di Lebanon. Kami bekerja untuk memastikan kelangsungan ‘Israel’.”
Entitas Yahudi telah melancarkan perang brutalnya di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama lebih dari dua tahun, dengan dukungan seluruh negara kolonialis dan kafir. Kejahatannya juga meluas ke Yaman, Suriah, Lebanon, Irak, dan Iran. Mereka membanggakan superioritas udara mereka di seluruh kawasan, serta kepemilikan pesawat dan sistem pertahanan tercanggih. Demikian pula Presiden AS Trump membanggakan pesawat siluman dan pembom raksasa. Para penguasa dan pemimpin negara-negara Eropa pun tidak ragu sedikit pun untuk memerangi kaum Muslim dan memasok entitas Yahudi dengan segala sarana penindasan dan kejahatan. Rusia dan Cina juga telah menumpahkan darah kaum Muslim di Asia Tengah, Krimea, dan Turkistan Timur. Namun, di balik seluruh penindasan, kejahatan, dan kesombongan itu, mereka semua justru diliputi ketakutan terhadap raksasa Islam, yang mereka lihat akan bangkit kembali secara tak terelakkan.
Inilah sebabnya mereka berlomba melawan waktu di tempat-tempat seperti Suriah, misalnya, bekerja sama dengan pemerintahan Suriah yang baru, untuk mencegah kebangkitannya, setelah umat Islam menjadi seperti kawah mendidih yang hampir meluap.
Dengan demikian, kegelapan pekat yang menyelimuti negeri-negeri kaum Muslim sesungguhnya menyembunyikan harapan besar dan pertolongan yang sudah dekat, agar firman Allah (swt) terwujud:
﴿قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلّٰهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Musa berkata kepada kaumnya, ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah; Dia mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’”
(QS. Al-A‘raf: 128)
Meskipun kaum Muslim saat ini masih belum memiliki Khilafah yang mempersatukan mereka dan menghimpun kekuatan mereka yang tercerai-berai, serta seorang Imam yang membimbing mereka, berjuang bersama mereka, dan mengasihi mereka, komitmen mereka terhadap kehidupan dan keteguhan mereka dalam berpegang pada Islam tetap kokoh.
Hal ini telah disaksikan oleh Barat dan kekuatan kolonialis, karena berbagai ujian dan cobaan justru semakin memurnikan kaum Muslim. Pukulan-pukulan yang tidak membinasakan mereka justru menambah kekuatan dan ketahanan mereka, sebagaimana firman Allah (swt):
﴿وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ﴾
“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (melalui cobaan) dan membinasakan orang-orang kafir.”
(QS. Ali ‘Imran: 141)
Peringatan ke-105 runtuhnya Khilafah tahun ini berlalu di tengah kita menyaksikan tekad baru yang menguat dalam tubuh umat Islam, dan di kalangan mereka yang menyerukan kembalinya kehidupan Islam. Tekad ini disertai dengan harapan yang semakin mendalam dan membesar, di tengah runtuhnya rezim-rezim, jatuhnya mereka dari pandangan rakyat dan massa, serta mundurnya Barat yang kini sibuk dengan urusan internalnya dan konflik dengan negara-negara Timur.
Kita semua yakin bahwa pertolongan Allah itu dekat dan pasti akan datang dengan izin-Nya. Allah (swt) berfirman:
﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللّٰهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيبٌ﴾
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 214)
*Direktur Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir