Hizbut Tahrir Australia Nilai Usulan Pelarangan Sarat Kebohongan dan Islamofobia
MediaUmat – Hizbut Tahrir Australia menilai rencana pemerintah Australia untuk melarang organisasi tersebut didasarkan pada kebohongan, disinformasi, serta narasi rasis dan Islamofobik yang telah lama dilekatkan pada komunitas Muslim.
Melalui pernyataan resminya, Hizbut Tahrir Australia menyebut bahwa pemerintah sengaja memelintir posisi dan pandangan mereka demi membenarkan langkah pelarangan. Menurut mereka, narasi tersebut mengandalkan prasangka lama terhadap Muslim agar klaim pemerintah tidak diuji secara kritis oleh publik.
“Hizbut Tahrir adalah bagian dari komunitas Muslim. Namun melalui lensa Islamofobia, kami selalu diposisikan hanya dalam dua cara: dianggap berbahaya sehingga harus dinetralisir, atau dianggap tidak cerdas sehingga harus dikendalikan,” ujar perwakilan Kantor Media Hizbut Tahrir Australia dalam siaran persnya.
Hizbut Tahrir Australia juga mengkritik cara pemerintah menggambarkan Muslim sebagai kelompok yang tidak mampu memiliki pandangan politik yang rasional. Mereka menilai narasi tersebut mencerminkan rasisme yang mengakar.
“Muslim digambarkan tidak membentuk opini, melainkan ‘diradikalisasi’. Ketika Muslim menyampaikan pandangan, itu disebut sebagai ujaran kebencian. Bahkan membaca berita pun kami dianggap berbahaya,” tegasnya.
Dalam pernyataan tersebut, Hizbut Tahrir Australia menegaskan sikap mereka yang menentang genosida di Gaza sebagai sikap moral dan politik yang berprinsip. Mereka menyebut bahwa penentangan terhadap pendudukan dan kekerasan terhadap warga sipil merupakan sikap yang konsisten dengan nilai kemanusiaan universal.
“Bagi kami, pendudukan akan selalu salah. Genosida akan selalu salah. Menghancurkan rumah di atas kepala penghuninya, membom rumah sakit, sekolah, dan pusat distribusi makanan, serta kekerasan terhadap para tahanan—semuanya selalu salah,” kata mereka.
Hizbut Tahrir Australia menuding pemerintah memilih melakukan kampanye disinformasi alih-alih menanggapi kritik substantif yang disampaikan komunitas Muslim. Mereka juga menolak keras tuduhan bahwa Hizb ut Tahrir terkait dengan kekerasan atau ekstremisme.
“Menyejajarkan Hizbut Tahrir dengan neo-Nazi adalah perbandingan yang tidak masuk akal. Tuduhan bahwa kami terlibat atau berada di balik kekerasan di sebuah sinagoga di Caulfield juga sama sekali tidak berdasar,” ujar perwakilan tersebut.
Menurut Hizbut Tahrir Australia, ketika tuduhan kekerasan tidak dapat dibuktikan, pemerintah lalu mencoba mengaitkan mereka secara tidak langsung dengan kekerasan, termasuk dengan melabeli mereka antisemit.
“Mereka berupaya menghubungkan kami dengan kekerasan dengan cara apa pun, meskipun tanpa bukti. Ini mencerminkan merosotnya kualitas wacana publik yang kini dianggap wajar oleh pemerintah,” lanjutnya.
Hizbut Tahrir Australia memperingatkan bahwa rencana pemerintah untuk membuat undang-undang khusus guna melarang pernyataan mereka merupakan ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat.
“Apa yang kami sampaikan selama ini selalu berada dalam koridor hukum. Namun kini, karena ada pihak yang tidak menyukai pandangan kami, pemerintah ingin mengubah pidato politik yang sah menjadi ‘ujaran kebencian’,” tegas mereka.
Di akhir pernyataannya, Hizbut Tahrir Australia menilai langkah tersebut berbahaya bukan hanya bagi Muslim, tetapi bagi seluruh masyarakat.
“Ini seharusnya mengkhawatirkan semua orang. Hari ini yang dibungkam adalah Muslim, besok bisa siapa saja,” pungkas pernyataan Kantor Media Hizbut Tahrir Australia.[]AF
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat