Rezim Suriah Umumkan Pengkhianatannya dengan Membentuk Sel Gabungan Bersama Entitas Yahudi
Perundingan antara rezim Suriah dan entitas Yahudi, yang diadakan di bawah naungan Amerika Serikat, berakhir pada 6 Januari 2026 di ibu kota Prancis, Paris. Sebuah pernyataan bersama dikeluarkan yang mengumumkan: “Pembentukan mekanisme integrasi gabungan sebagai sel penghubung untuk koordinasi segera dan berkelanjutan dalam hal berbagi intelijen, serta de-eskalasi militer. Mekanisme gabungan ini juga mencakup keterlibatan diplomatik dan perdagangan di bawah pengawasan Amerika Serikat” (Anadolu Agency, 7/1/2026).
Rezim Suriah diwakili oleh Menteri Luar Negeri As’ad al-Syaibani, didampingi oleh kepala Direktorat Intelijen Umum, Hussein Salamah. Dengan demikian, rezim Suriah baru, yang dipimpin oleh Ahmad al-Syara’ al-Julani, menegaskan pengkhianatannya terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, mengikuti contoh penguasa Muslim lainnya di kawasan tersebut. Pengkhianatan ini merupakan langkah menuju normalisasi dengan entitas ilegal Yahudi sang perampas kekuasaan. Sementara entitas ilegal Yahudi diwakili oleh duta besarnya di Paris dan seorang penasihat perdana menterinya. Negosiasi diawasi oleh utusan Amerika, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump.
Saat berada di Paris, Al-Syaibani bertemu dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrault, yang mengumumkan bahwa “Prancis menyambut baik keputusan Suriah untuk bergabung dengan koalisi internasional” yang dipimpin oleh Amerika Serikat, di mana Prancis adalah anggotanya. Misi koalisi tersebut adalah untuk memerangi putra-putra kaum Muslim yang menolak kehadiran kolonial Barat, baik Amerika maupun Eropa, dengan dalih memerangi organisasi ekstremis. Sebab menurut pandangan mereka, setiap Muslim yang menginginkan pemerintahan Islam dan persatuan umat Islam, serta yang menolak pengaruh, budaya, peradaban Barat, dan instrumennya—entitas ilegal Yahudi—dianggap sebagai ekstremis.
Di sisi lain, Perdana Menteri entitas Yahudi Netanyahu menegaskan bahwa demi kepentingan entitasnya perlu untuk membangun perbatasan yang aman dan stabil dengan Suriah, juga untuk menjamin perlindungan bagi kaum Druze di Suriah. Untuk itu, entitas Yahudi berupaya mengkonsolidasikan dominasinya atas Suriah selatan, mengingat kelambatan tindakan para penguasa Suriah yang baru, berusaha untuk membangun “Israel Raya”, serta berupaya untuk memperkuat pendudukan Palestina dan menghilangkan keberadaan Muslim di sana dengan menggusur sebagian besar penduduknya dan merebut tanah serta harta benda mereka (hizb-ut-tahrir.info, 7/1/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat