Konsumsi Algoritmik Tak Selektif, Ancam Nilai dan Spiritualitas
MediaUmat – Bukan hanya tantangan kognitif dan psikologis, Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menilai, dimensi spiritual dan nilai generasi muda Muslim juga turut terancam oleh konsumsi algoritmik yang tidak selektif.
“Bagi generasi muda Muslim, selain tantangan kognitif dan psikologis, ada dimensi spiritual dan nilai yang turut terancam oleh konsumsi algoritmik yang tidak selektif,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa (30/12/2025).
Dalam Islam, jelasnya, pembentukan karakter tidak bisa dilepaskan dari proses fikr (berpikir), tadabbur (merenung), dan tazkiyah (pemurnian jiwa). Ketiga aspek tersebut merupakan pilar penting agar seorang Muslim memiliki orientasi hidup yang jelas dan kokoh.
“Islam menekankan pentingnya fikr, tadabbur, dan tazkiyah sebagai bagian dari pembentukan karakter dan arah hidup yang teguh,” jelasnya.
Islam juga, jelasnya, mendorong umatnya untuk melakukan refleksi mendalam, merenungi ciptaan Allah, serta menuntut ilmu secara serius dan berkesinambungan. Namun, arus konten cepat dan dangkal membuat banyak generasi muda kehilangan ruang untuk proses perenungan tersebut.
“Ketergantungan yang berlebihan pada konten digital yang dangkal dan algoritma yang memperkuat kebiasaan konsumtif justru berlawanan dengan prinsip Islam yang mengutamakan refleksi, meditasi atas ciptaan Allah, serta pencarian ilmu yang dalam,” paparnya.
Menurutnya, tanpa upaya sadar untuk mengembalikan tradisi berpikir, merenung, dan penyucian jiwa, generasi muda berisiko tumbuh dalam kondisi tercerabut dari nilai, mudah terombang-ambing oleh tren, dan kehilangan tujuan hidup yang seharusnya berorientasi pada ridha Allah.
Ia menambahkan bahwa pendidikan yang berkelanjutan melalui keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas Muslim menjadi benteng utama dalam menghadapi derasnya arus informasi digital yang miskin nilai. Tanpa upaya tersebut, generasi muda akan semakin rentan terhadap pengaruh negatif teknologi.
Menurut Ahmad, ada sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan ini. Pertama, literasi digital berbasis nilai. “Meningkatkan kemampuan generasi muda untuk memahami bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya terhadap pikiran dan perilaku mereka, serta bagaimana memilih sumber konten yang mendukung nilai Islam dan edukatif,” katanya.
Kedua, pembatasan keterpaparan teknologi. Menurutnya, pengaturan waktu penggunaan media sosial secara sadar dinilai perlu untuk mencegah kecanduan terhadap konten yang tidak produktif dan melemahkan daya pikir.
Ketiga, penguatan spiritual. “Memperkuat pendidikan agama dan praktik spiritual sebagai jangkar dalam menghadapi arus informasi yang cepat dan sering kali nihil nilai,” ujarnya.
Keempat, keterlibatan komunitas. Menurutnya, keterlibatan komunitas memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan generasi muda. Ruang diskusi dan komunitas yang sehat diperlukan untuk mendorong pembelajaran mendalam, refleksi nilai, serta kritik konstruktif terhadap konten digital yang dikonsumsi sehari-hari.
Pasalnya, sebut Ahmad, AI dan algoritma rekomendasi memiliki potensi besar membentuk cara berpikir, merasakan, dan menentukan arah hidup generasi muda.
“Tanpa kesadaran kritis dan mitigasi berbasis nilai, fenomena brain rot dapat melemahkan kapasitas intelektual, kesehatan mental, dan bahkan mengaburkan tujuan hidup generasi muda Islam yang seharusnya berakar pada iman dan tujuan spiritual,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat