Banyak Gen Z Takut Menikah, Siyasah Institute: Warning Serius Buat Negara

 Banyak Gen Z Takut Menikah, Siyasah Institute: Warning Serius Buat Negara

MediaUmat – Menyoroti fenomena banyaknya generasi muda (gen Z) takut miskin sehingga takut menikah, Direktur Siyasah Institute Iwan Januar menyatakan, hal tersebut merupakan peringatan serius buat negara Indonesia.

“Ini sebetulnya satu warning, satu warning buat pemerintah, buat negara. Kenapa saya katakan ini warning? karena menunjukkan bahwa ini satu hal yang perlu, wajib dan patut untuk diperhatikan,” ujarnya dalam Kabar Petang: Takut Miskin Jadi Faktor Banyak Gen Z Takut Menikah, Senin (22/12/2025) di kanal YouTube Khilafah News.

Sebab, jelas Iwan, penurunan angka pernikahan akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan penduduk. Kondisi ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi masa depan negeri.

“Kalau pernikahan itu turun, maka otomatis nanti pertambahan populasi juga itu akan menurun ya. Ini pada masa selanjutnya pada hitungan 10 atau mungkin 30 tahun ke depan ini menjadi ancaman untuk negeri kita ini,” jelasnya.

Rendahnya angka pernikahan, sebut Iwan, tidak hanya berdampak secara demografis, tetapi juga menimbulkan ancaman sosial yang lebih luas.

“Karena menurunnya pernikahan itu, itu kan ancaman sosial, ancaman secara populasi, ancaman kepada kehidupan berkelanjutan bangsa dan negara,” tegasnya.

Ketakutan Komitmen Ekonomi

Lebih lanjut, Iwan menilai, ketakutan gen Z untuk menikah erat kaitannya dengan persoalan ketakutan komitmen ekonomi. Pernikahan dipersepsikan sebagai beban yang menuntut kesiapan finansial.

“Logikanya gini, mereka itu ya karena kalau nikah itu kan harus komitmen. Komitmen memberikan nafkah,” katanya.

Sedangkan, hubungan pacaran dinilai tidak menuntut tanggung jawab yang sama. “Kalau pacaran kan enggak ada komitmen apa pun ya,” imbuhnya.

Iwan juga menyoroti meningkatnya hubungan di luar nikah di kalangan anak muda sebagai persoalan serius. Kondisi ini menunjukkan adanya degradasi moral sekaligus ancaman kesehatan.

“Nah, ini persoalan lagi sebetulnya ya. Berarti menandakan bahwa ada degradasi moral, ada kemudian juga nanti ancaman terhadap kesehatan reproduksi yang terjadi di tengah-tengah kalangan muda kita,” ulasnya.

Ia menyebut, berbagai data menunjukkan tingginya risiko penularan penyakit di kalangan usia muda.

“Dan itu sudah diberikan juga data oleh banyak pihak, termasuk para dokter yang bergerak di bidang penyakit kelamin, kandungan bahwa ternyata tingkat penularan penyakit kelamin di tanah air di kalangan usia muda belasan sampai 20 tahunan sampai 30 tahun itu cukup tinggi sekali,” bebernya.

Kekeliruan Prinsip Hidup

Menanggapi ketakutan finansial yang membuat pernikahan dianggap menakutkan, Iwan menilai, terdapat kekeliruan dalam prinsip hidup masyarakat.

“Ini memang persoalan masalah prinsip hidup sebetulnya ya yang ada di tengah-tengah anak muda kita dan juga masyarakat secara umum,” nilainya.

Ia menyebut pemahaman tentang rezeki telah terdistorsi oleh cara pandang sekuler. “Ketika bicara tentang finansial, maka itu memisahkan antara mereka bekerja dengan pemahaman akidah faktor rezeki dari Allah SWT,” ungkapnya.

Menurut Iwan, narasi di media sosial turut memperparah ketakutan terhadap pernikahan. “Dengan opini-opini yang dibangun oleh para influencer, memberikan narasi-narasi yang menciptakan bahwa nikah itu menakutkan,” ungkapnya.

Ia mengkritik maraknya opini yang disampaikan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi. “Bukan orang-orang yang berkompeten di bidangnya,” ketusnya.

Karena itu, ia menekankan perlunya upaya meluruskan pemahaman di tengah masyarakat. “Makanya kita harus memberikan counter narasi, counter opini yang harus meluruskan prinsip hidup yang sudah salah,” kata Iwan.

Selain peran masyarakat, ia menekankan harus ada tanggung jawab negara dalam menyikapi persoalan ini.

Iwan mempertanyakan kepedulian pemerintah terhadap kondisi sosial yang dihadapi generasi muda hari ini. “Problemnya negara ini aware enggak dengan itu? Negara kemudian peduli enggak dengan keadaan masyarakat?” tanyanya.

Sebab ia menilai terdapat jarak antara pemerintah dan realitas yang dialami rakyat.

“Saya berpikir bahwa hari ini pemerintah mereka hidup di dunia mereka, jadi beda universe (alam) dengan masyarakat ya,” pungkasnya.

Sebelumnya, akhir Oktober 2025 lalu media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan terkait anak-anak zaman sekarang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah.

Unggahannya itu viral hingga disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang oleh lebih dari 207.000 pengguna lainnya. Dalam kata lain mereka yang menyukai unggahan tersebut setuju dengan pendapat si pemilik akun.[] Muhar

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *