TEFI: Negara Belum Hadir Optimal Atasi Pengangguran
MediaUmat – Direktur The Economic Future Institute (TEFI) Dr. Yuana Tri Utomo menyatakan meningkatnya angka pengangguran sebagai bukti negara belum hadir secara optimal.
“Ini menunjukkan negara belum hadir optimal, kalau tidak mau disebut gagal, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama lapangan kerja luas,” tuturnya dalam Kabar Petang: RI Dilanda Krisis Lapangan Kerja, Banyak Sarjana Nganggur? di kanal YouTube Khilafah News, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, melonjaknya angka pengangguran dari tahun ke tahun seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Namun pemerintah masih terjebak program simbolis seperti pelatihan singkat, bantuan sementara, kampanye penciptaan kerja—seperti klaim 19 juta lapangan pekerjaan—yang hanya manis sebagai jargon politik.
“Ini tidak cukup. Tidak bisa mengubah struktur ekonomi yang justru menghasilkan pengangguran itu sendiri,” ujarnya.
Terjadinya pola yang sama terus berulang, menurut Yuana, karena pemerintah menjalankan sistem kerja kapitalisme. Maka solusinya pun harus sistemik. Program bansos, sertifikasi, pelatihan, industri, reformasi vokasi—itu hanya kedok politik.
“Rakyat tidak butuh permen. Harusnya diberi makanan yang memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak parsial,” tukasnya.
“Termasuk misalnya, harus ada langkah yang sifatnya politis juga karena ini problem sistemik,” imbuhnya.
Harusnya, sebut Yuana, solusinya secara sistematik juga yang menghadirkan perubahan struktural yang memang menuntut keberanian politik.
“Tidak hanya reformasi perindustrian, perbaikan kualitas tenaga kerja dengan pendidikan advokat, penguatan sektor manufaktur, pemberdayaan UMKM yang berbasis produksi, tidak hanya itu,” bebernya.
“Jadi memang tidak boleh terjebak di zona nyaman kekuasaan yang kemudian menjadi status quo. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” ungkapnya.
Ia memandang, orientasi pembangunan masih yang arahnya kapitalisme, yang ujung-ujungnya padat modal, bukan padat karya. “Ini kan semakin parah, apalagi di era digital atau otomatisasi kapitalisme global ini, Pemerintah jadi gagap menciptakan pekerjaan riil di tengah masyarakat,” paparnya.
Apalagi, lanjutnya, diperparah dengan dunia pendidikan yang seakan terputus dari ketenagakerjaan. Ganti menteri, ganti Kurikulum. Jadi tidak sinkron antara dunia pendidikan yang harusnya menghasilkan lulusan-lulusan yang terampil, memiliki kemandirian dalam membuat pekerjaan.
“Membuat loh yah, bukan menjadi pencari kerja tetapi justru membuat pekerjaan,” tegasnya.
“Sementara, industri itu yang dibutuhkan tenaga-tenaga terampil yang lebih spesifik. Jadi tidak ada keharmonisan bidang pendidikan dengan ketenagakerjaan,” terangnya.
“Makanya kemudian Solusinya tidak boleh parsial, harus paradigmatik. Yaitu solusi yang sifatnya sistemik. Ganti rezim, ganti sistem. Tetapi memang dibutuhkan perubahan paradigma, perubahan sistemik. Meninggalkan sistem kapitalisme, menerapkan sistem ekonomi Islam,” pungkasnya.[] Ajira
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat