Uni Eropa-AS Bertemu Taliban, Direktur IMuNe: Akrobat Politik Sedang Dimainkan

 Uni Eropa-AS Bertemu Taliban, Direktur IMuNe: Akrobat Politik Sedang Dimainkan

Mediaumat.news – Menanggapi Pertemuan Uni Eropa-AS dengan Taliban dan menjanjikan akan memberi bantuan US$1,2 M, Direktur Institute Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara menilai, AS dan Uni Eropa sedang memainkan akrobat politik.

“Jelas sekali AS dan Uni Eropa sedang memainkan akrobat politik dengan Taliban, tapi gerakan akrobat ini sangat sesuai dengan skenario exit strategy Amerika dari Afghanistan,” tuturnya kepada Mediaumat.news, Kamis (14/10/2021).

Menurutnya, pendekatan soft power dipilih Amerika untuk tetap mengontrol Afghanistan, dengan kekuatan diplomasi uang, agen-agen pembangunan baik NGO maupun PBB, serta mesin propaganda media yang siap mengontrol persepsi publik dunia soal identitas Islam Taliban.

“AS telah bernegosiasi dengan Taliban selama lebih dari satu dekade dan menandatangani kesepakatan damai dengan mereka. Bantuan 1,2 milliar $ itu tidaklah tulus, selain untuk mengamankan kepentingan ekonominya, AS hanya sedang mencoba untuk menghadirkan citra sebuah negara yang memiliki hubungan berbasis kondisi dengan Taliban,” ungkapnya.

Fika menilai, langkah mengeluarkan bantuan ini bagian dari rencana AS yang sengaja menciptakan krisis ekonomi di Afghanistan.

“Sejak Agustus, Amerika dengan sengaja memblokir akses ke cadangan dolar di bank-bank AS tempat IMF menahan $460 juta dalam pendanaan pandemik untuk Afghanistan. Padahal Afghanistan selama ini sangat bergantung pada transfer massal cadangan dolar dari AS. Langkah ini adalah bentuk upaya menekan Taliban agar tidak keluar dari jalur politik yang diarahkan Barat,” bebernya.

Menurutnya, propaganda Barat sengaja digunakan AS untuk menciptakan citra buruk Islam yang melekat pada Taliban. “Itulah kekuatan propaganda Barat dalam menciptakan citra buruk pada Islam yang melekat pada Taliban melalui isu hak-hak perempuan, HAM dan pemerintahan yang inklusif. Tapi lebih dari itu AS dan sekutu kawasannya sejak awal telah berusaha membatasi pengaruh politik dan militer Taliban melintasi batas nasionalnya, agar Taliban tidak memiliki agenda meluas keluar Afghanistan dan ironisnya sejumlah komandan militer Taliban bersedia melakukannya,” jelasnya.

Ia menyayangkan, Taliban lebih memilih bergulat di forum internasional untuk mendapat pengakuan dengan membatasi diri pada batas-batas negaranya saja daripada menerapkan ideologi Islam secara kaffah dan menyebarkan ajarannya dengan dakwah dan jihad di kawasan.  “Pilihan ini jelas akan menyebabkan Taliban akan mati pelan-pelan,” ungkapnya.

Fika mengutip ulasan dalam surat kabar Ar-Rayah edisi 360 yang mengungkap, seharusnya Taliban menyadari bahwa sejumlah kelompok Islam di seluruh dunia telah muncul sebagai pemenang dalam perjuangan militer, tetapi gagal dalam politik, pemerintahan, dan implementasi Islam.

Karena, kutip Fika dari Ar-Rayah, mengubah suatu sistem menjadi versi Islam tidak terjadi hanya dengan mengubah wajah (entitas penguasa) kecuali pertama, dasar dan keyakinan sistem itu berdasarkan Islam. Kedua, penguasa merebut tahta melalui kesetiaan dan kerelaan rakyat dan ketiga, penguasa hanya melaksanakan Islam dan menyebarkannya kepada bangsa dan kawasan lain.

“Jika ketiga syarat ini tidak terpenuhi, sistem yang disebut calon kekuatan Islam akan terus dipertanyakan dan mendapat sorotan serius,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *